Thursday, June 14, 2012

Akhetaten, Bekas Ibukota Kerajaan Mesir Kuno yang Dilupakan

Akhetaten adalah yang dulu menjadi pusat kerajaan Mesir kuno selama 16 tahun (1352-1336 SM) setelah Luxor. Rajanya bernama Ikhnaton, ayah Tutankhamun yang muminya menghebohkan karena berhias 120 kg emas.

Ada cerita menarik di sekitar Firaun Ikhnaton sehingga dirinya memindahkan ibukota Luxor ke kota yang sama sekali baru, yang dinamai Akhetaten. Ternyata, firaun kesepuluh dari dinasti kedelapanbelas itu berpindah agama, dari agama pagan yang menyembah matahari ke agama tauhid yang menyembah Tuhan Yang Esa.
Ikhnaton terlahir dengan nama Amenhotep IV. Dia adalah anak Amenhotep III yang menyembah dewa matahari. Karena itu, namanya mengandung kata amun atau amen yang terkait dengan Amun Ra, sang Dewa Matahari. Dalam perjalanan spiritual, Amenhotep kemudian mengubah keyakinannya. Dia membelot dan mengubah namanya Ikhnaton, yang bermakna pelayan Tuhan Yang Esa. Tuhannya bukan lagi Amun, melainkan Aton, sang pencipta matahari. Menurut beberapa kalangan, Amenhotep berpindah agama karena dipengaruhi ibunya Qunty, yang konon keturunan Nabi Yusuf.
Dia lantas memindahkan ibukota Kerajaan Mesir dari Luxor ke Akhetaten, kota yang dibangun dari nol. Sebuah kota di pinggiran Sungai Nil yang indah. Di situlah Ikhnaton mengembangkan agama tauhid selama 15 tahun masa pemerintahannya, didampingi istrinya yang terkenal cantik dan baik hati, Ratu Nefertiti.
Di bawah kepemimpinan Ikhnaton dan Nefertiti, Mesir mengalami masa transisi, termasuk revolusi dalam beragama. Ciri kuil-kuil yang dia bangun di sekitar Akhetaten berbeda dengan Kuil Karnak dan Luxor yang cenderung gelap karena tertutup atap dan pilar-pilar raksasa. Kuil Ikhnaton bernuansa terang dengan filosofi membiarkan matahari menyinari ruang-ruang di dalamnya.
Tetapi, pemindahan ibukota kerajaan tersebut membuat para pendeta pagan yang menguasai Kuil Karnak dan Luxor geram. Karena itu, mereka mencari cara untuk menghalangi berkembangnya kekuasaan dan agama Ikhnaton. Momentum besar mereka dapatkan ketika Ikhnaton meninggal. Saat itu, anaknya, Tutankhaton, masih kecil. Dengan cerdik para pendeta pagan memengaruhi pejabat-pejabat kerajaan agar memilih menantu Ikhnaton yang bernama Smenkhkare sebagai pejabat sementara sambil menunggu Tutankhaton cukup umur.
Sekitar dua tahun masa transisi itu, Tutankhaton dilantik sebagai firaun dalam usia yang masih sangat muda, sembilan tahun. Para pendeta pagan yang berada di balik skenario tersebut bisa mengembalikan pengaruh agama pagan ke dalam istana. Maka, nama Tutankhaton diubah menjadi Tutankhamun. Kata Aton yang bermakna Tuhan Yang Esa diganti menjadi Amun yang bermakna dewa matahari. Sejak itu, ibukota kerajaan berpindah lagi ke Luxor. Tutankhamun tidak bertahan lama dalam kekuasaan tersebut. Dia mati secara misterius dalam usia yang masih sangat muda, 18 tahun. Dia dimakamkan di Lembah Raja, sebagaimana jenazah para firaun.
Sedangkan kota Akhetaten dibumihanguskan oleh para pendeta pagan, sehancur-hancurnya. Kota indah di tepi Sungai Nil itu kini hilang dari peta dan berganti menjadi Tell Al Amarna.

0 komentar:

Post a Comment