This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Sejarah Asia. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Asia. Show all posts

Friday, February 28, 2014

Revolusi Cina

Menyusul kejatuhan Dinasti Manchu pada tahun 1911 dan pendirian Republik Cina, negara ini terlibat dalam perang sipil yang berkepanjangan.
Pihak oposisi melaksanakan Revolusi Cina pada 1911 dan meruntuhkan pemerintahan Dinasi Manchu. Pemimpin revolusioner, Sun Yat-sen (1866-1925), diangkat sebagai presiden provinsial. Republik Cina didirikan pada 12 Pebruari 1912, sekaligus penurunan takhta pemerintahan imperial. Kepresidenan Sun Yat-sen tidak berlangsung lama, yaitu hanya tiga hari akibat kurang mendapat dukungan. Cina kemudian diperintah oleh pemimpin militer, Yuang Shikai, sampai wafatnya pada 1916, ketika situasi politik di negara itu mulai terpecah.
Para pengikut Yuang Shikai membentuk pemerintahan di Beijing sementara Partai (nasionalis) Kuomintang Sun Yat-sen membentuk pemerintahan tandingan di Kanton (Guangzhou). Sepuluh tahun selanjutnya, Cina terlibat dalam perang sipil. Terjadi demonstrasi mahasiswa menentang isi Perjanjian Versailles pada 1919, ketika Jepang mengambil alih koloni Jerman di Cina, yang memicu pendirian Partai Komunis Cina pada tahun 1921. Dengan bantuan Uni Sovyet, Sun Yat-sen mengorganisasi ulang Partai Kuomintang. Dalam kebijakannya, ia menginzinkan anggota Partai Komunis untuk bergabung. Ketika Sun Yat-sen wafat pada tahun 1925, kepemimpinan Cina dan Partai Kuomintang dilanjutkan oleh Chiang Kai-shek.
Perang Sipil Cina
Pada 1926, Chiang Kai-shek melancarkan ekspedisi melawan para tuan tanah di utara yang ingin menggulingkan pemerintahan nasionalis. Ekspedisi ini dibantu oleh Partai Komunis Cina. Bersama-sama, mereka mengalahkan para tuan tanah. Namun pada 1927, aliansi Komunis dan Kuomintang berakhir. Kedua kubu mulai saling bertarung. Pertempuran ini dikenal sebagai Perang Sipil Cina. Chiang Kai-shek menetapkan ibukota negara di Nanjing (Nangking) pada tahun 1927. Pada tahun yang sama, Chiang Kai-shek menghalau Partai Komunis untuk keluar dari Shanghai dan memaksa mereka melarikan diri ke perbukitan Jiangxi. Kaum Nasionalis mengklaim telah menyatukan Cina, meskipun sebenarnya mereka belum sepenuhnya menguasai seluruh negara.
Mao Zedong
Pada 1931, memanfaatkan pergolakan yang timbul di Cina, Jepang menduduki Manchuria dan mendirikan negara boneka Manchukuo pada 1932. Sementara itu, kaum komunis membentuk pemerintahan tandingan (Jiangxi Sovyet) di Cina bagian selatan pada 1931. Pada tahun yang sama, Mao Zedong menjadi ketua Jiangxi Sovyet. Partai komunis membangun angkatan bersenjata di Jiangxi, dan berhasil bertahan dari empat kali percobaan pengusiran oleh kaum Kuomintang. Pada Oktober 1933, Chiang Kai-shek melancarkan serangan besar melawan kaum komunis dengan tujuan memusnahkan mereka. Kaum komunis bertahan selama satu tahun. Lalu pada Oktober 1934, sekitar 100.000 anggota kaum komunis meninggalkan Jiangxi dan melakukan long march.
Akhir Perjanjian
Mao Zedong memimpin long march yang menempuh hampir 10.000 kilometer hingga mencapai Yan’an, Provinsi Shaanxi di Cina bagian utara. Perjalanan itu berlangsung sampai Oktober 1935. Hanya sekitar 20.000 dari 100.000 peserta dapat bertahan hingga tujuan. Long march ini menjadikan Mao Zedong (1893-1976) sebagai pemimpin kaum komunis Cina.

Sunday, December 8, 2013

Sejarah Asia Tenggara Abad ke-19

Asia Tenggara didominasi oleh kekuasaan Belanda, Prancis, dan Inggris pada akhir abad ke-19. Para penjajah bertambah kaya berkat keuntungan dari hasil panen yang ditanam oleh penduduk lokal.
Bangsa Eropa yang menjajah Asia Tenggara, mendirikan banyak perkebunan yang memekerjakan para penduduk lokal. Indocina yang meliputi Kamboja, Laos, dan Vietnam merupakan koloni Prancis. Prancis menaklukkan area ini pada abad ke-19 meski menghadapi penolakan dari penduduk lokal. Di Annam, Kaisar Ham Nghi melakukan perang gerilya hingga 1888.
Belanda menguasai Indonesia sejak 1620-an. Proses penaklukkan Indonesia oleh Belanda membutuhkan waktu yang lama. Belanda baru dapat menaklukkan seluruh wilayah Indonesia pada tahun 1900-an. Belanda telah mengambil alih perdagangan Indonesia, dan sejak tahun 1830 juga telah menguasai pertanian. Para buruh tani dipaksa menanam tanaman yang diinginkan oleh Belanda, terutama kopi dan indigo (tanaman penghasil bahan celup warna biru). Sejak tahun 1900, gerakan nasionalisme bertumbuh dalam masyarakat Indonesia. Penduduk Indonesia berusaha meningkatkan pendidikan bagi kaumnya. Mereka juga ingin memperoleh kembali kendali atas bisnis dan perdagangan.
Terjadi ekspansi penduduk Burma (Myanmar) pada akhir abad ke-18. Untuk itu, Inggris menjajah Burma dan wilayah Semenanjung Malaya pada abad ke-19 karena Inggris ingin melindungi India yang dianggap sebagai bagian terpenting dalam Imperium Inggris. Bangsa Burma menolak pemerintahan Inggris sehingga mengakibatkan timbulnya rangkaian perang berdarah antara 1824 dan 1885. Sejak 1886, Inggris berhasil menguasai seluruh Burma dan menjadikannya sebagai salah satu provinsi India. Ini berlangsung sampai tahun 1937, ketika Burma memisahkan diri dari India dan memperoleh sedikit kemerdekaan.
Di Malaya, situasi lebih tenang karena pemerintahan Inggris dijalankan oleh para sultan lokal. Pada awal abad ke-19, Perusahaan Hindia Timur Inggris telah mendirikan pos-pos dagang. Pada 1826, Singapura, Malaka, Penang, bersatu membentuk Pemukiman Selat Malaka.
Pengaruh Inggris
Tahun-tahun Penting
1813
Monopoli perdagangan Perusahaan Hindia Timur berakhir
1819
Thomas Stamford Raffles (1781-1826) dari Perusahaan Hindia Timur Inggris menjadikan Singapura sebagai pelabuhan bebas
1824
Inggris dan Belanda membentuk perjanjian untuk melindungi kepentingan mereka
1859
Angkatan laut Prancis menguasai benteng di Saigon
1867
Singapura dan Pemukiman Selat Malaka menjadi bagian dari koloni ratu (Inggris)
1877
Kew Gandens, London, menanam benih tanaman karet dari Brazil
1884-1885
Perang Cina-Prancis
1885
Perjanjian Tientsin di mana Cina mengakui kekuasaan Prancis atas Annam dan Tonkin
1886
Inggris menduduki Burma Atas
1887
Vietnam, Kamboja, dan Laos membentuk Uni Indocina
1898
Amerika Serikat merebut Filipina dari tangan Spanyol
Pada tahun-tahun selanjutnya, Inggris yang menguasai beberapa negara bagian lain di Semenanjung Malaya membentuk Negara Federasi Malaya pada 1896, dengan ibukota Kuala Lumpur. Permintaan pasar akan karet bertumbuh cepat pada abad ke-19, sementara pasokan hanya berasal dari Amerika Latin. Benih-benih pohon karet dari Brazil dibawa ke Kew Gardens, London, untuk disemaikan. Pada 1877, sebanyak 2.000 semaian tanaman diangkut dengan kapal dan didistribusikan ke sejumlah negara seperti Ceylon, Malaysia, dan Indonesia di mana tanaman ini bertumbuh subur.
Sejak 1880-an, para insinyur, tim survei, dan arsitek Inggris membantu membangun jaringan kereta api, jalan, jembatan, pabrik, dan pembentukan pemerintahan di Asia Tenggara. Mereka mendapatkan pengalaman dari Revolusi Industri yang terjadi di Inggris. Perbankan dan investasi dikembangkan untuk mendanai imperium dalam usaha perdagangan bahan mentah dari koloni-koloni untuk diolah menjadi barang manufaktur buatan sendiri.
Inggris juga mengembangkan cara meningkatkan teknik untuk penambangan besar timah dan logam berharga lainnya yang ditemukan di Malaya dan negara lain. Menjelang akhir abad ke-19, banyak pendatang tinggal dan bekerja di Asia Tenggara sebagai pedagang, tentara, insinyur, diplomat, atau penyelenggara pemerintahan.

Wednesday, September 18, 2013

Modernisasi Jepang

Di bawah kekuasaan keluarga Tokugawa, Jepang menutup diri dari dunia luar selama lebih dari 200 tahun. Pada awal abad ke-19, Jepang mulai menerima pengaruh luar.
Selama paruh pertama abad ke-17, penguasa Jepang memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan dunia Barat. Mereka khawatir para misionaris akan membawa pasukan Eropa untuk menginvasi Jepang. Itulah sebabnya mereka melarang hampir semua orang asing memasuki Jepang dan melarang orang Jepang meninggalkan negerinya. Akibatnya, dunia Barat tidak dapat mengapresiasi keindahan seni Jepang pada periode ini sampai pertengahan-akhir abad ke-19. Pada tahun 1853, Presiden Amerika Serikat ke-13, Millard Fillmore, mengirim empat kapal perang di bawah komando Komodor Matthew Perry (1794-1858). Ini adalah pelayaran bersejarah dari Amerika Serikat ke Jepang yang bertujuan membuka hubungan dagang dengan Jepang.
Kapal perang Amerika Serikat menurunkan jangkar di Teluk Tokyo. Ancaman kekuatan angkatan laut Amerika Serikat membantu membujuk Jepang agar memulai kembali perdagangan dengan dunia Barat. Orang Jepang kagum atas kapal perang Amerika Serikat dan mesin-mesin lain yang ditunjukkan Perry. Setahun kemudian, kedua negara ini menandatangani Perjanjian Kanagawa, di mana Jepang setuju membuka dua pelabuhannya, untuk berdagang dengan Amerika Serikat.
Tidak lama kemudian “perjanjian berat sebelah” Jepang dengan Inggris, Belanda, dan Rusia ditandatangani. Tokugawa dikritik oleh para lawan politiknya atas pendatanganan perjanjian itu dan juga atas banyak masalah lain yang tidak bisa diselesaikan.
Restorasi Meiji
Masyarakat mulai bosan dengan isolasi yang diterapkan keluarga Tokugawa dalam jangka waktu lama dan hampir total dari dunia luar. Akhirnya pada tahun 1868, kekuasaan Tokugawa dijatuhkan dan Kaisar Mutsuhito (Meiji) diangkat sebagai penguasa. Ketika mulai membuka diri terhadap dunia Barat, bangsa Jepang pun mulai memodernisasi negerinya.
Kendati ingin tetap memelihara tradisi, bangsa Jepang juga berusaha belajar dari negara industri di Barat. Mereka berubah dan mengadaptasi sistem pemerintahan dan sekolah Barat. Kemajuan di bidang pendidikan telah menjadikan Jepang sejak tahun 1914 menjadi salah satu penduduk paling berpendidikan di dunia. Mereka juga mulai mengekspor mesin dan menjalankan industri baru seperti pengolahan kapas. Banyak orang Jepang mengadopsi gaya busana Eropa. Mereka belajar memainkan alat musik Eropa dan berpakaian gaya Eropa. Pada saat yang sama, orang-orang asing berangsur belajar menghargai kesuksesan kebudayaan Jepang.
Dengan kemajuan di bidang industri, bangsa Jepang mulai melakukan ekspansi wlayah. Mereka mencoba mengambil alih Korea yang memicu pecahnya perang dengan Cina pada tahun 1894. Jepang juga berperang dengan Rusia menyangkut wilayah ini pada 1904 sampai 1905. Jepang akhirnya menduduki Korea pada tahun 1910. Ini menjadikan Jepang sebagai negara paling berkuasa di kawasan sekitarnya. Sejak tahun 1913, Jepang telah menjadi kekuatan besar industri, negara pertama di Asia yang mencapai kemajuan besar.

Jepang Menjadi Kekuatan Asia

Di bawah kepemimpinan Kaisar Meiji (1852-1912), yang memegang tampuk kekuasaan pada tahun 1868, Jepang berubah bentuk, dari sebuah masyarakat yang tertutup, di mana warga negaranya dilarang membuat kontak dengan orang asing, menjadi sebuah bangsa yang amat berhasrat untuk membina hubungan dengan dunia luar, bahkan ingin menyamainya. Dalam waktu kurang dari setengah abad, Jepang mengalami kemajuan, dari feodalisme Abad Pertengahan menjadi sebuah kekuatan industrial yang modern.
Modernisasi Jepang
Upaya-upaya Meiji dalam memodernisasi Jepang awalnya mendapat tentangan dari sejumlah syogun (kaum feodal), namun mayoritas penguasa dapat melihat bahwa manfaat-manfaat dari keterbukaan negara itu untuk berdagang dengan orang asing jauh melebihi melebihi kerugian-kerugiannya. Sebelum pemerintahan Meiji, masing-masing syogun sudah memiliki pasukan bersenjata pribadi dan menjadi pemimpinnya. Namun, pada tahun 1873, kaisar membentuk sebuah pasukan nasional yang diperlengkapi dengan senjata-senjata mutakhir yang mengikuti model persenjataan pasukan Jerman. Angkatan laut, yang tidak diperlukan tatkala Jepang masih merupakan sebuah kerajaan yang terisolasi, juga dibentuk. Para cedekiawan membuat kajian lengkap mengenai sistem perundang-undangan maupun sistem pemerintahan Eropa. Dan, pada tahun 1890, didirikan Diet, sebuah parlemen yang mencontoh sistem Inggris.
Kebijakan Ekspansi
Pada masa itu, bangsa Jepang sudah memiliki lingkaran yang penuh, dari sebuah bangsa yang terisolasi seutuhnya menjadi bangsa yang sangat ingin menonjolkan dirinya sebagai sebuah kekuatan dunia. Dari Eropa, Jepang sudah menyamakan elemen-elemen pemerintahan, organisasi militer dan Revolusi Industri-nya. Selanjutnya, Jepang meniru konsep pembangunan sebuah kekaisaran yang luasnya melewati perbatasan negaranya sendiri. Bagi sebuah negara yang kebijakan politik luar negerinya senantiasa tidak memiliki kebijakan politk luar negeri, meninjolkan dirinya sendiri di seantero Asia menunjukkan sebuah langkah baru yang berani. Jepang mencaplok Kepulauan Ryuku yang menjadi tetangganya pada tahun 1870-an, dan pada tahun 1894, Jepang bergabung dengan Cina dalam Perang Cina-Jepang untuk menguasai Semenanjung Korea dan Manchuria. Pada waktu itu, dalam hal tanah, penduduk dan sumber daya, Cina amat mengungguli Jepang. Meskipun demikian, Cina berada di bawah pemerintahan Dinasti Manchu yang tidak efektif, yang perannya lebih menyerupai pemimpin boneka bagi penguasa-penguasa militer setempat. Cina adalah sebuah negara adidaya Asia hanya karena luas wilayahnya serta lokasi strategisnya. Sudah terbukti dengan sendirinya bahwa persenjataan pasukannya sangat buruk untuk sebuah perang yang besar. Ketika Jepang memenangi perang pada tahun 1894, negara ini berhasil memperoleh tempat berpijak di Asia daratan.
Hanya pengaruh Kekaisaran Rusia yang sangat besar yang menghadang upaya perluasan kekuasaan Jepang secara total atas Manchuria dan Korea. Pada bulan Pebruari 1904, Jepang menyerang kapal-kapal dan pangkalan-pangkalan Rusia di Timur Jauh. Perang Rusia-Jepang, pertikaian besar pertama pada abad ke-20, menghasilkan kekalahan yang memalukan bagi Rusia. Untuk pertama kalinya sejak Jenghis Khan, sebuah pasukan Asia dengan meyakinkan telah mengalahkan sebuah kekuatan Eropa yang utama melalui serangkaian pertempuran yang tak berkeputusan. Setelah perjanjian damai ditandatangani pada tanggal 5 September 1905, Jepang mengendalikan semua wilayah di Asia Timur Laut, menjadi kekuatan dunia pertama yang muncul di Asia di era modern. Kemenangan ini juga menetapkan Jepang sebagai kekuatan besar yang tidak boleh dipandang sebelah mata, baik dari segi politik maupun militer, dalam percaturan dunia.

Wednesday, January 16, 2013

Perdagangan dengan Cina (1700-1830)

Perdagangan dengan Cina menguntungkan. Namun, pemerintah Cina tidak menginginkan masuknya pengaruh “orang barbar”. Pedagang Eropa harus mencari jalan lain untuk berdagang.
Sepanjang abad ke-18, sutera, katun, teh, pernis, dan porselen Cina sangat dihargai di Eropa, tetapi berharga mahal dan persediannya terbatas. Para pedagang Portugis, Inggris, Italia, dan Belanda berusaha memperluas perdagangan dengan Cina. Namun, para kaisar Cina yang mengontrol semua kontak antara rakyat dan orang asing tidak tertarik untuk membentuk hubungan. Qianlong (1711-1795), yang berkuasa selama 60 tahun, sejak 1735, adalah seorang filsuf-kaisar yang mendukung kesenian, penulisan puisi, dan mendirikan perpustakaan, tidak mau berhubungan dengan “orang barbar”. Persoalan bagi orang Eropa adalah mereka harus membayar semua barang dengan perak karena pedagang Cina tidak diperkenankan menukar barang asing dengan barang buatan Cina. Selain itu, orang Eropa hanya diizinkan berdagang di Guangzhou (Canton), di mana mereka dibatasi di gedung berbenteng, dan berdagang melalui perantara Cina. Para pedagang Eropa saling bersaing. Mereka berusaha mendapat barang terbaik Cina dan mengirimnya ke Eropa secepat mungkin untuk mendapatkan harga tinggi.
Perdagangan Opium (Candu)
Orang Eropa kemudian mencari cara lain untuk berdagang. Opium telah lama digunakan di Cina untuk pengobatan. Para pedagang menjalin hubungan dengan para penjual obat Cina, menjual opium dalam jumlah besar (5.000 barel per tahun selama 1820-an) dari negeri seperti Burma (sekarang Myanmar). Sebagai imbalannya, mereka mendapatkan barang-barang berharga Cina untuk dijual ke Eropa. Perdagangan meningkat pesat pada akhir abad ke-18. Pemerintah Dinasti Qing (Manchu) berusaha menghentikannya. Pada 1830-an, penggunaan opium menyebar ke seluruh Cina, membuat orang-orang menjadi malas, merusak masyarakat dan perekonomian, serta membuat Cina mengalami kerugian besar.
Dinasti Qing (Manchu)
Para kaisar Qing tidak tertarik membentuk perdagangan karena mereka memiliki masalah yang lebih mendesak di dalam negeri. Tahun-tahun perdamaian dan kemakmuran telah mendorong peningkatan jumlah penduduk (400 juta orang pada tahun 1800) sehingga terjadi kekurangan bahan pangan. Pajak tinggi, korupsi meningkat, sementara penduduk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.
Dinasti Qing sangat konservatif, terkucil, dan keras kepala. Akibatnya, terjadi protes dan pemberontakan, kerap diorganisasi oleh berbagai perkumpulan rahasia yang memiliki ambisi politik. Sekte Teratai Putih mengobarkan pemberontakan petani yang berlangsung dari tahun 1795 hingga 1804. Pemberontakan ini menyebabkan melemahnya rasa hormat rakyat terhadap Dinasti Qing. Sejumlah bangsa asing, yaitu Rusia, Jepang, Tibet, dan minoritas lainnya, serta orang Eropa di atas kapal layar cepat dan kapal meriam mereka, juga menggerogoti Cina.
Camput Tangan Orang Cina
Para kaisar Qing dibesarkan dengan keyakinan bahwa Cina adalah pusat dunia. Mereka melukiskan negeri mereka sebagai “Kerajaan Tengah, yang dikelilingi oleh bangsa-bangsa barbar”. Ketika seorang Duta Besar Inggris, Lord Macartney, pergi ke Beijing pada tahun 1793, Kaisar Qianlong menolak membahas perdagangan. Sejak itu, orang asing memutuskan untuk mencapai tujuan dengan cara lain. Perdagangan opium pun ditingkatkan. Pada tahun 1800, banyak orang Cina menghadapi kesulitan dalam segala segi kehidupan. Mereka mengisap opium seperi mengisap tembakau sebagai tempat pelarian. Ketika orang Cina berusaha menghentikan perdagangan opium pada tahun 1839, Inggris melawannya. Bahkan, kontrol Cina atas pasokan teh dunia mulai mendekati akhir. Selama era 1830-an, orang Inggris bernama Robert Fortune mencuri beberapa tanaman teh ketika mengunjungi Cina. Ia membawanya ke India dan mendirikan perkebunan teh di sana untuk menyaingi perkebunan teh di Cina.

Monday, December 24, 2012

Kekuasaan Inggris di India

Kedudukan Perusahaan Hindia Timur Inggris perlahan semakin kuat di India. Orang Inggris mulai menguasai masyarakat India, menjadi kasta penguasa di negeri itu.
Pada 1750, Perusahaan Hindia Timur Inggris menguasai perdagangan yang sangat menguntungkan antara Inggris dan India, dan Timur Jauh. Para pejabatnya adalah pengusaha terampil yang memiliki banyak pengetahuan tentang India, didapat dari orang India yang mereka pekerjakan. Mereka bersahabat dengan banyak pengeran India, dan membentuk kesepakatan dengan kawan maupun lawan penguasa Moghul yang sedang merosot kekuasaannya. Banyak orang Inggris di India hidup seperti para pengeran. Dengan bekerja pada Perusahaan Hindia Timur Inggris, banyak di antaranya menjadi sangat kaya. Beberapa diantara para nabob ini membangun rumah mewah di Kalkuta dan tempat lainnya, yang dirancang oleh para arsitek Inggris dan dilengkapi dengan barang mewah dari Inggris, India, dan wilayah jajahan lainnya. Di Kalkuta, mereka mengadakan pertemuan, jamuan teh, dan pesta dansa, seolah berada di Inggris. Perlahan para istri dan keluarga mereka pergi ke India untuk berbagi cara hidup Inggris ini.
Namun, beberapa orang Inggris tertarik dengan kesenian, kebudayaan, dan arsitektur Inida. Mereka memilih berpakaian India, paling tidak di rumah. Mereka memelajari bahasa Hindi serta agama dan tulisannya, lalu membawa kembali berbagai pemikiran India ketika pulang ke Inggris.
Perluasan Wilayah Inggris
Pada 1780, Perusahaan Hindia Timur Inggris menguasai banyak wilayah India yang kaya. Namun pada 1784, pemerintah Inggris menghentikan perluasan wilayah lebih lanjut. Para pemimpin perusahaan berpikir sebaliknya. Ketika berbagai negara di India saling berperang, perusahaan kerap melibatkan diri. Sekitar tahun 1800, ambisi Napoleon Bonaparte untuk mendirikan imperium di India mengkhawatirkan orang Inggris. Akhirnya, pemerintah Inggris mengubah kebijakannya. Antara 1803 dan 1815, perusahaan memerangi orang Maratha yang memerintah bagian tengah India dan menghancurkan kekuatannya. Pada banyak kasus, mereka mengadakan “pendekatan lunak”, yaitu memanfaatkan perdagangan dengan memberikan hak istimewa bagi negara India tertentu dan menempatkan pasukan di sana untuk memberikan perlindungan.
Perusahaan memerangi Burma (Myanmar), di mana para penguasa setempat mengancam Bengali. Perusahaan juga berperang di Perbatasan Barat-laut dan di Afghanistan, di mana mereka kuatir akan pengaruh Rusia. Pada 1843-1849, mereka menyerang Sind dan Punjab. Ketika satu dinasti jatuh, atau sebuah negara memiliki pemerintahan yang lemah, perusahaan pun melibatkan diri. Selama 1830-an, gubernur perusahaan dengan angkuh tidak memedulikan tradisi orang India dan mengirim para misionaris untuk menyebarkan agama Kristen di India. Perusahaan membangun jalan, rel kereta api, dan gedung. Mereka juga memperluas usaha orang Inggris, bersikeras menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pendidikan dan dunia usaha. Akibatnya, perlawanan bangsa India terus menguat.
Pemberontakan India
Timbul persoalaan di kalangan para sepoy, yaitu prajurit India dalam ketentaraan perusahaan. Dipicu oleh wabah kelaparan yang mengerikan, Pemberontakan India dimulai pada tahun 1857. Beberapa kota, termasuk ibukota Delhi, direbut oleh kaum sepoy. Terjadi pembantaian atas orang Inggris, pria, wanita, dan anak-anak. Pemberontakan ini ditindas dengan kejam oleh pasukan Inggris. Setiap pihak mulai saling mencurigai. Orang Inggris mulai hidup terpisah, sementara orang India “bertahan di posisinya”. Pemerintah Inggris mengambil alih Perusahaan Hindia Timur pada 1858, kemudian membubarkannya. Karena India kemungkinan adalah wilayah jajahan Eropa yang terkaya dan termaju, Inggris harus bersusah payah untuk tetap menguasainya.

Jepang dan Asia Tenggara Abad ke-18

Asia perlahan disusupi oleh orang Eropa, yang berusaha menguasai perdagangan. Selama abad ke-18, kawasan perdagangan ini berubah menjadi pertempuran politik.
Sejak tahun 1603, Jepang dikuasai oleh para shogun Tokugawa, yang mengatur negeri itu dengan ketat, mengucilkannya dari negara lain. Namun, mereka juga membawa perdamaian dan keamanan. Di bawah pemerintahannya, Jepang menjadi negara makmur. Jumlah penduduk bertambah dari 20 juta menjadi 30 juta dalam waktu 150 tahun. Hasil pertanian meningkat pesat. Kota-kota menjadi makmur, demikian pula dengan perdagangan dan kelas pedagang. Para pengrajin terampil membuat berbagai barang indah, khususnya pakaian dan tenunan. Banyak penduduk Jepang mengelola pendidikan dengan baik.
Namun, Jepang juga memiliki masalah. Banyak orang Jepang meninggalkan desa dan memadati daerah perkotaan, sementara kaum samurai terjerat utang. Pajak tinggi menyebabkan kerusuhan. Banyak kejahatan kecil dihukum mati. Pada 1740-an, shogun pencerahan Yoshimure (1684-1751) mencabut banyak hukum yang keras dan mengizinkan masuknya buku-buku Eropa ke negeri itu. Namun pada 1760-an terjadi wabah kepalaran, gempa bumi, dan berbagai pemberontakan. Gerakan penentang shogun pun semakin banyak. Sejumlah pedagang Belanda adalah satu-satunya kelompok asing yang diizinkan mengunjungi Jepang. Mereka diperlakukan dengan hina. Namun karena perdagangan di sana menghasilkan banyak keuntungan, orang Belanda menerima saja penghinaan itu.
Asia Tenggara
Di Asia Tenggara, tidak ada larangan seperti di Jepang. Para pedagang rempah-rempah dari Arab dan Eropa telah mengunjungi kawasan ini sejak Abad Pertengahan. Kemudian orang Eropa mendirikan sejumlah pos perdagangan. Orang Belanda menguasai Asia Tenggara, menduduki Jawa, dan mendirikan pos dagang di banyak pulau di Hindia Timur Belanda (kini Indonesia). Beberapa negara yang dikuasai kaum Muslim di Hindia Timur bersahabat atau dikuasai oleh Belanda.
Selama abad ke-18, kawasan dagang ini berubah menjadi pertempuran politik. Inggris semakin berminat terhadap kawasan ini. Pada tahun 1762, mereka memaksa Spanyol menyerahkan monopoli mereka atas jalur laut menuju Amerika Latin. Pada tahun 1786, mereka menguasai Penang di Malaya. Kemudian pada tahun 1795, mereka merebut pelabuhan Malaka dari tangan Belanda.
Selama Perang Napoleon, Inggris menduduki Batavia (Jakarta), pusat pemerintahan Belanda di Jawa. Namun, mereka mengembalikannya setelah Belanda mengakui kekuasaan mereka atas Malaya. Pada tahun 1819, Sir Thomas Stamford Raffles (1781-1826) mendirikan Singapura sebagai pelabuhan bebas, dan memberikan hak istimewa kepada para pedagangnya sendiri. Daerah ini menjadi tempat persinggahan penting bagi perdagangan dengan Cina, dan dengan cepat menjadi pusat perdagangan utama di kawasan ini. Barang-barang dari Inggris dan India dibawa ke timur, sementara barang-barang dari Cina dan Hindia Timur dikirimkan ke Barat.
Perang Lokal
Negara-negara Eropa terlibat dalam peperangan di antara negara-negara Asia Tenggara. Mereka menggunakan konflik lokal untuk menyelesaikan perselisihan di antara orang Eropa sendiri. Orang Inggris, Prancis, dan Belanda beberapa kali bentrok di Siam (sekarang Thailand), sekalipun Siam sendiri tetap merdeka. Antara tahun 1824 hingga 1826, pecah Perang Inggris-Burma setelah Burma mendukung musuh-musuh Inggris yang tinggal di tanah Bengal yang dikuasai Inggris. Orang Eropa perlahan membuat berbagai daerah di Asia Tenggara bergantung pada mereka. Pada tahun 1820, orang Eropa memiliki pijakan kuat di Asia Tenggara.

India dan Perubahan

Selama abad ke-18, India mengalami kehancuran akibat peperangan dan campur tangan asing. Kerajaan Moghul digantikan oleh penguasa Inggris.
Pada tahun 1707, Sultan Moghul, yaitu Aurangzeb, wafat. Selama periode pemerintahannya yang panjang, ia menghabiskan bertahun-tahun untuk memelihara kekuasaan dan menyatukan kerajaan. Toleransi agama yang pernah didorong pendahulunya, Akbar yang Agung, telah hilang. Setelah kematian Aurangzeb, India terjebak dalam perang satu abad ketika berbagai kelompok berusaha memperoleh kekuasaan. Para penguasa lokal, yang diberi tanggung jawab oleh para sultan Moghul untuk melindungi wilayah yang jauh dari ibukota, justru mendirikan kerajaan pribadi di Oudh, Hyderabad, dan Bengal. Di India barat dan Punjab, pemberontakan dicetuskan oleh negara Maratha Hindu dan para pengeran Sikh.
Antara tahun 1740 dan 1760, orang Maratha Hindu menaklukkan India bagian tengah. Mereka merebut sebagian besar wilayah Moghul. Namun, usaha mereka untuk mengambil alih Kesultanan Moghul sepenuhnya pada tahun 1761 digagalkan oleh para penyerbu Afghan.
Pada tahun 1739, orang Persia di bawah pimpinan Nadir Shah (1688-1747) menyerang wilayah utara dan menjarah Delhi, ibukota Moghul, dan membunuh 30.000 penduduk. Orang Sikh di Punjab mendapat kemerdekaan semu pada 1762. Nisam dari Hyderabad merebut wilayah banyak wilayah di India tengah dan selatan. India benar-benar mengalami kekacauan.
Inggris Mengambil Alih India
Kesultanan Moghul yang rapuh juga diancam oleh orang-orang Eropa yang ambisius. Perusahaan Hindia Timur Inggris dan Prancis memperoleh wilayah yang luas di India, berpusat di pos-pos dagang mereka yang menguntungkan. Mereka bersekutu dengan para pemimpin India yang bermusuhan, dengan cara melakukan diplomasi, penyuapan, dan pamer kekuasaan. Prancis mendapat tanah Moghul di selatan India dari Nawab (penguasa lokal) Hyderabad, sebagai imbalan atas dukungan militernya. Inggris bersekutu dengan orang Maratha dan Mysore. Jenderal Inggris, Robert Clive (1725-1774), memerangi dan mengalahkan orang Prancis pada tahun 1752. Kemudian, pada tahun 1756, penguasa Bengal merebut pangkalan Inggris di Kalkuta. Pada tahun berikutnya, kemenangan Inggris di Plassey membuat mereka menguasai Bengal kembali. Pada tahun 1761, Inggris merebut pangkalan Prancis di Pondicherry sekaligus mengakhiri pengaruh Prancis di India.
Selama 100 tahun berikutnya, Perusahaan Hindia Timur Inggris mendapat banyak wilayah, atau memaksa negara-negara merdeka untuk mematuhi mereka. Baru pada tahun 1858, Raj India, pemerintahan perusahaan di India, diambil alih oleh pemerintah Inggris. Ratu Victoria dijadikan Maharani India.
Kejatuhan India
Antara tahun 1707 dan 1858, India mengalami periode peperangan dan kekacauan, diikuti oleh pengambilalihan bertahap oleh Inggris. Ketika Inggris berkuasa, mereka berusaha menghentikan apa yang mereka anggap sebagai kebiasaan buruk orang India. Salah satunya adalah thugge, yaitu anggota sebuah sekte Hindu yang menyerang para pengelana, lalu mencekiknya sebagai korban bagi Kali, dewi kematian dan kehancuran.
Pada awal abad ke-19, Inggris menaklukkan orang Maratha dan menyerbu India tengah, Sind, dan Punjab (sekarang Pakistan). Para misionaris Kristen diizinkan masuk sejak tahun 1813, jalan dibangun, dan dibentuk satu kelas orang India berpendidikan Inggris untuk membantu mengelola negeri yang luas ini. Masih terdapat banyak negera kecil yang merdeka, tetapi mereka dapat bertahan apabila mematuhi orang Inggris. India belum dipersatukan, tetapi negeri ini berada di bawah kekuasaan Inggris.

Friday, December 21, 2012

Perusahaan Hindia Timur

 Perusahaan Hindia Timur merupakan organisasi dagang kuat yang didirikan oleh Inggris, Belanda, dan Prancis untuk melindungi kepentingan dagang mereka di Asia tenggara.
Pada tahun 1600, Perusahaan Hindia Timur Inggris (East India Company) didirikan di London. Tujuannya untuk menyatukan para pedagang Inggris yang berdagang di Asia tenggara. Terbentuk persaingan ketat untuk berdagang di kawasan ini, yang sebelumnya dikuasai Spanyol dan Portugis. Pada abad ke-17, persaingan dagang di Timur yang menggiurkan ini melibatkan orang Belanda, Inggris, dan Prancis.
Belanda mengikuti langkah Inggris dengan mendirikan Perusahaan Hindia Timur Belanda (Vereenigde Oost Indische Compagnie) pada tahun 1602, yang berpusat di Amsterdam dan Batavia (Jakarta) di Pulau Jawa. Pada tahun 1664, Prancis mendirikan Perusahaan Hindia Timur sendiri.
Organisasi ini menjadi sangat kuat. Selain di bidang perdagangan, mereka juga memiliki pengaruh politik. Mereka mempersenjatai kapal untuk berperang dan membentuk tentara sendiri. Perusahaan Hindia Timur mendirikan sejumlah pangkalan militer dan perdagangan, serta membuat perjanjian dengan para penguasa setempat. Mereka berperang dengan negara-negara di sekitarnya, atau satu sama lain. Dalam banyak hal, mereka bertindak seperti sebuah negara merdeka.
Inggris kalah dari Belanda untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di Hindia Timur. Inggris kemudian memusatkan kegiatannya di India, dengan sejumlah pelabuhan kunci, terutama Kalkuta, Madras, dan Bombay. Belanda memiliki pelabuhan di Tanjung Harapan di Afrika Selatan, Persia, Ceylon, Malaya, dan Jepang, serta menguasai Kepulauan Rempah-rempah (sekarang Indonesia). Prancis kurang berhasil dalam usahanya untuk menguasai India. Mereka memperoleh banyak keuntungan pribadi. Para pelaut dan pedagang kerap mati karena penyakit atau perang. Beberapa di antaranya memilih tinggal di Asia dengan mendirikan pusat hunian Eropa di India, Asia tenggara, dan Cina.

Kemunduran Kekaisaran Ottoman


Setelah pemerintahan Suleiman yang Agung. Kekaisaran Ottoman berangsur mengalami kemunduran. Meski demikian, imperium ini bertahan hingga tahun 1923.
Pada tahun 1565, Suleiman yang Agung memutuskan menyerang Malta, yang dikuasai oleh Ksatria Perang Salib Santo Yohannes. Kendati pasukan Turki berjumlah jauh lebih besar, penyerbuan itu gagal dan mereka terpaksa mundur beberapa bulan kemudian. Suleiman wafat pada 1566. Di tahun 1571, ketika Ottoman berusaha menyerang Siprus yang dikuasai oleh orang Venesia, pasukan penyerbu mereka dihancurkan oleh armada gabungan Venesia, Spanyol, dan Negara Kepausan di Lepanto, lepas pantai Yunani. Pada tahun 1602, pecah perang panjang dan berbiaya besar dengan Kerajaan Safavid Persia, tanpa menghasilkan apapun. Wabah penyakit dan krisis  ekonomi melanda Istanbul. Jalur perdagangan menguntungkan yang menghubungkan Asia, Afrika, dan Eropa menjadi sepi menyusul dibukanya jalur baru yang mengitari Afrika dan jalur darat melalui Siberia.
Kemunduran Kekaisaran
Perang Tiga Puluh Tahun di Eropa memberikan kedamaian bagi Kekaisaran Ottoman. Namun ketika pada 1656 mereka ingin menyerbu Kreta, orang Venesia menutup Dardanella (jalur laut sempit dari Laut Mediterania ke Laut Hitam), sehingga mengancam Istanbul sendiri. Keadaan ini menimbulkan kepanikan. Sang sultan, Ibrahim, digulingkan oleh para perwira tentara. Seorang vizier agung (perdana menteri) yang baru, Mehmed Kuprili, mengambil alih kekuasaan. Ia memperbaharui perekonomian dan pasukan. Ia membentuk kembali kejayaan Ottoman.
Vizier berikutnya, Kara Mustafa, menyerang Wina yang dikuasai Dinasti Habsburg untuk kedua kalinya pada tahun 1683. Pasukan Habsburg di Wina bertahan selama dua bulan sampai pasukan Jerman dan Polandia tiba dan mengalahkan pasukan Turki. Orang Austria kemudian menyerbu Hongaria, sementara orang Venesia merebut sebagian Yunani, orang Rusia mengancam Azov di Ukraina. Vizier lainnya, Mustafa Kuprili, berkuasa pada tahun 1690. Ia berusaha mengusir orang Austria, tetapi terbunuh pada tahun 1691. Selama 1690-an, Ottoman kehilangan Hongaria dan Azov. Wilayah mereka di Eropa selamat karena Austria sedang berperang dengan Prancis.
Kekaisaran Menyusut
Pada periode 1710-1720, orang Ottoman merebut kembali Azov dan Yunani, tetapi kehilangan Serbia dan sebagian Armenia. Selain itu, mereka kehilangan kekuasaan atas sebagian besar wilayah Afrika utara, diantaranya Aljazair. Tunisia, dan Libya. Kendati resmi negara-negara itu masih menjadi bagian Ottoman, kenyataannya mereka telah menjadi negara merdeka. Pada tahun 1736, Rusia kembali menyerang. Kemudian di tahun 1783, mereka merebut Crimea dan sebagian besar Ukraina. Orang Ottoman tidak lagi menguasai Laut Hitam. Di Anatolia, para pemimpin lokal memberontak. Di Istanbul, rakyat mulai mengkhawatirkan masa depan mereka.
Kekaisaran Ottoman masih kuat, tetapi perdagangan dan kemakmuran mereka telah merosot tajam. Kemajuan pada masa awal kekaisaran di bidang agama, kesenian, dan sosial mulai mengendur. Satu-satunya sahabat Ottoman, orang Moghul, juga mengalami kemerosotan, sedangkan orang Eropa mengalami kemajuan pesat. Namun demikian, Kekaisaran Ottoman belum berakhir.

Kemunduran Dinasti Moghul India


Setelah kematian Akbar Agung, imperium Moghul perlahan merosot. Orang Maratha yang suka berperang dan orang Inggris akhirnya menghancurkan imperium ini.
Tahun-tahun Penting
1605
Jahangir menjadi maharaja selama 23 tahun
1608
Orang Inggris tiba di India
1611-1622
Nur Jahan, istri Jahangir, memerintah
1628
Shah Jehan, menjadi maharaja selama 30 tahun
1658
Aurangzeb, penguasa terbesar Moghul terakhir, memerintah selama 49 tahun
1660-an
Kebangkitan orang Maratha, melawan orang Moghul
1707
Kemunduran Moghul dimulai
Akbar, penguasa Moghul ketiga, wafat pada tahun 1605. Anaknya, Jahangir (1569-1627), menggantikannya. Jahangir tidak tertarik pada pemerintahan. Ia lebih suka berada di antara para pelukis dan pujangga. Karena itu, ia menghabiskan sebagian besar tenaga dan uangnya untuk membangun berbagai gedung megah dan taman indah. Sementara itu, istrinya yang cantik dan ambisius, Nur Jahan, memerintah negeri itu. Shah Jehan (1592-1666) menggantikan ayahnya, Jahangir, sebagai maharaja pada tahun 1628. Ia memperbesar kerajaan. Pada 1636, ia menaklukkan Dekan di India tengah. Shah Jehan mendirikan Taj Mahal di dekat Agra sebagai makam bagi Mumtaz Mahal (“Yang Terpilih dari Istana”). Gedung indah ini dibangun dengan marmer putih yang dihiasi berbagai pola batu berharga, dan diperlukan waktu 11 tahun untuk menyelesaikannya. Seluruh kompleks tersebut memerlukan waktu pengerjaan 22 tahun. Nasibnya berakhir tragis. Pada 1657, Shah Jehan jatuh sakit dan keempat putranya bertikai memperebutkan takhta. Aurangzeb (1618-1707), anak ketiga, memenjarakan ayahnya dan membunuh tiga saudaranya untuk merebut kekuasaan.
Aurangzeb menaklukkan sebagian besar wilayah India yang belum dikuasai Moghul. Namun, ia tidak dapat mengalahkan bangsa Maratha di kawasan pantai barat. Aurangzeb adalah seorang Muslim fanatik. Sebagian besar warganya adalah orang Hindu dan ia menindas mereka dengan keji. Perlawanan terhadap dirinya pun meningkat. Orang Maratha menguasai Dekan dan sejumlah pemberontakan pun meletus di seluruh India. Setelah Aurangzeb wafat pada tahun 1707, Kerajaan Moghul mulai terpecah. Selama abad ke-18, terjadi banyak peperangan. Para gubernur provinsi (nawab) menjadi lebih independen. Orang Maratha dan Inggris kemudian mengambil alih wilayah Kerajaan Moghul.