Thursday, June 28, 2012

Kekaisaran Alexander yang Agung


Apa yang gagal dilakukan oleh bangsa Persia pada abad ke-5 SM, berhasil dilaksanakan oleh seorang jenderal Yunani pada abad ke-4 SM: pendirian sebuah kekaisaran yang sangat luas dan berkuasa yang mencakup Eropa dan Asia, dan membentang dari Yunani sampai India. Nama jenderal tersebut adalah Alexander. Kita mengenalnya sebagai Alexander yang Agung (356-323 SM).
Ayah Alexander, Philip II dari Macedonia, membuat seluruh wilayah Yunani berada di bawah kekuasaannya persis sebelum ia tewas dibunuh pada tahun 336 SM. Alexander muda bertumbuh dewasa di Athena, bukan hanya di balik bayang-bayang sang ayah, melainkan juga dibawah pengaruh seorang filsuf hebat, Aristoteles, yang sekaligus menjadi pembimbingnya. Alexander menggantikan ayahnya pada usia 20 tahun, seorang pria ditakdirkan untuk menjadi sangat luar biasa. Kendati Alexander hanya memerintah selama 14 tahun, semasa pemerintahannya ia mampu membangun sebuah kekaisaran yang lebih besar dari setiap kekaisaran yang pernah ada. Sesudah mengalahkan Darius III (558-486 SM) di Pertempuran Issus pada tahun 333 SM, Kekaisaran Persia porak-poranda. Tatkala Alexander berusia 33 tahun, wilayah yang diperintahnya berukuran 50 kali lebih besar dibandingkan kekaisaran yang ia warisi dari Philip II. Teritori mencakup Yunani, Mesir, semua bekas Kekaisaran Persia dan seantero dari apa yang kita namakan pada hari ini sebagai Timur Tengah. Ia sudah merambah ke utara sejauh Sungai Donau, ke timur sejauh Sungai Gangga di India, dan bahkan ia sudah mengirim sebuah ekspedisi untuk menemukan hulu Sungai Nil. Pada waktu wafatnya, 323 SM, ia dianggap sebagai jenderal dan pendiri kekaisaran terbesar yang pernah dikenal dunia. Bahkan sampai hari ini, hampir dua ribu empat ratus tahun kemudian, yang sanggup menyaingi pencapaiannya tidak lebih dari enam orang kaisar.
Akan tetapi, bahwa kekaisaran Alexander pada hakikatnya dinilai penting adalah karena untuk pertama kalinya, pertukaran gagasan secara bebas antara dua budaya yang berbeda berhasil dilaksanakan. Tidak seperti kebanyakan pemimpin yang lain yang berhasil meraih kemenangan, Alexander tidak hanya terbuka untuk menerima gagasan bangsa-bangsa yang sudah ditaklukannya. Ia pun memetik gagasan yang ia pelajari dari organisasi politik Persia. Sebaliknya, kesenian Yunani memperngaruhi kesenian India. Sebelum kematiannya yang dini namun alami pada usia 33 yahun, Alexander juga membangun kota Alexandria di Mesir, dengan perpustakaannya yang lengkap dibuka hingga seribu tahun lamanya dan berkembang menjadi pusat pembelajaran terhebat di dunia.

0 komentar:

Post a Comment