This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Wednesday, January 16, 2013

Revolusi Pertanian

Selama abad ke-18, bentang alam di berbagai bagian Eropa berubah dramatis, khususnya Inggris, ketika diperkenalkan metode pertanian baru dan lebih menguntungkan.
Metode pertanian Eropa tidak berubah selama berabad-abad. Namun pada abad ke-18, para pemilik tanah, ahli tanaman, dan peternak, terutama di Inggris mendiskusikan cara-cara yang lebih baik untuk mengelola pertanian dan meningkatkan hasil panen. Para ilmuwan meneliti cara menernakkan hewan, mengelola tanah, dan meningkatkan hasil panen. Berbagai kota dan industri bertumbuh semakin besar, sementara pertanian menghasilkan lebih banyak uang. Ketika keuntungan meningkat, para pemilik tanah semakin giat melakukan penelitian dan eksperimen. Semua ini mendorong terjadinya revolusi pertanian.
Jenis bajak baru dirancang. Pada tahun 1701, seorang petani Inggris, Jethro Tull menciptakan alat penyebar benih yang ditarik kuda. Ini memungkinkan benih ditabur secara mekanik dalam bentuk barisan untuk memudahkan menyiangan. Dengan melakukan rotasi tanaman, kesuburan tanah pun meningkat, sementara dengan pembiakan yang hati-hati, varietas hewan berkembang semakin baik. Semua metode ini membutuhkan investasi modal dan lahan pertanian yang besar.
Tahun-tahun Penting
1701
Jethro Tull menciptakan alat penabur benih untuk mempercepat penanaman
1730
Lord Townshend memperkenalkan sistem tumpang sari
1737
Carolus Linnaeus (1707-1778), ahli botani dan taksonomi Swedia, mengembangkan sistem klasifikasi tanaman
1754
Charles Bonnet menerbitkan studi mengenai nilai gizi dari berbagai tanaman
1804
Ilmuwan Prancis, Sussure, menjelaskan bagaimana tanaman tumbuh
Thomas William Coke (1752-1842), Earl of Leicester, adalah pemilik tanah yang kaya dan anggota Parlemen. Ia terkenal sebagai tokoh Revolusi Pertanian. Setiap tahun, Thomas Coke mengadakan konferensi di rumah pedesaannya, Holkham Hall, di mana para pemilik tanah dan peternakan datang untuk mendiskusikan berbagai metode pertanian. Coke sendiri menciptakan cara menernakkan varietas domba yang baru.
Bentang alam pedesaan mengalami perubahan besar selama abad ke-18. Di banyak wilayah di Inggris, lahan pertanian dibuka di tanah abad pertengahan yang terbuka dan luas. Penduduk desa menyewa bidang-bidang tanah itu. Mereka bekerja berdampingan dengan para tetangga. Sistem ini menyediakan cukup makanan bagi penduduk desa, tetapi tidak cukup untuk dijual ke penduduk kota guna mendapat keuntungan.
Undang-undang Pemagaran
Para pemilik tanah memutuskan bahwa ladang mereka dapat diolah lebih efisien jika dipagari. Pagar dan tembok dibangun di sekeliling ladang dibuka untuk membentuk unit-unit yang lebih kecil dan mudah dikerjakan. Undang-undang Pemagaran disahkan oleh Parlemen antara 1759 dan 1801. Peraturan ini menyebabkan tertutupnya lahan penggembalaan. Terdapat sekitar tiga juta hektar tanah yang dipagari di seluruh Inggris selama Revolusi Pertanian.
Banyak petani penyewa kehilangan pekerjaan dan dipaksa pindah ke kota. Dengan tanah yang luas, para tuan tanah kaya mendirikan rumah megah. Mereka juga membuat taman indah yang dikerjakan oleh para ahli taman yang terkenal seperti Lancelot Brown. Perubahan ini didukung oleh pemerintah, yang juga terdiri atas para tuan tanah. Namun, kebijakan ini menyebabkan penderitaan kaum petani biasa.

Perdagangan dengan Cina (1700-1830)

Perdagangan dengan Cina menguntungkan. Namun, pemerintah Cina tidak menginginkan masuknya pengaruh “orang barbar”. Pedagang Eropa harus mencari jalan lain untuk berdagang.
Sepanjang abad ke-18, sutera, katun, teh, pernis, dan porselen Cina sangat dihargai di Eropa, tetapi berharga mahal dan persediannya terbatas. Para pedagang Portugis, Inggris, Italia, dan Belanda berusaha memperluas perdagangan dengan Cina. Namun, para kaisar Cina yang mengontrol semua kontak antara rakyat dan orang asing tidak tertarik untuk membentuk hubungan. Qianlong (1711-1795), yang berkuasa selama 60 tahun, sejak 1735, adalah seorang filsuf-kaisar yang mendukung kesenian, penulisan puisi, dan mendirikan perpustakaan, tidak mau berhubungan dengan “orang barbar”. Persoalan bagi orang Eropa adalah mereka harus membayar semua barang dengan perak karena pedagang Cina tidak diperkenankan menukar barang asing dengan barang buatan Cina. Selain itu, orang Eropa hanya diizinkan berdagang di Guangzhou (Canton), di mana mereka dibatasi di gedung berbenteng, dan berdagang melalui perantara Cina. Para pedagang Eropa saling bersaing. Mereka berusaha mendapat barang terbaik Cina dan mengirimnya ke Eropa secepat mungkin untuk mendapatkan harga tinggi.
Perdagangan Opium (Candu)
Orang Eropa kemudian mencari cara lain untuk berdagang. Opium telah lama digunakan di Cina untuk pengobatan. Para pedagang menjalin hubungan dengan para penjual obat Cina, menjual opium dalam jumlah besar (5.000 barel per tahun selama 1820-an) dari negeri seperti Burma (sekarang Myanmar). Sebagai imbalannya, mereka mendapatkan barang-barang berharga Cina untuk dijual ke Eropa. Perdagangan meningkat pesat pada akhir abad ke-18. Pemerintah Dinasti Qing (Manchu) berusaha menghentikannya. Pada 1830-an, penggunaan opium menyebar ke seluruh Cina, membuat orang-orang menjadi malas, merusak masyarakat dan perekonomian, serta membuat Cina mengalami kerugian besar.
Dinasti Qing (Manchu)
Para kaisar Qing tidak tertarik membentuk perdagangan karena mereka memiliki masalah yang lebih mendesak di dalam negeri. Tahun-tahun perdamaian dan kemakmuran telah mendorong peningkatan jumlah penduduk (400 juta orang pada tahun 1800) sehingga terjadi kekurangan bahan pangan. Pajak tinggi, korupsi meningkat, sementara penduduk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.
Dinasti Qing sangat konservatif, terkucil, dan keras kepala. Akibatnya, terjadi protes dan pemberontakan, kerap diorganisasi oleh berbagai perkumpulan rahasia yang memiliki ambisi politik. Sekte Teratai Putih mengobarkan pemberontakan petani yang berlangsung dari tahun 1795 hingga 1804. Pemberontakan ini menyebabkan melemahnya rasa hormat rakyat terhadap Dinasti Qing. Sejumlah bangsa asing, yaitu Rusia, Jepang, Tibet, dan minoritas lainnya, serta orang Eropa di atas kapal layar cepat dan kapal meriam mereka, juga menggerogoti Cina.
Camput Tangan Orang Cina
Para kaisar Qing dibesarkan dengan keyakinan bahwa Cina adalah pusat dunia. Mereka melukiskan negeri mereka sebagai “Kerajaan Tengah, yang dikelilingi oleh bangsa-bangsa barbar”. Ketika seorang Duta Besar Inggris, Lord Macartney, pergi ke Beijing pada tahun 1793, Kaisar Qianlong menolak membahas perdagangan. Sejak itu, orang asing memutuskan untuk mencapai tujuan dengan cara lain. Perdagangan opium pun ditingkatkan. Pada tahun 1800, banyak orang Cina menghadapi kesulitan dalam segala segi kehidupan. Mereka mengisap opium seperi mengisap tembakau sebagai tempat pelarian. Ketika orang Cina berusaha menghentikan perdagangan opium pada tahun 1839, Inggris melawannya. Bahkan, kontrol Cina atas pasokan teh dunia mulai mendekati akhir. Selama era 1830-an, orang Inggris bernama Robert Fortune mencuri beberapa tanaman teh ketika mengunjungi Cina. Ia membawanya ke India dan mendirikan perkebunan teh di sana untuk menyaingi perkebunan teh di Cina.

Penjelajahan di Oseania

Penjelajahan di Oseania berlangsung lebih lambat dibandingkan penjelajahan di belahan dunia lainnya. Penjelajahan di kawasan ini antara lain dipelopori oleh Abel Tasman dan James Cook.
Selama abad ke-17, para pelaut Belanda menjalajahi bagian selatan Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Pada 1620-an mereka menemukan pantai utara dan barat Australia. Daerah baru itu mereka namakan “Belanda Baru”.
Pada tahun 1642, seorang Belanda bernama Abel Tasman (1603-1659) menemukan Pulau Tasmania (nama pulau itu diambil dari namanya). Ia berlayar dari Mauritius dan mengarah terlalu ke selatan sehingga tidak melihat Australia. Lebih ke timur, Tasman kemudian menemukan bagian selatan Selandia Baru. Setelah bentrok dengan penduduk Maori, ia kembali ke Batavia (Jakarta) di Hindia Timur Belanda (sekarang Indonesia), dimana dalam perjalanan ini ia menemukan Tonga dan Fiji. Pada tahun berikutnya, ia berlayar di sepanjang pantai utara Australia.
Pada tahun 1688 dan 1699, mualim Inggris William Dampier menjelajahi garis pantai barat dan barat-laut Australia. Para penjelajah ini membuktikan bahwa Australia adalah sebuah pulau. Namun, mereka tidak bermukim di sana. Pasifik masih belum dikenal karena terlalu luas dan miskin untuk menarik kepentingan dagang bangsa Eropa.
Jean-Francois La Perouse (1741-1788) dikirim oleh Raja Louis XVI untuk berlayar mengelilingi dunia dalam suatu ekspedisi ilmiah. Ia mengarungi samudera dengan awak yang terdiri atas para ilmuwan untuk membuat peta, serta mengamati dan mengumpulkan berbagai sampel ketika mengunjungi Kanada, Siberia, dan Australia. Kapalnya menghilang pada 1788.
Perjalanan Kapten Cook
Penjelajan ilmiah pertama di kawasan selatan ini dilakukan oleh Kapten James Cook (1728-1779) yang melakukan tiga kali perlayaran. Kapten Cook ditugaskan untuk berlayar ke Tahiti guna mengamati pergerakan Venus di depan Matahari. Setelah itu, ia secara rahasia dikirim ke selatan untuk membuat peta Selandia Baru dan Australia bagi kepentingan pemerintah Inggris. Pelayaran pertama (1768-1771) membawanya memutari Selandia Baru. Kemudian, ia mendarat di Teluk Botani di Australia, mengklaimnya sebagai milik Inggris. Dalam pelayaran kedua (1772-1775), ia menjadi penjelajah pertama yang mengunjungi Antartika. Namun, ia tidak dapat meneruskannya akibat terhambat bongkahan es. Kapten Cook menemukan manfaat sayuran dan buah-buahan bagi para pelautnya, yang dapat mencegah skorbut (yang disebabkan oleh kekurangan vitamin C). Ia juga membawa seniman yang terlatih dengan baik karena beranggapan bahwa berbagai penemuan harus dicatat seilmiah mungkin. Dalam pelayaran terakhir, yang dimulai pada tahun 1776, ia mengunjungi Tonga, Selandia Baru, Tahiti, dan akhirnya Hawaii, di mana ia terbunuh dalam perselisihan dengan penduduk setempat pada tahun 1779.
Tahun-tahun Penting
1642-1644
Pelayaran Abel Tasman ke Tasmania dan Selandia Baru
1688-1699
William Dampier menjelajahi garis pantai barat dan barat-laut Australia
1766-1768
Bougainvillle menemukan Polinesia dan Melanesia
1768-1771
Pelayaran pertama Kapten James Cook
1772-1775
Pelayaran kedua Kapten James Cook
1776-1779
Pelayaran ketiga Kapten James Cook
1829
Inggris menduduki seluruh Australia
1840
Inggris mengklaim Selandia Baru
Penduduk Pribumi
“Tanah baru” yang dijelajahi oleh Kapten Cook telah dihuni selama ratusan tahun. Orang Maori tinggal di Selandia Baru, sementara orang Aborogin di Australia. Kedua bangsa ini hidup menurut tradisi kuno. Dapat dimengerti apabila mereka khawatir terhadap Cook dan anak buahnya, orang Eropa pertama yang mereka lihat.
Orang Aborogin telah tinggal di Australia selama ribuan tahun. Mereka hidup dengan mengumpulkan makanan dan berburu, serta menggunakan pengetahuan mereka yang sudah maju akan alam. Mereka begitu berbeda dengan orang Eropa. Mereka mengalami benturan kebudayaan. Akibatnya, kebudayaan mereka hampir punah.
Orang Maori diperkirakan berlayar ke Aoteroa (sebutan orang Maori untuk Selandia Baru) dari Polinesia sekitar tahun 750. Mereka merupakan petani, pejuang, dan penduduk desa. Ketika orang Eropa memasuki wilayah mereka, mereka pun melawan.
Para pemukim pertama di Australia tiba pada tahun 1788. Mereka adalah para narapidana yang dikirim dari Inggris. Para pemukim yang bukan tahanan baru tiba pada 1793. Banyak di antara pemukim awal berasal dari Skotlandia, Irlandia, Wales. Mereka membawa penyakit yang kerap membunuh penduduk lokal yang tidak memiliki kekebalan tubuh untuk menghadapi jenis penyakit baru bagi mereka.

Penaklukkan Inggris Atas Kanada

Dua abad setelah Columbus membuka mata orang Eropa bahwa belahan bumi Barat itu eksis, negara-negara besar menetapkan wilayah kekuasaannya. Spanyol mengendalikan apa yang ada di sebelah selatan, wilayah yang sekarang bernama Amerika Selatan, kecuali Brazil, yang berada di bawah kekuasaan Portugis. Orang Inggris menuntut bagian timur dari wilayah yang sekarang bernama Amerika Serikat, dan Prancis mendominasi semua daratan sampai ke utara dan barat dari wilayah yang dikuasai Inggris.
Persaingan Inggris dengan Prancis
Barang-barang banyak ditemukan di wilayah sekeliling Great Lakes dan Sungai St. Lawrence, dan orang Prancis menemukan bahwa bulu hewan ini sangat berkualitas. Tidak lama kemudian terjadi banyak pertikaian antara orang Inggris dan Prancis mengenai perdagangan bulu hewan tersebut. Tahun 1670, Raja Charles II (1630-1685) menyewa perusahaan bernama Hudson Bay Company. Ini menandai permulaan dari upaya Inggris secara besar-besaran untuk menggali sumber-sumber daya di teritori sebelah utara Sungai St. Lawrence.
Tahun 1756, Perang Tujuh Tahun di Eropa mengadu kekuatan Inggris dan Prusia melawan Prancis, Austria, Rusia, Saxonia, dan kemudian Swedia. Perang tersebut mempunyai muatan kepentingan Inggris dan Prancis di Amerika Utara sebagai semacam hiburan selingan, namun berubah menjadi perang yang akhirnya menimbulkan akibat-akibat yang lebih jauh jangkauannya ketimbang pertikaian di Eropa.
Memperebutkan Kanada
Raja George II mengutus Jenderal James Wolfe (1727-1759) yang masih muda namun berotak cemerlang untuk mengepalai pasukan Inggris melawan Jenderal Marquis Louis Joseph de Montcalm (1712-1759) dari Prancis. Klimaks dari deklarasi perang Jenderal Wolfe adalah pertempuran untuk menguasai kota Quebec yang didiami bangsa Prancis. Pasukan Inggris berhasil dalam menutup rapat-rapat Sungai St. Lawrence untuk mencegah setiap pasokan air ke Quebec, namuan Jenderal Montcalm tetap percaya diri bahwa kota yang pertahanannya sudah sangat kuat tidak dapat ditaklukkan. Kuatnya pertahanan itu telah, bagaimanapun juga, menghalangi serangan-serangan Inggris pada tahun 1690 dan 1716. Pasukan Inggris mengejutkan pasukan Prancis dengan didakinya gunung-gunung yang tinggi di sebelah barat Quebec dan Inggris mengalahkan Prancis yang mempertahankan kota itu. Jenderal Wolfe sendiri tewas dalam serangan itu, namun rencananya tetap terwujud dan pasukan-pasukannya mampu merampas ibukota Kanada Prancis tersebut. Jenderal Montcalm juga tewas, dan ini membuat kontes itu menjadi unik dalam artian bahwa kedua jenderal yang memimpin tewas tatkala betul-betul sedang memimpin pasukan-pasukan mereka bertempur.
Kekalahan Prancis di Quebec meneguhkan Inggris tentan statusnya sebagai kerajaan yang adidaya dan paling unggul di antara sebagian besar wilayah Amerika Utara yang sudah didiami oleh bangsa Eropa. Walaupun demikian, penguasaan ini ditakdirkan berumur pendek, karena kegelisahan mulai timbul di 13 koloni sampai ke selatan Sungai St. Lawrence.

Pemberontakan Kaum Yakobit Skotlandia

Pada awal abad ke-18, kesengsaraan orang Skotlandia mendorong klaim keluarga Stuart atas takhta Inggris, memicu pecahnya dua pemberontakan orang Skotlandia.
Ketika Raja James II wafat pada 1688, keluarga Stuart kehilangan cengkraman atas takhta Inggris. Penduduk pegunungan Skotlandia menginginkan seorang Raja Skotlandia. Sementara itu, orang Inggris dengan sengaja berusaha menghancurkan sistem klan penduduk pegunungan, menuntut para laird (kepala klan) untuk berada jauh dari rumah mereka di Edinburg atau London. Akibatnya, para laird memerlukan lebih banyak uang sehingga mereka menaikkan sewa dan mulai mengusir penduduk. Ikatan kekeluargaan di berbagai klan hancur, dan anggota klan menjadi penyewa, tanpa hak sebagai anggota klan.
Di Inggris, Ratu Anne wafat pada 1714. Sepupunya, George dari Hanover (Jerman) menjadi raja baru. George adalah buyut James I dari Inggris yang Protestan, tetapi ia orang asing. Beberapa pihak merasa James Stuart yang berdarah Skotlandia memiliki hak lebih besar. Ia bukan hanya anggota keluarga Stuart, tetapi juga seorang Katolik. Selain itu, banyak orang Skotlandia tidak senang karena negeri mereka disatukan dengan Inggris untuk membentuk United Kingdom (Kerajaan Bersatu) pada 1707. Kaum Yakobit menyerbu Inggris pada 1715, tetapi dikalahkan di Preston, Lancashire.
Kaum Yakobit mendukung James Stuart. Mereka merencanakan pemberontakan di Inggris dari Skotlandia, tetapi gagal. James Stuart kembali dari Prancis, tetapi terlambat: 26 prajurit dihukum mati dan 700 lainnya dikirim ke Hindia Barat sebagai hukuman. Pada 1745, terjadi pemberontakan lainnya. Anak James, Charles Edward Stuart, yang dikenal sebagai “Bonnie Prince Charlie”, secara diam-diam mendarat di barat-laut Skotlandia dan memimpin pemberontakan ’45. Setelah menaklukkan Skotlandia, tentaranya menyerbu Inggris. Mereka mencapai Derby, tetapi tidak dapat bergerak lebih ke selatan. Pada 1746, kaum Yakobit dikalahkan dalam pertempuran di Culledon.
Bonnie Prince Charlie melarikan diri, kembali ke Prancis dengan menyamar. Inggris menguasai Dataran Tinggi, dan pembalasan mereka secara kejam. Para laird Dataran Tinggi dihukum mati dan anggota klan dilarang mengenakan kilt (rok Skotlandia) maupun memainkan bagpipes (alat musik tradisional Skotlandia). Selama bertahun-tahun, tanah klan secara paksa dikosongkan dari penghuni untuk dijadikan lahan merumput bagi kawanan domba, guna memperoleh uang dengan memasok wol ke Inggris. Anggota klan dikirim untuk tinggal di sejumlah kota, Ulster atau wilayah koloni.

Pemberontakan di Amerika Latin

Ketika Eropa bertempur dalam Perang Napoleon, para pemukim di Amerika Latin menjadi semakin gelisah. Mereka memperkuat gerakan kemerdekaan.
Sejak Portugal dan Spanyol membagi Dunia Baru di antara mereka pada 1494, mereka menguasai wilayah jajahan yang sangat luas di Amerika Tengah dan Selatan. Selama berabad-abad, wilayah koloni ini menderita akibat pemerintahan orang Eropa. Pada 1807-1808, Napoleon memasuki Portugal dan Spanyol. Kedua negara ini menjadi medan pertempuran antara pasukan Inggris, Spanyol, dan Portugal melawan pasukan Prancis. Periode kekacauan ini memberi kesempatan bagi wilayah koloni untuk memulai perang kemerdekaan pada tahun 1808 dan menolak menerima saudara Napoleon, Joseph, sebagai Raja Spanyol baru dan sebagai penguasa mereka.
Kemerdekaan
Argentina menyatakan kemerdekaan dari Spanyol pada 1810, diikuti oleh Paraguay pada 1811. Peru mendapat kemerdekaan dari Spanyol pada 1821, demikian pula dengan Meksiko di tahun yang sama. Brazil akhirnya memisahkan diri dari Portugis pada 1822. Venezuela merdeka pada 1830. Gerakan kemerdekaan di Amerika Selatan berutang banyak kepada dua orang pemimpin yang bersemangat, Simon Bolivar (1783-1830) dan Jose de San Martin (1778-1850). Keduanya terinspirasi oleh pemikiran dalam Revolusi Prancis.
Simon Bolivar mengusir orang Spanyol dari Kolombia dan Venezuela. Ia lalu bergabung dengan San Martin untuk membebaskan Peru. Ia menjadi presiden Republik Gran-Kolombia, tetapi tidak berhasil mencegah perpecahan negara itu pada 1830. Jose de San Martin adalah revolusioner yang bergabung dalam gerakan kemerdekaan Argentina. Ia memimpin pasukan menyeberangi Pegunungan Andes ke Cile, dan membebaskannya pada 1818. Pada 1820, ia merebut Lima, Peru.
Pada 1819, Bolivar dan para aristokrat Venezuela lainnya mengalahkan Spanyol di New Granada (Kolombia) dan Peru. Pada 1824, Bolivar bertemu dengan San Martin. Pada 1826, Bolivar memproklamirkan Republik Gran-Kolombia (Venezuela, Kolombia, Ekuador, dan Panama), tetapi republik ini kemudian terpecah-belah. Pada 1825, Peru Hulu menggunakan nama Bolivia sebagai penghormatan terhadap Bolivar. Baik Bolivar maupun San Martin berjuang dalam keadaan yang sangat sulit.
Antara 1808 hingga 1830, 13 koloni bekas koloni di Amerika Selatan meraih kemerdekaan. Meski merdeka, keadaan tidak benar-benar berubah kerena kekuasaan masih dipegang oleh para pemilik perkebunan.

Modernisasi Rusia

Para penguasa yang menggantika Peter yang Agung menempuh strategi westernisasi dan perluasan wilayah. Ini menjadikan Rusia sebuah kekuatan besar di Eropa.
Ketika Peter yang Agung wafat pada 1725, istrinya menjadi Tsarina Catherine I. Namun, Catherine I wafat setelah memerintah selama beberapa tahun. Anna Ivanovna memerintah selama 10 tahun sejak 1730, melanjutkan kebijakan pro-barat Peter dan menyambut banyak orang asing di istana. Rakyat Rusia menderita karena para teman tsarina di St. Petersburg lebih peduli musik, puisi, dan berperang melawan Ottoman atau di Eropa, dibanding memperhatikan nasib para petani.
Sejak tahun 1741, putri Peter, Elizabeth (1709-1762) membuat Rusia semakin memandang ke Barat dan menjadi negara industri. Ia lalu menyatakan perang terhadap Prusia selama Perang Tujuh Tahun. Tsarina Elizabeth memaksa Peter, pewaris takhta Rusia, untuk menikah pada 1745. Istrinya Catherine (1729-1796), berasal dari keluarga bangsawan Prusia yang miskin. Seperti kebanyakan wanita pada zaman itu, Catherine harus menerima perjodohan. Ketika Elizabeth wafat pada 1762, Peter III memerintah sebagai tsar selama setengah tahun.
Catherine II, yang Agung
Peter III adalah seorang yang lemah. Ia dipandang rendah oleh Catherine. Enam bulan setelah dinobatkan, Peter terbunuh dalam suatu pertengkaran. Catherine menyatakan dirinya sebagai tsarina dan menggantikan suaminya. Sekalipun cerdas dan anggun, Catherine menampakkan pribadi yang kejam dalam kehidupan publik.
Untuk menopang peperangan dan kehidupan istana yang boros, Catherine menarik pajak tinggi dan memaksa para pemuda untuk ikut bertempur. Ia merencanakan pembaharuan pendidikan dan kondisi sosial, tetapi hanya sedikit pejabat berpendidikan yang dapat melaksanakannya. Catherine meminta bantuan kaum bangsawan. Sebagai upah, ia menambah kekuasaan para bangsawan. Sementara itu, kondisi para petani semakin memburuk. Kondisi ini menyebabkan munculnya Pemberontakan Pugachev pada 1773-1774 yang dipimpin oleh Pugachev. Para pemberontak merebut kota Kazan. Pugachev menjanjikan penghapusan tuan tanah, perbudakan, pajak, dan dinas militer. Namun, Pugachev dan pengikutnya ditumpas dengan kejam.
Tahun-tahun Penting
1741
Elizabeth menjadi tsarina
1756-1763
Rusia terlibat dalam Perang Tujuh Tahun
1761
Catherine yang Agung menjadi tsarina
1772
Pembagian pertama Polandia
1783
Rusia menduduki semenanjung Crimea
1792
Rusia merebut daaerah pantai Laut Hitam
1793-1795
Pembagian kedua dan ketiga Polandia
1796
Kematian Catherine yang Agung
Kebijakan Luar Negeri
Komisi pembaharuan, terdiri atas para menteri yang ditugaskan Catherine pada 1760-an, gagal menjalankan tugasnya. Karenanya, Catherine memilih pemerintahan yang otokratik, membagi negeri menjadi sejumlah wilayah, masing-masing diperintah oleh para bangsawan.  Ia membiarkan para bangsawan menangani urusan dalam negeri Rusia.
Keinginannya untuk mendapatkan kejayaan tampak dari cara ia memperluas wilayah Rusia. Strategi perluasan ini dirancang oleh dua menterinya, Count Alexander Suvarov dan Grigori Potemkin. Di bagian utara dan barat, wilayah baru diperoleh melalui peperangan dengan Swedia pada tahun 1790. Wilayah Polandia diperoleh ketika negeri itu pecah, memberi Rusia pelabuhan laut yang penting di Laut Baltik.
Di selatan, Rusia merebut Azov. Rusia juga merebut Laut Hitam dari tangan orang Ottoman, kemudian Crimea, dan seluruh pantai utara Laut Baltik pada 1792. Rusia membangun sebuah angkatan laut yang kuat di kawasan ini. Di timur, Rusia perlahan menguasai Siberia.
Catherine adalah seorang yang kejam. Anggota istana dihukum cambuk, sementara petani yang berani mengeluh atas kesengsaraan mereka akan dihukum. Banyak orang miskin mengalami kelaparan. Namun, Catherine tetap mengumpulkan pajak tinggi untuk mendanai perang dan gaya hidupnya yang mewah.

Masa Kejayaan Napoleon Bonaparte

Sejak kurun waktu pemerintahan para kaisar sampai era Adolf Hitler, tak ada seorang pun, bahkan juga tidak kaisar-kaisar Romawi Suci, yang mendominasi Eropa dengan begitu menyeluruh seperti Napoleon Bonaparte (1769-1821).
Awal Karier Napoleon
Selama jangka waktu 10 tahun, antara tahun 1789 dan 1799, Prancis pada hakikatnya diperintah oleh penguasa, yang tidak menjalankan undang-undang, atau oleh komite. Semasa jangka waktu tersebut, Napoleon serta merta menjadi jenderal muda yang cepat menanjak dalam Angkatan Darat Republik Prancis dan ia dianggap menjadi tokoh politik yang kuat yang harus bangkit pertama kali di Prancis setelah kegamangan yang mengikuti revolusi. Napoleon, yang sudah meraih serangkaian kemenangan yang cemerlang melawan pasukan Austria di Italia, menyerbu Mesir pada tahun 1798 dan maju menuju Kairo dan kemudian Yerusalem. Peristiwa-peristiwa ini amat mengilhami rakyat Prancis, dan ketika Napoleon kembali ke Prancis pada tahun 1799, ia diakui sebagai pahlawan nasional.
Sementara itu, selama satu dekade Prancis tidak memiliki pemimpin tunggal. Sedangkan Directoire, lima serangkai yang memerintah negara itu, bersikap lemah, tidak efektif, dan hampir tumbang. Maka, Napoleon adalah pilihan yang wajar untuk memimpin negara tersebut. Nopember 1799, Directoire digantikan dengan Consulate di mana Napoleon menjadi konsul pertama. Kendati ia penguasa atas pemerintahan Prancis, ia terus memimpikan sebuah kekaisaran sejaya Kekaisaran Charlemagne (bahasa Prancis: Charles yang Agung).
Masa Keemasan Napoleon
Napoleon menjalankan tugasnya sebagai konsul pertama sampai tahun 1804. Sebagai dampak dari popularitasnya yang sangat besar, bangsa Prancis—yang telah menggunlingkan raja-raja Bourbon pada tahun 1792—mengizinkan dia untuk mengubah bentuk Consulate menjadi sebuah kekaisaran. Napoleon mengundang Paus untuk memahkotai dia sebagai Kaisar Prancis di Katedral Norte Dame, Paris, pada 18 Mei 1804. Walaupun demikian, ketika momen klimaks itu tiba, Napoleon mengambil mahkota itu dari tangan Paus dan menaruhkan sendiri mahkota itu di atas kepalanya. Menurutnya, tidak ada seorang pun yang berhak melakukannya.
Napoleon serta merta membangun Kekaisaran Prancis. Ia sudah menguasai Prancis, Belanda, dan Italia, namun ditentang oleh Austria, Inggris, Rusia, dan Prusia. Ia merancang sebuah penyerbuan ke Inggris, di mana ia dipaksa untuk membatalkannya, tetapi ketika ia menghadapi pasukan Angkatan Darat Rusia dan Austria di Austerlitz, bulan Desember 1805, adalah taktik-taktiknya yang tampak pada hari itu. Napoleon terus meraih serangkaian kemenangan yang menakjubkan yang mencakup penaklukkan pasukan Prusia di Jena pada tahun 1806 dan pasukan Austria di Friedland, tahun 1807. Sejauh itu, Napoleon sudah mencapai sasarannya untuk menguasai sebuah wilayah di Eropa yang bahkan lebih luas dari Kekaisaran Charlemagne dengan cara yang efektif. Ia kemudian mendominasi Prancis, Polandia, Italia, dan semua wilayah diantaranya, termasuk Austria dan seantero negara-negara Jerman semasa Kekaisaran Romawi Suci.
Surutnya Napoleon
Inggris tetap merupakan musuh utama. Meskipun Napoleon mampu memangkas semua perdagangan Inggris dengan Eropa daratan, ia tidak pernah mampu untuk menghentikannya secara total. Tahun 1810, ketika pasukan Rusia menolak untuk bergabung dengan pemblokiran yang ia lakukan, ia memutuskan untuk menyerbu Rusia. Ia betul-betul berupaya merebut Moskwa pada bulan September 1812, namun setelah cuaca musim dingin yang menusuk tulang mengancam pemasokan bahan makanan, ia terpaksa mundur. Malapetaka yang dialami pasukan Napoleon merupakan permulaan dari akhir pemerintahan Napoleon yang kuat. Sekutu-sekutunya maupun negara-negara yang menjadi bagian dari kekuasaannya mulai bangkit memberontak. Ia dipaksa untuk menarik diri dari Austria dan Jerman, dan kekaisarannya pun tumbang. Tanggal 11 April 1814, ia turun takhta dan dipaksa untuk tinggal dalam pembuangan di Pulau Elba. Kaisar yang dulu pernah memerintah sebagian besar Eropa sekarang dipaksa untuk menjadi penghuni sebuah pulau kecil yang berbatu-batu.
Walaupun begitu, sumbangsih terbesar Napoleon adalah Kode Napoleon, sebuah struktur modern untuk hukum-hukum sipil yang tetap menjadi dasar hukum Prancis sampai hari ini.
Kebangkitan Kembali Napoleon
Setelah mengalami kejayaan salama lebih dari satu dekade, jatuhnya Kekaisaran Prancis dan pembuangan Napoleon pada tahun 1814 membuat Prancis berada dalam keadaan kisruh seperti kondisi yang dialami semasa revolusi. Yang menajubkan, pada kondisi ini monarki Bourbon dipulihkan, namun Raja Louis XVIII hanya memerintah selama 10 bulan.
Semasa dalam pembuangan, Napoleon merasa resah, dan kembali ke Prancis. Ia disambut di Paris dengan tangan terbuka, sebagian besar disebabkan oleh nostalgia, sebab ia melambangkan masa lalu Prancis yang jaya. Sejak 10 Maret 1815, selama 100 hari yang singkat, rakyat Prancis tampak memutar jam kembali ke satu abad sebelumnya.
Akan tetapi, pesaing-pesaing lamanya, terutama Inggris, tidak semuanya merasa senang bahwa Napoleon kembali menduduki takhta. Napoleon tahu bahwa ia akan segera diserang dan bahwa ia harus bergerak cepat seandainya ia ingin memulihkan kekaisarannya. Ia harus mengambil langkah untung-untungan bahwa sebuah kemenangan besar akan membuat negara-negara di Eropa runtuh seperti sederet kartu domino.
Pertempuran Terakhir Napoleon
Sebuah kekuatan yang terdiri dari Inggris, Prusia, dan Belanda yang dikomandani oleh seorang jenderal Prusia yang bernama Gebhart Leberecht von Blücher (1742-1819) dan seorang jenderal Inggris, Arthur Wellesley, Duke of Wellington (1769-1852), sudah berkumpul di Belgia. Awalnya, semua berlangsung baik bagi Napoleon. Pasukanya yang besar dan diperlengkapi persenjataan canggih menimbulkan keretakan antara Jenderal von Blücher dan Duke of Wellington, dan mengalahkan pasukan Prusia di Ligny, pada tanggal 16 Juli 1815. Pasukan Inggris mundur ke sebuah desa kecil di persimpangan jalan yang bernama Waterloo, di mana Napoleon ditangkap bersama mereka pada tanggal 17 Juli. Napoleon bersiap-siap untuk menyerang Duke of Wellington pada tanggal 18 Juli, namun hujan yang turun malam sebelumnya mempersulit meriam-meriamnya untuk bergerak sebagaimana seharusnya. Akhirnya Napoleon menyerang pada pukul 11 pagi dan pertempuran itu berkobar selama 10 jam. Sisa pasukan Jenderal von Blücher bergabung dengan Duke of Wellington pada sore harinya, dan ini berguna untuk mengubah kedudukan. Esok paginya, 19 Juli, pasukan Prancis dikalahkan, dan 50.000 prajurit tewas dan sekarat hampir mati. Napoleon sendiri mundur ke Paris, di mana ia turun takhta, untuk kedua kalinya, empat hari kemudian. Ia menyerah kepada pasukan Inggris dan dibawa ke Pulau St. Helena di Samudera Atlantik Selatan di mana ia menetap sampai meninggal dunia akibat penyakit kanker, 8 Mei 1821.
Waterloo menjadi salah satu titik balik besar dalam sejarah Eropa, karena seandainya Napoleon menang, ia memiliki kesempatan yang baik untuk mendirikan kembali kekaisarannya dan, sekali lagi, menjadikan Prancis sebuah negara yang dominan di Eropa—dan boleh jadi di dunia—sepanjang sisa abad ke-19.
Sebagaimana yang pernah terjadi, Prancis tidak akan pernah mendapatkan kembali kekuasaan serta pengaruh yang telah dinikmati di bawah pemerintahan Napoleon. Ia sudah membuat Kekaisaran Prancis kalah di Eropa dan bahkan ia telah menjual sebuah wilayah yang lebih luas—Louisiana—di Amerika Utara kepada Amerika Serikat. Waterloo menandai dari Pax Britannica, sebuah periode yang berlangsung selama lebih dari satu abad di mana Inggris memerintah sebagai negara adidaya nomor satu di dunia.

Lahirnya Amerika Utara Modern

Sepanjang abad ke-16, Dunia Baru yang “ditemukan” Columbus pada tahun 1492 menjadi objek dari gerombolan ekspedisi dan upaya Eropa dalam hal mengembangkan penjajahan. Orang Spanyol dan Portugis adalah bangsa yang pertama kali membagi dua wilayah di sebelah selatan Kepulauan Hindia Barat (bangsa Portugis menerima apa yang kini adalah Brazil dan Spanyol hampir setiap wilayah lainnya). Penjelajahan Hernando Cortez memperoleh tempat berpijak di Meksiko dan menjarah Amerika Selatan pada awal abad ke-16. Kemudian, pada abad yang sama, orang Spanyol juga tiba di Florida. Sementara itu, orang Belanda dan Prancis mendirikan basis pertahanannya lebih jauh ke utara di suatu wilayah yang sekarang adalah bagian dari Amerika Serikat dan Kanada. Meskipun belum terlaksana sampai sesudah permulaan abad ke-17 bahwa penjajahan mereka yang pertama dimulai dari apa yang sekarang dikenal sebagai Amerika Serikat, orang Inggris kemudian membuka jalan-jalan masuk yang sangat besar ke Amerika Utara.
Para Penjelajah Amerika Utara
Tahun 1497, John Cabot (1450-1499) adalah orang pertama yang menjelajahi pantai Amerika Utara atas nama pemerintah Inggris, dan Sir Francis Drake (1540?-1596) meneliti banyak garis pantai belahan bumi Barat sesudah tahun 1572, namun para penjelajah Inggris mula-mula itu merasa kurang tertarik pada Dunia Baru itu sendiri. Mereka lebih suka menciptakan sebuah rute perdagangan lewat laut menuju Cina.
Seorang pemburu kekayaan berkebangsaan Inggris yang hebat, Sir Walter Raleigh (1554-1618), berharap akan menemukan emas di Amerika Utara sebagaimana yang dialami orang Spanyol di Amerika Selatan. Namun, ia gagal dalam setiap upayanya, baik untuk menemukan lokasi emas maupun dalam usaha-usahanya sepanjang tahun 1584-1587 untuk membukan sebuah jajahan Inggris yang permanen. Meskipun demikian, ia menuntut sebagian kecil dari pantai Atlantik bagi Inggris, menamainya Virginia untuk mengenang Ratu Elizabeth I yang merupakan sahabatnya.
Para Pemukim Awal
Tahun 1607, orang Inggris akhirnya menanam benih yang berkembang menjadi bangsa berbahasa Inggris terluas di dunia. Kapten John Smith (1579?-1631) memutuskan untuk menetap di Jamestown (nama ini diambil dari nama Raja James II) di wilayah kekuasaan Virginia. Proses pemukiman ini nyaris gagal beberapa kali, namun penduduk Jamestown yang dijajah tersebut bertahan, dan pada tahun 1619 mereka melantik dewan perwakilan rakyat yang pertama di Amerika Utara, yang merintis pemerintahana yang kemudian berkuasa.
Suatu pemukiman lain dibangun di Plymouth, tahun 1620, di sebuah wilayah yang sekarang menjadi Massachusetts, oleh kelompok warga Inggris yang menyebut diri mereka sebagai Pendatang. Melarikan diri dari apa yang mereka pahami sebagai penganiayaan politis terhadap sekte agama yang mereka anut, para Pendatang itu berangkat ke Amerika dengan menumpang kappa mereka yang bernama Mayflower untuk mendirikan sebuah kawasan pemukiman di mana mereka dapat beribada sesuai keinginan mereka tanpa campur tangan pemerintah. Plymouth dinilai penting kerena tempat ini menjadi tempat pemukiman pertama orang Amerika Utara yang berhasil didirikan oleh orang-orang Eropa kebanyakan tanpa izin tertulis dari pemerintahan Eropa.
Selama 300 tahun berikutnya, apa yang dimulai oleh sekelompok pemukin yang tekun di Jamestown dan Plymouth menjadi kekuatan paling besar di dunia di bidang politik dan ekonomi.

Habeas Corpus

Hak-hak warga negara dalam kaitannya dengan raja dan pemimpinnya beraneka ragam dari abad ke abad. Orang Yunani melembagakan sebuah bentuk demokrasi di mana hak-hak warga negara menjadi agak luas, namun sebagian besar penguasan memerintah dengan keyakinan bahwa ucapan mereka adalah hukum. Kondisi ini sedikit berubah di Inggris ketika Raja John menandatangani Magna Carta, tahun 1215. Magna Carta menyatakan bahwa “tidak ada orang merdeka yang dapat dipenjarakan kecuali oleh hukuman yang sah dari rekan-rekannya dan hukum negara”. Prinsip yang mendasari pernyataan ini adalah apa yang dikenal sebagai Habeas Corpus, yang merupakan frase dalam bahasa Latin untuk kalimat “Anda harus memiliki tubuh”. Artinya, seseorang tidak dapat dipenjarakan atau ditangkap dengan semata-mata tanpa bukti bahwa ia telah berbuat salah.
Tahun 1628, Raja Inggris, Charles I (1600-1649), menyatakan negara dalam keadaan perang dan menggunakan prinsip Hak Ilahi Raja-raja untuk memenjarakan anggota-anggota pihak oposisi. Para pengacara mereka bersumpah berdasarkan perintah yang tertuang dalam Habeas Corpus, namun para pelaku pemenjaraan menyatakan bahwa orang-orang itu ditangkap atas perintah khusus dari raja. Hakim meninggikan raja sedemikian rupa sehingga raja adalah hukum. Namun, tidak sampai tahun 1679, tidak lama setelah pemulihan kerajaan pada tahun 1660, Parlemen memaksa Charles II untuk menerima Habeas Corpus sebagai sebuah undang-undang yang spesifik.
Hari ini, sistem hukum yang dijalankan oleh sebagian besar bangsa-bangsa demokratis di dunia mendukung prinsip Habeas Corpus. Undang-undang Dasar Amerika Serikat mendeklarasikan bahwa “hak istimewa dari perintah yang tertuang dalam Habeas Corpus tidak boleh dikesampingkan, kecuali, dalam kasus-kasus pemberontakan atau penyerbuan, keamanan publik mengharuskannya”. Hak istimewa itu dikesampingkan oleh Presiden Abraham Lincoln semasa Perang Sipil Amerika. Awalnya, langkah ini didukung oleh Dewan Perwakilan Rakyat, namun pada tahun 1863, Dewan Perwakilan Rakyat mengusulkan untuk memberi wewenang itu kepada presiden.
Habeas Corpus merupakan salah satu prinsip paling fundamental dalam sistem pengadilan kriminal. Ia mengatur setiap tindakan polisi dan jaksa penuntut umum, sekalipun biasanya tidak dinyatakan secara spesifik.