This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Perang. Show all posts
Showing posts with label Perang. Show all posts

Sunday, April 13, 2014

Perang Dunia II: Front Pasifik


Sejak September 1940, Jepang telah bersekutu dengan Jerman dan Italia, tetapi belum terlibat dalam pertempuran. Setelah invasi Jepang atas Cina pada 1937, Jepang mendapat tekanan semakin meningkat dari Amerika Serikat untuk menarik pasukannya dari Cina. Perang di Pasifik dimulai pada 7 Desember 1941, ketika pesawat dari enam kapal induk Jepang melakukan serangan tanpa sebab atas basis Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbour, Hawaii. Lebih dari 2.400 tentara dan pelaut Amerika Serikat terbunuh. Sebanyak 18 kapal utama Amerika Serikat hancur atau rusak parah. Jepang hanya kehilangan kurang dari 100 orang. Tentara Jepang menginvasi Thailand pada hari yang sama. Hari berikutnya, Kongres Amerika Serikat mengumumkan perang atas Jepang. Jerman dan Italia lalu mendeklarasikan perang atas Amerika Serikat.
Bergerak ke Selatan
Pada 10 Desember 1941, kapal perang  Prince of Wales dan kapal tempur Repulse Inggris ditenggelamkan di Teluk Siam oleh pesawat Jepang. Dengan armada laut Amerika Serikat dan Inggris yang rusak parah, Jepang berpikir bahwa mereka telah sepenuhnya menguasai Pasifik. Dalam 5 bulan, pasukan Jepang menyerbu Burma (Myanmar), Hong Kong, Singapura, Malaya, Hindia Timur Belanda (Indonesia), Thailand, dan Filipina. Jepang juga menginvasi New Guinea dan mengancam pantai utara Australia. Karena sebagian besar pasukan dan peralatannya digunakan untuk membantu Sekutu di Eropa, Australia mengharapkan bantuan Amerika Serikat untuk bertahan.
Tidak semua armada laut Amerika Serikat tenggelam di Pearl Harbour. Tiga kapal induk Amerika Serikat sedang berada di laut lepas ketika Jepang menyerang. Ketiganya segera bergabung dengan dua kapal induk baru. Rencana ekspansi lanjutan Jepang terhenti pada tahun 1942 dalam dua pertempuran laut besar.
Pertempuran Laut Koral (4-8 Mei) adalah yang pertama dalam sejarah angkatan laut ketika kapal musuh tidak terlibat satu sama lain selama pertempuran. Pertempuran dilakukan oleh pesawat udara yang diluncurkan dari kapal-kapal induk. Tidak ada pemenang yang jelas, tapi pertempuran ini menghentikan rencana Jepang untuk menginvasi Australia. Pada bulan Juni, Jepang berencana menginvasi Pulau Midway dan Kepulauan Auletian yang kecil tapi strategis. Namun, mereka harus terlebih dahulu menghancurkan pesawat Amerika Serikat yang bermarkas di Midway. Pada saat yang sama, Amerika Serikat telah mengurai sandi radio Jepang sehingga dapat melakukan persiapan menghadapi serangan.
Titik Balik
Pada pertempuran di Midway (4-6 Juni), angkatan laut Jepang mengalami kehancuran sangat hebat akibat serangan pesawat yang lepas landas dari kapal induk Amerika Serikat. Akhirnya, Jepang menyerah. Pertempuran laut di Midway adalah kemenangan menentukan bagi pasukan Amerika Serikat dan menjadi titik balik perang. Setelah berhasil menahan gerak laju Jepang, tugas Amerika Serikat untuk kembali menguasai teritori pun dimulai.
Selama tiga tahun berikutnya, Amerika Serikat memperoleh Kepulauan Gilbert, Marshall, Caroline, dan Mariana. Dari wilayah ini, Amerika Serikat dapat membom sejumlah kota dan pusat industri Jepang. Pada September 1944, pasukan Amerika Serikat mulai menguasai kembali Filipina, sementara Bristish Fourth Army mulai menaklukkan Burma. Setelah pertarungan yang sengit, pasukan Amerika Serikat berhasil menguasai Pulau Okinawa dan Pulau Iwo Jima pada awal 1945.
Memojokkan Jepang
Ketika Pulau Okinawa dikuasai, ada lebih dari 100.000 pasukan Jepang dan 12.000 pasukan Amerika Serikat yang terbunuh. Setelah menelan banyak korban jiwa, para komandan Sekutu cemas atas kematian yang akan terjadi jika mereka menginvasi daratan utama Jepang. Mereka tahu bahwa Jepang akan bertarung sampai darah terakhir untuk mempertahankan negara mereka, dan diperkirakan lebih dari satu juta tentara Sekutu yang akan kehilangan nyawa seandainya invasi dilakukan.
Di Amerika Serikat, Franklin Delano Roosevelt terpilih untuk ketiga kalinya sebagai presiden pada tahun 1944. Sementara itu, dalam proyek rahasia, para ilmuwan Amerika Serikat telah mengembangkan senjata baru yang menakutkan, bom atom. Presiden Roosevelt meninggal pada 12 April 1945 dan penggantinya, Harry S. Truman, mengambil keputusan penting untuk menjatuhkan bom atom tersebut di Jepang.
Jepang Menyerah
Presiden Truman berpendapat bahwa penggunaan bom atom akan cepat mengakhiri masa perang dan dapat menyelamatkan jutaan nyawa tentara Sekutu. Pada akhir Juli 1945, Sekutu memberi ultimatum kepada Jepang, mengancam akan terjadu kerusakan mahadahsyat jika Jepang tidak menyerah. Maka, bom atom dijatuhkan di Hiroshima pada 6 Agustus. Serangan bom atom ini memakan  korban manusia sekitar 130.000 jiwa. Tiga hari kemudian, bom atom kedua dijatuhkan di kota Nagasaki dan membunuh lebih dari 750.000 manusia. Ribuan orang lainnya tewas karena terluka dan sakit akibat radiasi. Penggunaan bom atom membuat Jepang menyerah kepada Sekutu pada 14 Agustus.
Perang Dunia II berakhir ketika Jepang secara resmi menyerah pada 2 September 1945. Lebih dari 2 juta orang Jepang tewas selama Perang Dunia II, di samping 100 kota yang hancur akibat pemboman, dan produksi industri praktis terhenti. Jepang memerlukan waktu 10 tahun untuk menghidupkan kembali industrinya sampai menyamai keadaan sebelum perang.

Perang Dunia II: Front Eropa


Kekuatan Poros, yaitu Jerman, Italia, dan Jepang, menginginkan lebih banyak wilayah. Setelah menginvasi Cekoslovakia, Hitler tidak memperkirakan akan ada aksi militer internasional yang menentang rencananya untuk memperluas wilayah lebih lanjut. Untuk mengatasi ancaman militer dari timur, ia menandatangani pakta non-agresi, Pakta Molotov-Ribbentrop dengan Uni Sovyet pada Agustus 1939. Dua negara ini secara rahasia setuju untuk membagi Eropa bagian timur. Meski ada seruan dari Neville Chamberlain, Presiden Franklin D. Roosevelt, dan Paus, Hitler yang merasa aman dari ancaman militer memutuskan menginvasi Polandia pada 1 September 1939.
Awal Perang di Eropa
Inggris dan Prancis mendeklarasikan perang atas Jerman dua hari kemudian. Pasukan Uni Sovyet yang telah menandatangani pakta non-agresi, kemudian menginvasi Polandia dari timur. Polandia pun dibagi antara Jerman dan Uni Sovyet. Pada April 1949, pasukan Jerman menginvasi Denmark dan Norwegia, serta menginvasi Belgia, Belanda, dan Prancis di bulan berikutnya. Pada bulan Juni, Italia mendeklarasikan perang atas Sekutu. Pasukan Inggris dikirim ke Prancis tetapi dipaksa mundur ke Dunkirk. Dari Dunkirk, ratusan ribu pasukan Inggris terpaksa dievakuasi kembali ke Inggris. Dengan sebagian besar wilayah Eropa dikuasai kaum fasis, Hitler berencana menginvasi Inggris. Amerika Serikat tetap menjalankan politik isolasi. Pada Juli 1940, Luthwaffe (Angkatan Udara Jerman) memulai serangan dengan sejumlah target di Inggris.
Gerakan Jerman
Pertempuran Britania berlangsung sampai 31 Oktober 1940. Hitler terpaksa meninggalkan rencananya—Operasi Singa Laut—untuk menginvasi Inggris. Ia pun mengubah arah dengan melancarkan pemboman pada malam hari terhadap daerah industri, kota, dan galangan kapal Inggris. Serangan ini berlangsung sampai Mei 1941, tetapi gagal menjatuhkan moral Inggris yang menerima pasokan dan peralatan penting dari Amerika Serikat.
Sementara itu, Italia telah menginvasi Yunani dan Afrika bagian utara. Pasukan Inggris berhasil memukul mundur Italia di Afrika bagian utara. Namun pada April 1941, pasukan Hitler menduduki Yunani dan Yugoslavia untuk membantu pasukan Benito Mussolini. Jerman menghalau keluar Inggris dari Yunani dan mengirim pasukan dalam jumlah besar ke Afrika utara di bawah komando Jenderal Erwin Rommel. Pasukan Rommel yang superior sukses menghalau Inggris kembali ke Mesir.
Jerman Menginvasi Uni Sovyet
Pada Juni 1941, didorong oleh kesuksesan militer di Eropa bagian barat dan untuk memperoleh pasokan minyak, pasukan Hitler melancarkan serangan berskala besar ke Rusia yang diberi nama Operasi Barbarossa. Jerman mendesak mundur pasukan Rusia hingga ke Leningrad (sekarang St. Petersburg), Moskow, dan Kiev. Selama musim dingin yang membeku di Sovyet, Jerman kehilangan banyak wilayah yang baru dikuasainya.
Titik Balik Perang
Pada Agustus 1941, Perdana Menteri Winston Churchill dan Presiden Roosevelt menandatangani Atlantic Charter, yaitu deklarasi kemerdekaan bagi semua orang. Pada Desember 1941, Amerika Serikat terjun dalam perang setelah Jepang menyerang Pearl Harbour. Pasukan Sekutu dikirim ke Afrika utara untuk menghentikan gerakan pasukan Rommel di Mesir. Pada Nopember 1942, Sekutu memenangi pertempuran menentukan di El Alamein, Mesir, melawan Jerman dan Italia. Di timur, Rusia melancarkan serangan balasan terhadap pasukan Jerman di Stalingrad dan memaksa mereka mundur. Dua kemenangan Sekutu ini menandai titik balik dalam perang di Barat.
Sepanjang tahun 1942 dan 1943, kapal U-Boot (kapal selam Jerman, Inggris menyebutnya U-Boat) Jerman menyerang kapal-kapal pengangkut pasokan dan perlengkapan ke Inggris. Pada 1943, Inggris dan Amerika Serikat mulai membom pusat industri dan kota di Jerman. Pada Juli, pasukan Inggris dan Amerika Serikat mendarat di Sisilia, dan September di Italia. Ini memicu kejatuhan Mussolini dan menyerahnya Italia.
Kekalahan Puncak Jerman
Di Timur, pasukan Rusia dengan perlahan menghalau kembali tentara Jerman. Front kedua dibuka pada D-day, 6 Juni 1944, ketika Jerman melancarkan serangan balasan, tetapi dipaksa mundur pada Januari 1945. Sekutu mencapai perbatasan Jerman pada Desember. Di bulan Maret 1945, Sekutu telah melintasi Sungai Rhein, dan Sovyet telah mencapai Berlin. Hitler melakukan bunuh diri pada 30 April. Akhirnya pada 7 Mei, Jerman menyerah tanpa syarat.
Holocaust
Kekalahan Jerman mengungkap kasus genosida paling ekstrem sepanjang sejarah. Sekitar 12 juta orang dibunuh, separuhnya adalah orang Yahudi. Pembunuhan dimulai pada 1939, ketika Yahudi Polandia dipaksa berpindah ke kawasan kumuh. Sekitar 500.000 orang tewas akibat penyakit atau kepalaran. Ketika Jerman masuk ke Rusia, mereka menahan dan membunuh hampir 2 juta warga Yahudi. Sejak 1942 hingga 1944, pasukan Jerman membunuh jutaan orang lainnya di kamp-kamp konsentrasi.

Perang Dunia I: Front Barat


Dipicu oleh terbunuhnya Archduke Franz Ferdinand, Perang Dunia I secara resmi dimulai dengan serentetan deklarasi perang terhadap Jerman pada tanggal 4 Agustus. Meskipun harus menghadapi Rusia di timur dan Prancis di barat, Jerman betul-betul merupakan bangsa yang terbaik dalam persiapannya untuk terlibat dalam peperangan itu. Jerman adalah negara dengan tentara terbesar dan paling profesional pada saat itu. Para komandannya percaya diri bahwa mereka akan meraih kemenangan dengan mudah apabila mereka bergerak cepat. Ini menuntun Jerman melakukan pelanggaran terhadap kenetralan Belgia dan wilayahnya sangat kecil dengan menyerang Prancis di sepanjang dataran-dataran rendah Flanders (wilayah utara Belgia). Jalinan yang erat antara Inggris dengan Belgia (kedua raja berkerabat dekat, saudara senenek), membuat tindakan ini menjadi pemicu yang melemparkan Inggris ke kancah perang.
Dengan semangat dan gairah yang menggebu-gebu, negara-negara besar di Eropa kemudian melibatkan diri ke dalam apa yang ditakdirkan untuk menjadi perang yang paling dahsyat dalam sejarah. Mereka yang keranjingan untuk menyaksikan bendera yang dikibarkan serta pakaian seragam yang berparade di bawah sinar matahari musim panas tidak menghiraukan akibat fatal yang ditimbulkan oleh persenjataan generasi mutakhir—dari senapan mesin sampai gas beracun. Digunakan untuk pertama kalinya dalam sebuah pertikaian besar, senjata-senjata tersebut membuat perang yang baru meletus itu menjadi sebuah peristiwa yang mengerikan dan sangat jauh dari sikap ksatria.
Negara-negara Inggris, Prancis, Rusia, dan Belgia yang kecil berhadapan dengan Jerman dan Austria-Hongaria. Sementara itu, Italia, yang secara teknis bersekutu dengan Austria-Hongaria, menanggapi pendapat masyarakat dalam negeri yang menghimbau agar negara tersebut memerangi Austria sehingga dapat merebut kembali kekuasaan atas sejumlah wilayah di Austria yang penduduknya berbahasa Italia.
Pertempuran Marne yang Pertama
Strategi Jerman mewajibkan bahwa Prancis kalah dalam waktu singkat, sama seperti yang terjadi pada tahun 1870, diikuti sebuah serangan terhadap Rusia, yang merupakan negara yang kesiagaan perangnya paling kecil dibandingkan negara-negara lain di Eropa. Jerman mencaplok Belgia dalam waktu dua minggu dan bergerak kea rah barat menuju Prancis sambil menjalankan rencana pertempuran yang dirancang oleh Panglima Tertinggi Alfred Count von Schlieffen (1833-1913). Langkah ini mengharuskan adanya gerak cepat, dengan sayap kiri yang mengambil ancang-ancang dari Metz dan sayap kanan yang terlebih dahulu menembus Belgia untuk tiba di Paris. Rancangan ini mewajibkan bahwa semua pasukan dipusatkan di bagian kanan, namun Jenderal Helmut von Molke (1848-1916), yang ditugasi untuk menerapkan rancangan tersebut, gagal untuk melakukannya. Walaupun rancangan von Schlieffen berhasil pada awalnya, dan sayap kanan tiba di Paris sebelum terlambat, pasukan-pasukan penyerang tersandung. Ketika pasukan Prancis dan Inggris membuat serangan balik sepanjang tepi Sungai Marne pada tanggal 6-9 September, langkah pasukan Jerman terhenti dan tidak pernah memiliki semangat lagi.
Jalan Buntu
Pasukan Inggris dan Prancis menghadang pasukan Jerman, namun tidak memiliki cukup kekuatan untuk membuatnya mundur. Kedua negara akhirnya membuat parit yang terbentang dari Laut Utara hingga ke perbatasan Swiss. Demikianlah, apa yang tadinya terlihat sebagai kemenangan pasukan Jerman yang diperoleh dalam waktu singkat, kurang dari 60 hari, berubah menjadi jalan buntu berdarah yang berlangsung selama empat tahun.

Akibat Perang Dunia I


Kedatangan pasukan Amerika Serikat di Eropa pada 1917 memungkinkan Sekutu melancarkan serangan baru di Front Barat. Pada 1918, Rusia menarik diri dari perang, sehingga pasukan Jerman tidak lagi dibutuhkan di Front Timur. Sejak 1918, lebih dari 3,5 juta tentara Jerman bertempur di Front Barat. Pada bulan Maret, mereka berhasil menerobos parit dan bergerak menuju Paris. Prancis melakukan serangan balasan di bulan Juli. Pada bulan Agustus, tank-tank Inggris dapat melintasi garis pertahanan Jerman di Amiens. Ketika pasukan Amerika Serikat memasuki Prancis, Jerman pun menyerah.
Pada bulan Oktober, terjadi pertempuran di dekat perbatasan Jerman. Blokade laut menyebabkan kelaparan di Jerman. Pada 11 Nopember dini hari, Jerman menandatangani pelucutan senjata. Kaiser Wilhelm II diturunkan dari takhta. Pada “pukul sebelas, tanggal sebelas, bulan sebelas”, Perang Dunia I berakhir. Hampir 10 juta nyawa melayang dan lebih dari 20 juta orang terluka. Sebagian besar korban adalah pria muda. Keadaan ini menimbulkan perubahan struktur sosial di beberapa negara. Dampaknya, banyak wanita memperoleh lebih banyak persamaan dan kebebasan disbanding sebelum perang. Di banyak tempat, kaum wanita juga memperoleh hak untuk ikut memilih.
Perjanjian Versailles
Perang Dunia I secara resmi berakhir pada Konferensi Damai Paris yang pembahasannya berlangsung antara 1919 dan 1923. Semua negara yang terlibat dalam perang—kecuali Jerman—bertemu untuk menyusun perjanjian damai, tetapi yang paling dominan adalah Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Italia. Ada lima perjanjian lain yang disusun terpisah.
Isi terpenting dari Perjanjian Versailles adalah Jerman dihukum atas keterlibatannya membayar kompensasi yang sangat besar kepada Sekutu. Wilayah kekuasaan Jerman dikurangi dan sejumlah tujuh juta penduduknya dipindahkan dari wilayah kekuasaan Jerman. Selain itu, Jerman harus menyerahkan seluruh koloninya di luar negeri dan mengurangi pasukannya menjadi hanya 100.000 prajurit. Ekonomi Jerman runtuh, mengakibatkan hiperinflasi. Negara-negara lain juga menderita ketika mereka berusaha membayar utang yang dipinjam selama masa perang. Ini memicu timbulnya pergolakan politik dan ekonomi.
Perselisihan lanjutan dipicu oleh perubahan batas wilayah internasional di Eropa menyusul runtuhnya Kekaisaran Jerman, Kekaisaran Austria-Hongaria, Kekaisaran Rusia, dan Kesultanan Ottoman Turki.
Liga Bangsa-Bangsa
Konferensi Damai Paris juga menghasilkan Liga Bangsa-Bangsa, yang bertujuan menjaga agar dunia tetap aman dengan cara menyelesaikan sengketa lewat diskusi dan perjanjian. Liga ini gagal karena hanya memiliki sedikit kekuasaan setelah Amerika Serikat menolak bergabung dan masih terdapat persaingan di antara 53 negara anggota. Situasi ini memperlemah liga dan mengurangi pengaruhnya, sehingga menjelang akhir 1930-an, hanya sedikit negara yang memperdulikannya.

Friday, September 20, 2013

Perang Sipil Amerika

Sekitar pertengahan abad ke-19, Amerika Serikat adalah sebuah negara yang terpecah. Negara ini terbagi atas wilayah utara dan selatan.
Di Amerika Serikat sekitar tahun 1850, wilayah utara dipenuhi oleh kota dagang dan industri dengan jaringan kereta api. Sementara itu, wilayah selatan adalah lahan pertanian, terutama perkebunan kapas dan tembakau yang mengandalkan budak sebagai tenaga kerja. Wilayah utara melarang perbudakan.
Perbedaan ini menimbulkan perselisihan ketika undang-undang baru disusun untuk negara bagian dan teritori baru di Amerika Serikat bagian barat. Kampanye anti-perbudakan di utara mengatakan bahwa perbudakan seharusnya dihapuskan sepenuhnya. Akta Kansas-Nebraska tahun 1854 memberikan hak kepada negara bagian baru untuk memilih.
Abraham Lincoln (1809-1865) terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat pada tahun 1860. Ia adalah presiden dari Partai Republik, partai penentang perbudakan, meski ia sendiri bukan aktivis anti-perbudakan. Banyak negara bagian di selatan menolak berada di bawah pemerintahan ini. Dipimpin oleh Jefferson Davis (1808-1889) pada Desember 1860, negara bagian di selatan mengumumkan meninggalkan Union (sebutan Amerika Serikat selama Perang Sipil) dan membentuk Negara Konfederasi Amerika. Pemerintah Amerika Serikat mengatakan bahwa mereka tidak memiliki hak untuk melakukan itu.
Negara-negara bagian selatan meyakini bahwa mereka memiliki hak membuat undang-undang sendiri tanpa campur tangan pemerintah federal. Mereka membutuhkan tenaga kerja budak untuk bekerja di perkebunan. Ekonomi selatan akan runtuh bila para budak dibebaskan.
Dua Kubu
Bagian utara (Union) yang terdiri atas 23 negara bagian memiliki lebih banyak penduduk, uang, dan industri dibanding dengan bagian di selatan. Utara juga menguasai angkatan laut dan mulai memblokade laut untuk mencegah wilayah selatan memperoleh bantuan atau pasokan dari luar. Sebelas negara di bagian selatan (Konfederasi) jauh lebih lemah, tetapi mereka diuntungkan karena memiliki sejumlah jenderal hebat dan semangat bertempur yang tinggi. Perang sipil mulai pecah pada 12 April 1861, ketika pasukan Konfederasi memulai pertempuran di Fort Sumter, South Carolina. Pasukan Konfederasi memenangi beberapa pertempuran di masa awal perang.
Titik Balik
Pasukan selatan memenangi pertempuran awal pada tahun 1861, termasuk di Fredericksburg dan Chancellorsville. Namun, titik balik pertempuran terjadi pada 1 sampai 3 Juli 1863 ketika pasukan Union memenangi pertempuran terbesar dalam perang saudara ini dalam Pertempuran Gettysburg. Ini adalah pertempuran paling berdarah yang pernah terjadi di tanah Amerika. Dipimpin oleh Jenderal George Meade, pasukan Union sukses menghentikan invasi pasukan Konfederasi pimpinan Jenderal Robert E. Lee (1807-1870) ke arah utara. Lebih dari 21.000 tentara Konfederasi dan lebih dari 22.000 tentara Union tewas atau terluka. Sejak peristiwa ini, kesempatan pasukan Konfederasi untuk memenangi perang terus menurun.
Akhir Perang
Pada 1864, kendari Jenderal Lee memiliki strategi perang yang hebat, Jenderal Ulysses S. Grant berhasil menguasai Richmond, ibukota Konfederasi. Jenderal Sherman melakukan perjalanan melintasi Georgia dan negara-negara bagian selatan lainnya, lalu menguasai Atlanta. Kemenangan ini diikuti dengan “perjalanan laut” sambil menghancurkan kota-kota dan lahan pertanian yang dilewatinya. Kelangkaan pasukan, senjata, dan makanan, menyebabkan Jenderal Lee menyerah pada 9 April 1865. Jenderal Lee menyerah kepada Jenderal Grant di gedung pengadilan Appomattox, Virginia. Perang sipil berakhir. Lebih dari 600.000 tentara tewas dalam perang ini, banyak di antaranya karena terjangkit penyakit seperti tifus. Lima hari kemudian, Presiden Abraham Lincoln dibunuh di Washington.
Perang Sipil Amerika menjawab dua pertanyaan besar. Pertama, Amerika Serikat adalah negara tunggal, sehingga tidak ada satu negara bagian pun yang berhak melepaskan diri. Kedua, perbudakan di selatan berakhir. Setelah perang sipil, muncul masalah tentang bagaimana wilayah selatan harus dibangun kembali, termasuk pembukaan sekolah dan jalur kereta api. Pengganti Lincoln, Andrew Johnson (1808-1875), dari Partai Demokrat, menginginkan perbaikan kondisi bagi penduduk Amerika Serikat kulit hitam. Sementara kaum Republikan menginginkan kebijakan lebih keras. Republikan menang. Penduduk di selatan menolak sebagian besar aspek Rekonstruksi. Banyak bekas budak yang ikut berperang untuk Union kembali ke rumah mereka di selatan dengan mengharap kebebasan yang lebih besar. Namun, Ku Klux Khan dan kelompok rasis lainnya memulai kampanye pembunuhan dan melancarkan aksi teror pada tahun 1866, untuk mencegah orang kulit hitam Amerika memperoleh hak-hak sipil. Pasukan Union kemudian ditarik, Rekonstukri berakhir, dan Demokrat mengambil alih wilayah selatan.

Perang Candu

Pedagang Eropa menggunakan kekuatan adiktif candu untuk memperoleh hubungan dagang penting dengan Cina, negara yang mengisolasi diri dari luar.
Selama berabad-abad, orang Cina tidak berhubung dengan bagian dunia lain. Banyak pedagang Eropa sangat ingin berdagang dengan Cina terutama karena sutera dan porselen dari Cina sangat populer di Eropa. Namun, pemerintah Cina hanya mengizinkan perdagangan dilaksanakan di satu pelabuhan, yaitu Guangzhou (Canton). Untuk mengakali masalah ini, para pedagang asing mulai menyelundupkan candu ke negara Cina, sehingga penduduk Cina terpaksa menjual barang-barang berharga mereka untuk ditukar dengan candu. Pemerintah Cina berusaha menghentikan praktik ini. Pada tahun 1839, pejabat Cina di Guangzhou, Lim Tse-shu, mengunjungi gudang-gudang Inggris. Mereka menyita lalu membakar 20.000 peti candu.
Inggris menganggap tindakan itu sebagai penyitaan milik pribadi, dan tidak dapat mentolerirnya. Maka, Inggris mengirim kapal-kapal perang untuk mengancam Cina dan mengepung pelabuhan. Cina menolak membayar konpensasi, melarang perdagangan dengan Inggris, dan menembaki pasukan Inggris. Maka, dimulailah Perang Candu I (1839-1842) antara Inggris dan Cina.
Perjanjian Nanking
Perang ini berat sebelah karena Inggris memiliki pasukan yang superior. Inggris membombardir Guangzhou dan menguasai Hongkong. Ketika Perang Candu I berakhir, Inggris memaksa Cina menandatangani Perjanjian Nanking (Nanjing) agar Cina membuka pelabuhannya bagi Inggris. Cina juga harus membayar kompensasi dan menyerahkan Hongkong kepada Inggris.
Pendekatan agresif Inggris ke Cina dimotori oleh Sekretaris Luar Negeri Inggris, Henry Temple (Viscount Palmerston III). Ia juga selalu menyiapkan pasukan untuk mempertahankan kepentingan-kepentingan Inggris di luar negeri. Akibat kalah perang dan kemudian perjanjian berat sebelah, Cina terpaksa memenuhi permintaan bangsa Eropa. Cina khawatir perdagangan asing akan menyebabkan Cina berada di bawah pengaruh asing.
Kerusuhan Sosial
Tahun-tahun Penting
1839
Para pejabat Cina menghancurkan gudang candu milik Inggris
1839
Pecah Perang Candu I
1842
Cina menandatangani Perjanjian Nanking
1842
Hongkong menjadi teritori Inggris
1844
Perjanjian Wanghia dengan Amerika Serikat
1851
Pemberontakan Taiping
1856
Pecah Perang Candu II
1858
Cina menandatangani Perjanjian Tientsin
1898
Inggris memperoleh hak sewa atas Teritori Baru (Hongkong) selama 99 tahun
Persoalan, terutama dipicu bangsa Inggris, meletus lagi pada pertengahan 1850-an dan mengakibatkan pecahnya Perang Candu II (1856-1860). Perang ini juga dimenangkan oleh Inggris dan berakhir dengan perjanjian lain. Perjanjian Tientsin ditandatangani pada 1858. Perjanjian ini memaksa Cina membuka lebih banyak pelabuhannya untuk berdagang dengan perdagang Eropa. Negara-negara lain, seperti Prancis dan Amerika Serikat, juga membuat perjanjian sepihak yang memberikan hak khusus bagi warganya dan meningkatkan pengaruh Barat di Cina. Sejak itu, para pedagang dan misionaris segera berdatangan ke Cina.
Pada waktu yang sama, kekaisaran besar Cina berangsur meredup. Pemerintahan Dinasti Qing (Manchu) mengalami banyak pemberontakan yang dimulai oleh para petani yang kelaparan. Pemberontakan Taiping (1851-1864) dipicu oleh orang-orang yang menginginkan agar lahan dibagi rata untuk semua penduduk. Kekuasaan asing ikut membantu meredakan pemberontakan ini karena menginginkan Dinasti Qing tetap berkuasa, sehingga perjanjian-perjanjian yang telah dibuat masih tetap berlaku.

Perang Boxer

Di bawah pemerintahan Dinasti Qing (Manchu) yang lemah, kekaisaran Cina tampaknya  akan pecah. Ketidakpuasan atas pengaruh Barat memicu Perang Boxer pada 1900.
Imperium Cina pada masa Dinasti Manchu yang lemah dan korup didominasi oleh persaingan antar-kekuatan Eropa. Banyak kelompok kuat berjuang menghalau pengaruh asing dari negeri mereka. Namun, bangsa Cina menyadari mereka harus meniru cara Barat dan mendirikan industri baru.
Tahun-tahun Penting
1898
Reformasi 100 Hari berakhir saat kaisar wanita Cixi berkuasa. Inggris menyewa Hongkong selama 99 tahun
1900
Kedutaan asing di Beijing dikepung oleh para pemberontak Boxer. Pasukan Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang mengakhiri pemberontakan. Ratu mengungsi ke Beijing
1905
Sun Yat-sen membentuk Partai Nasionalis Cina atau Kuomintang
1911
Angkatan bersenjata mendukung pemberontakan kaum nasionalis. Dinasti Manchu berakhir dan negara republik dideklarasikan. Sun Yat-sen menjadi presiden provinsial
Pada 1898, kaum reformis berkuasa untuk waktu singkat. Undang-undang baru dibuat untuk menjadikan Cina sebagai negara modern. Mereka ingin mengubah layanan sosial dan menangani masalah harian, bukan hanya bergantung pada teks kuno yang sudah ketinggalan jaman. Mereka mendirikan universitas di Peking (Beijing) dan mereformasi angkatan bersenjata. Namun, Reformasi 100 Hari berakhir ketika permaisuri janda, Cixi (juga dikenal sebagai Tz’u-his) berkuasa. Banyak kaum reformis tewas dieksekusi.
Pada 1900, pemberontakan dimulai di Cina bagian utara melawan seluruh orang asing, terutama orang Kristen. Aksi ini dipimpin oleh kelompok rahasia yang disebut Society of Harmonius Fist atau Boxer, yang secara rahasia didukung oleh Dinasti Manchu.
Berakhirnya Dinasti Manchu
Pada 1900, kaum Boxer menyerang kedutaan Eropa di Beijing. Mereka membunuh banyak orang Eropa, terutama para misionaris, termasuk orang Cina Kristen. Mereka menyandera sejumlah kedutaan Eropa selama 2 bulan. Pasukan internasional dibentuk dari gabungan pasukan Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Jepang, dan Rusia. Awalnya, unit kecil pasukan dengan persenjataan minim tidak mampu menguasai Beijing. Pada musim panas, pasukan kedua sukses membebaskan kedutaan.
Setelah memadamkan pemberontakan, pemerintah Cina tidak mampu mencegah campur tangan kekuatan asing. Mereka mendesak menghukum para pejabat yang terlibat dalam pemberontakan, membayar ganti rugi, dan mengizinkan pasukan asing berada di kedutaan besar. Golongan terdidik Cina mulai menyusun rencana untuk menggulingkan Dinasti Manchu.
Pada 1905, Sun Yat-sen mendirikan Partai Nasionalis Cina atau Kuomintang. Sejumlah rencana rahasia dan pemberontakan diatur oleh kelompok lain. Pemerintahan Dinasti Manchu terus kehilangan kendali atas negara. Pada 1911, seorang jenderal yang berkuasa, Yuan Shikai, memberikan dukungan kepada kaum nasionalis. Kekuasaan Dinasti Manchu jatuh. Pemerintahan republik dideklarasikan.

Perang Balkan

Negara-negara Balkan yang terletak di ujung tenggara Eropa telah lama menjadi kawasan yang bergejolak. Ketika Kekaisaran Ottoman Turki terpuruk, mereka mulai menginginkan kemerdekaan.
Ketika Imperium Ottoman terus menyusut, negara-negara Balkan di tenggara Eropa mulai menuntut kemerdekaan dan merasakan semangat nasionalisme. Mereka didorong oleh Rusia dan Austria-Hongaria, yang tidak menginginkan adanya kekuasaan lain meningkatkan pengaruh di sana.
Inggris dan Jerman mendukung Austria-Hongaria karena mereka tidak ingin Rusia mendapatkan akses ke pelabuhan-pelabuhan bebas es di Laut Mediterania dan Laut Hitam. Yunani adalah negara yang pertama kali memberontak. Yunani segera mendeklarasikan kemerdekaannya pada tahun 1829. Pada 1878, Serbia, Montenegro, dan Romania juga merdeka, sementara Bulgaria memperoleh pemerintahan sendiri. Austria-Hongaria menduduki teritori Ottoman, yaitu Bosnia dan Herzegovina pada 1908, sehingga wilayah ini tidak jatuh ke bawah kekuasaan nasionalisme Serbia yang sedang tumbuh di kawasan ini. Albania dan Macedonia tetap berada di bawah kontrol Ottoman. Ketika Italia menyerang teritori Turki, yaitu Tripoli di Libya pada 1912, ini menunjukkan betapa lemahnya kekuatan militer Turki. Perjanjian Ouchy memberi wilayah Tripoli ke Italia.
Perang Balkan I
Pada Maret 1912, Serbia dan Bugaria membuat perjanjian rahasia untuk bergabung menyerang Turki. Keduanya membagi teritori Imperium Ottoman. Liga Balkan yang terdiri dari Serbia, Bulgaria, Yunani, dan Montenegro, dibentuk pada bulan Oktober tahun itu. Pada akhir Oktober, semua anggota liga berperang melawan Turki.
Perang Balkan I berakhir pada 1913 dengan penandatanganan Perjanjian London, setelah dunia melihat bahwa Turki begitu mudah dikalahkan. Dalam banyak hal, Perang Balkan I hanya meningkatkan persaingan di antara negara-negara Balkan itu sendiri. Serbia dan Yunani menguasai Macedonia, sementara Bulgaria memperluas wilayahnya ke Laut Aegea.
Perang Balkan II
Albania mendeklarasikan kemerdekaannya sebagai kerajaan Muslim pada Desember 1912. Austria-Hongaria mendukung kemerdekaan Albania karena mereka ingin menghentikan perluasan kekuasaan Serbia ke Laut Adriatik. Penyelesaian damai membawa ketidakpuasan di antara para pemenang. Bulgaria memperoleh lebih banyak wilayah, tetapi Serbia menginginkan lebih di Macedonia. Tiga sekutu awal Bulgaria bergabung untuk menentangnya.
Tahun-tahun Penting
1829
Yunani mendeklarasikan kemerdekaan dari Turki
1878
Montenegro, Serbia, dan Romania mendeklarasikan kemerdekaan
1903
Peter I (1844-1921) terpilih sebagai Raja Serbia
1908
Austria-Hongaria menduduki Bosnia dan Herzegovina
1908
Bulgaria memproklamasikan kemerdekaan
1908
Ferdinand I (1861-1948) menjadi Raja Bulgaria
1912
Liga Balkan dibentuk oleh Serbia, Bulgaria, Yunani, dan Montenegro
1912
Perang Balkan I
1912
Perang Italia-Tuki berakhir dengan Perjanjian Ouchy
1913
Perang Balkan II
Perang Balkan II pecah pada Juni 1913, ketika Bulgaria menyatakan perang melawan Serbia dan Yunani. Romania dan Turki ikut bergabung melawan Bulgaria. Bangsa Bulgaria dikepung dan disergap. Pada bulan Agustus, Perjanjian Bucharest ditandatangani. Macedonia dibagi antara Serbia dan Yunani, sementara Romania memperoleh sebagian dari Bulgaria. Penyelesaian ini memperluas kekuasaan Serbia. Count Otto von Bismarck, kanselir Jerman, telah mengatakan (sebelum dua perang di Balkan pecah), bahwa perang utama berikutnya di Eropa akan disebabkan oleh, “beberapa hal bodoh di Balkan”. Dengan demikian, von Bismarck terbukti benar.

Tuesday, October 2, 2012

Perang Salib

Setelah jatuhnya Kekaisaran Romawi Barat pada tahun 476, Kekaisaran Romawi Timur terus mengawasi jalan masuk ke tempat-tempat suci orang Kristen di Yerusalem dan Betlehem. Akan tetapi, pada tahun 610, Yerusalem direbut oleh bangsa Persia, yang menguasainya hingga tahun 630. Pada tahun yang sama, Nabi Muhammad mulai menyebarkan ajaran bahwa Islam harus disebarkan, dan para pengikutnya menguasai Yerusalem pada tahun 683. Menjelang awal abad ke-8, mereka menaklukkan pantai-pantai Laut Mediterania, dari Spanyol hingga Konstantinopel. Mereka senantiasa bertenggang rasa terhadap orang-orang Kristen yang berziarah ke tempat-tempat suci, dan Charlemagne bahkan membentuk aliansi dengan Khalifah Harun al-Rasyid (764?-809).

Tahun-tahun Penting
1095-1099
Perang Salib I, untuk merebut Palestina dan Suriah
1187
Perang Salib II, Saladin merebut kembali Yerusalem
1189-1192
Perang Salib III
1202-1204
Perang Salib IV, penjarahan Konstantinopel
1212
Perang Salib Anak-anak
1218-1221
Perang Salib V- gagal
1228-1229
Perang Salib VI- sukese sebagian
1291
Palestina direbut oleh sultan Mesir
Tahun 1071, kaisar dari Kekaisaran Byzantium Romanus Diogenes mendeklarasikan perang terhadap orang Turki Seljuk, namun ia mengalami kekalahan. Ini mengakibatkan tumbangnya Kekaisaran Byzantium dan huru-hara umum di seantero Timur Tengah sementara khalifah-khalifah Arab dan sultan-sultan Turki yang bersaing saling merebut batas kekuasaan atas wilayah-wilayah yang tersisa. Pada saat itu orang Turki Seljuk berhasil memotong jalan masuk ke Tanah Suci bagi orang Kristen di Eropa. Pada tahun 1095, di Sidang Clemont, Paus Urbanus II menyerukan kepada orang Kristen untuk membebaskan Palestina dari kekuasaan kaum Muslim. Para ksatria dan rakyat jelata mengikuti seruan itu di bawah pimpinan Peter si Pertapa dan Walter si Miskin. Kebanyakan di antara mereka tidak pernah mencapai Palestina, sementara sisanya menjadi gerombolan orang kelaparan dan liar. Pada tahun 1099, satu pasukan tentara Salib berdisiplin tinggi merebut kembali Yerusalem, dan Perang Salib Pertama dinilai berhasil. Mereka membunuh banyak penduduk. Mereka lalu mendirikan empat kerajaan Pasukan Salib di Palestina dan Suriah. Pada mulanya, orang Sarasen, sebutan Pasukan Salin bagi orang Turki Seljuk, membiarkan keberadaan kerajaan Pasukan Salib itu.
Namun, beberapa anggota Pasukan Salib melakukan tindakan buruk kepada kaum Muslim. Pada 1187, Sultan Salahudin al-Ayyubi (Pasukan Salib memanggilnya Saladin) yang Muslim mengalahkan Pasukan Salib dan merebut kembali Yerusalem. Pada 1191, Raja Richard I dari Inggris, yang dijuluki di Hati Singa, memimpin pasukan ke Tanah Suci. Ia merebut Siprus dan kota Akra, tetapi tidak dapat merebut kembali Yerusalem. Saladin menghormati Richard. Mereka berdua akhirnya menandatangani perjanjian untuk membagi Tanah Suci, termasuk Yerusalem. Pasukan Salib mendirikan ‘Kerajaan Kedua’ di kota suci dengan pusat di Akra.
Perang Salib Keempat, tahun 1200-1204, tidak berhasil mengamankan Yerusalem, namun bangsawan-bangsawan Perancis benar-benar menjarah Kontantinopel sebagai ganti biaya pejalanan dari Italia dan mendirikan kerajaan Kristen Romawi di sana yang bertahan hingga tahun 1262.
Tidak ada satu pun dari keempat Perang Salib berikutnya, yang terjadi antara tahun 1212 dan 1270, yang berhasil seperti Perang Salib Pertama. Sebagian besar di antaranya sama sekali pengalami kegagalan. Agaknya, Perang Salib yang paling tragis adalah Perang Salib Anak-anak tahun 1212. Hanya 201 dari 50.000 anak-anak yang berasal dari Perancis dan Jerman ke Tanah Suci kembali dalam keadaan masih hidup. Sisanya mati kelaparan atau ditangkap untuk dijadikan budak.
Perang Salib Kelima yang dilancarkan untuk menyerbu Mesir mengalami kegagalan. Tiga perang salib terakhir (1218-1272) juga menemui kegagalan. Palestina akhirnya ditaklukkan pada 1291 oleh Sultan Mesir.
Dari segi sejarah, makna Perang Salib bagi Eropa bukan karena perang-perang itu merupakan serangkaian kekalahan militer, melainkan fakta bahwa semua itu mengakibatkan Eropa membuat kontak dengan Timut. Meskipun perang-perang itu gagal dalam membebaskan Yerusalem secara pemanen dari kekuasaan orang Arab, semua Perang Salib itu dinilai berhasil membuka sebuah cakrawala baru dan memberikan sebuah sudut pandang yang luas bagi orang Eropa. Faktanya, banyak orang percaya bahwa Perang Salib adalah sesuatu yang mempercepat perubahan yang akhirnya mengantarkan lahirnya Renaisans.