This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Sejarah Amerika Utara. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Amerika Utara. Show all posts

Sunday, April 13, 2014

Amerika Serikat: Masa Antara Perang


Bahkan sebelum pecah perang di Eropa, Amerika Serikat telah menjalankan politik isolasi. Kebijakan ini menyebabkan negara tidak terlibat dalam urusan luar, kecuali jika dipandang perlu untuk mempertahankan diri. Keterisolasian secara geografis dan kesibukan dalam urusan domestik memungkinkan pemimpin Amerika Serikat untuk tetap tidak terlibat dalam persekutuan dengan negara-negara Eropa.
Ketika Perang Dunia I pecah di Eropa, sebagian besar penduduk Amerika Serikat ingin tetap netral. Presiden Woodrow Wilson menghabiskan periode 1914 sampai 1917 dengan mencoba melakukan mediasi antara negara-negara Eropa sedang berperang dan menjaga agar  Amerika Serikat tetap tidak terlibat dalam perang. Amerika Serikat baru ikut berperang pada 1917, setelah kapal Amerika Serikat diserang oleh kapal selam Jerman, U-boot (Inggris menyebutnya U-boat).
Setelah Perang Dunia I, keinginan melakukan isolasi semakin kuat. Pada 1919, Senat Amerika Serikat memutuskan untuk tidak bergabung dalam Liga Bangsa-Bangsa. Sejak awal 1920-an, ekonomi Amerika Serikat cepat pulih dari depresi sehabis perang. Produksi industri mulai tumbuh.
Pada 1920, Warren Harding (1865-1923) terpilih sebagai presiden. Ia menjanjikan “kembali ke keadaan normal” yang berarti Amerika Serikat tidak akan ikut ambil bagian dalam hubungan internasional. Ia juga membuat hokum dan aturan negara. Salah satunya, pelarangan alkohol. Ini menandai dimulainya periode Pelarangan di Amerika Serikat.
Pelarangan dan Gangster
Sebelum Perang Dunia I, Women’s Christian Temperance Union dan kelompok penentang lainnya memperjuangkan kebijakan Pelarangan. Mereka berpendapat bahwa alkohol adalah minuman berbahaya yang dapat menghancurkan kehidupan keluarga dan memicu tindak kejahatan. Usaha ini membuat Amandemen ke-18 ditambah ke dalam Konstitusi Amerika Serikat pada 1920. Amandemen ini berisi pelarangan industri manufaktur, perjualan, dan transportasi minuman beralkohol di Amerika Serikat. Banyak orang berpikir bahwa aturan ini akan mengurangi tindak kejahatan. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya. Para gangster mendirikan kedai minum yang disebut speakeasy, tempat mereka menjual minuman selundupan atau illegal. Perang terbukan antargeng menjadi pemandangan yang umum, sementara korupsi di lembaga penegak hokum kerap terjadi. Ketika disadari bahwa kebijakan Pelarangan ini tidak berjalan sebagaimana mestinya, Amandemen ke-21 disahkan untuk mengakhiri kebijakan Pelarangan pada 1933.
Lonjakan dan Kegagalan
Dengan berakhirnya Perang Dunia I, Amerika Serikat menarik diri dari panggung dunia dan melanjutkan kebijakan isolasi pada 1930-an, bahkan memperkenalkan kebijakan pembatasan imigrasi. Selama lonjakan ekonomi pada 1920-an, Amerika Serikat menjadi negara pertama di mana jutaan penduduknya mengendarai mobil, mendengarkan radio, dan dapat menyaksikan film. Masa ini merupakan pencapaian terbesar dalam bidang seni, termasuk pertumbuhan industri film Hollywood, dan kemajuan di bidang arsitektur. Garis langit New York terus berubah ketika semakin banyak gedung dibangun. Namun Raungan Abad ke-20 (Roaring Twenties), yaitu Era Musik Jazz, berakhir dengan runtuhnya bisnis dan ekonomi pada 1929. Untuk mengatasi pengangguran massal, Presiden Franklin Delano Roosevelt (1882-1945) menggunakan dana pemerintah dari pajak untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru guna mengatasi tingginya tingkat pengangguran.
Berakhirnya Kebijakan Isolasi
Presiden Roosevelt meneruskan kebijakan isolasi luar negeri hingga meletusnya perang di Eropa pada 1939. Kebijakan ini berakhir tiba-tiba saat Jepang menyerang Pearl Harbor, pelabuhan Angkatan Laut Amerika Serikat di Hawaii, Samudera Pasifik, pada 7 Desember 1941. Presiden Roosevelt menggambarkan 7 Desember sebagai “tanggal yang akan dikenang dengan kengerian”. Hari berikutnya, Kongres mengumumkan perang atas Jepang. Amerika Serikat ikut dalam Perang Dunia II dan politik isolasi pun berakhir.

Friday, February 28, 2014

Serbuan Tambang Emas California

Adalah sebuah batu koral berwarna kuning yang ditemukan secara tak sengaja oleh seorang yang bernama James Marshall (1810-1885) yang mengawali migrasi massal terbesar dalam sejarah modern. Kecuali Perang Sipil Amerika, peristiwa penemuan itu merupakan sebuah peristiwa yang berlangsung paling lama dan menentukan kedudukan Amerika Serikat pada abad ke-19.
Selama beberapa dekade pertama sejak eksistensinya, Amerika Serikat sebetulnya hanya terdiri dari 13 koloni yang asli ditambah tanah-tanah di sekelilingnya yang merupakan ‘padang belantara’ Appalachia dan ‘bagian barat-laut’ dari negara dengan Great Lakes. Sekalipun ukuran negara tersebut hampir dua kali lipat pada tahun 1803 dengan dibelinya Louisiana dari Prancis, kebanyakan dari teritori itu merupakan sebuah wilayah besar yang belum terpetakan dan dikenal sebagai Padang Besar Amerika. Jauh di sebelah barat, Spanyol, dan (setelah 1821) Meksiko, menguasai negara-negara bagian di tenggara. Meskipun demikian, penguasaan Meksiko atas California menjadi makin dan makin lemah sementara pemukim-pemukim Amerika yang mengalir sedikit demi sedikit secara tetap terus memasuki Oregon maupun California. Tahun 1846, penduduk Amerika mendeklarasikan sebuah “Republik California” dan pada tahun itu pula Ameirka Serikat membeli Oregon dari pemerintah Inggris dan mendeklarasikan perang terhadap Meksiko. Dua tahun kemudian, tahun 1848, Meksiko menyerahkan California, bersamaan dengan wilayah-wilayah yang hari ini bernama Nevada, Utah, Colorado, Arizona, dan New Mexico, kepada Amerika Serkat. Pada saat itu, penduduk Amerika di wilayah tersebut sudah bertumbuh jauh lebih besar dibandingkan penduduk Meksiko.
Meskipun demikian, California masih jauh dari ‘peradaban.’ Akan tetapi, semua ini segera berubah. Pada 24 Januari 1848, James Marshall, seorang tukang kayu di penggergajian milik John Sutter di dekat Sacramento di kaki bukit Sierra Nevada, menemukan sebuah bongkahan emas yang sangat besar. Sebuah pencarian lebih jauh memunculkan lebih banyak bongkahan emas, dan tidak lama kemudian, frasa “ada emas di kaki bukit itu” bergaung di seantero bagian tengah California.
Pada tahun 1849, berita mengenai penemuan emas sudah mencapai Pantai Timur Amerika, dan Serbuan Tambang Emas California pun dimulai. Lebih dari 50.000 “orang pencari tambang emas” mengalir ke California, tiba di sana melalui jalan darat dan jalan laut setelah melintasi ujung Amerika Latin. Banyak bongkahan emas yang beratnya mendekati 45 kilogram ditemukan. Jumlah nilai emas yang digali dari pegunungan Sierra dalam waktu lima tahun pertama serbuan emas itu saja melebihi nilai dari jumlah emas yang dihasilkan bagian-bagian lain di dunia.
San Francisco, sebagai gerbang masuk ke tambang-tambang emas itu, terus bertumbuh sebagai kota yang penting dan pelabuhannya menjadi dikenal sebagai “Gerbang Emas”. Penduduk kota itu pun bertumbuh dari 800 sampai 25.000 jiwa dalam kurun waktu beberapa bulan. Dan ketika pada tahun 1850 California diakui sebagai anggota Union (Amerika Serikat), perserikatan negara bagian federal, penduduknya sudah dua kali lipat dibandingkan pada waktu emas pertama kali ditemukan di penggergajian milik Sutter. Gejolak-gejolak di bidang keuangan sebagai akibat dari serbuan tambang emas itu sangat mempengaruhi pasar uang di seluruh dunia. Perpindahan penduduk secara massal yang dipercepat oleh serbuan tambang emas mengubah jalannya sejarah Amerika untuk selama-lamanya dengan menciptakan, hampir dalam waktu semalam, sebuah peradaban Amerika di pantai barat benua itu.

Sunday, December 8, 2013

Sejarah Amerika Serikat: Perang Dataran

Bentang darat yang terbentang di Midwest Amerika tampak sangat luas dan tidak berujung. Pada 1800-an, daerah ini menjadi medan peperangan para pihak yang memperebutkan kepemilikan lahan.
Banyak penduduk pribumi Amerika tinggal di Dataran Besar (Great Plains), Amerika bagian barat, dan telah berlangsung selama ribuan tahun. Kawasan luas ini membentang dari Sungai Mississippi di bagian timur sampai ke Pegunungan Rocky di barat, dan dari Kanada di bagian utara sampai Texas di bagian selatan. Sampai abad ke-17, banyak suku yang bermukim di wilayah ini hidup sebagai petani. Mereka menanam jagung Indian, buncis, dan tanaman lain, di samping berburu banteng dengan menggunakan panah. Pola hidup ini mulai berubah pada abad ke-17, ketika bangsa Spanyol memerkenalkan kuda.
Dengan kuda, mereka dapat dengan mudah mengejar banteng. Banteng tidak hanya menyediakan daging untuk dimakan. Tulangnya dapat diolah menjadi aneka peralatan dan senjata. Kulit banteng dapat dibuat tenda dan pakaian. Beberapa kelompok besar suku asli Amerika dikenal sebagai suku bangsa Dataran. Ketika pendatang kulit putih tiba, beberapa kelompok penduduk asli ini terdesak berpindah ke barat. Mereka meninggalkan tanah kelahiran mereka di wilayah timur Sungai Mississippi.
Ke Barat
Pemerintah mendorong penduduk untuk berpindah ke barat. Berdasarkan Homestead Act 1862, sebuah keluarga dapat memiliki tanah seluas 65 hektare dengan harga murah dan tidak diperbolehkan menjual tanah untuk jangka waktu 5 tahun. Lebih banyak lahan diberikan kepada mereka yang mencatat kemajuan dalam pengeboran sumur minyak dan perkebunan. Akta ini mendorong petani untuk berpindah dan bemukim di Dataran Besar.
Pemerintah juga mendorong pembangunan jalur kereta api, yang digunakan untuk membawa penduduk ke wilayah-wilayah yang belum didiami. Pemerintah memberikan lahan dalam jumlah besar untuk jalur kereta sehingga banyak jalur dibangun hanya untuk mendapatkan lahan. Pada 1869, jalur kereta Union Pasific berhasil dirampungkan, menghubungkan Amerika dari pantai timur ke pantai barat.
Bertahan Hidup
Pembukaan jalur kereta segera mengubah wajah Amerika. Ini mendorong lebih banyak pemukim baru berdatangan. Timbul konflik di antara dua kelompok masyarakat, pendatang dan pribumi. Ketika para ketua suku penduduk pribumi menandatangani perjanjian lahan dengan kaum pendatang, perjanjian ini diartikan berbeda oleh kedua pihak. Arti kepemilikan pribadi kaum pendatang tidak berarti apa-apa bagi penduduk lokal yang menganggap mereka masih dapat menggunakan lahan itu untuk berburu. Maka mulailah terjadi perang. Penduduk pribumi membeli senjata dan menyerang rumah, kereta kuda, jaringan kereta api, dan kavaleri Amerika Serikat.
Mulai tahun 1866 terjadi sejumlah perang. Presiden Amerika Serikat, Rutherford B. Hayes, menyatakan pada 1877 bahwa, “Banyak, jika tidak sebagian besar, perang Indian dipicu oleh pelanggaran janji dan kesepakatan yang tidak adil”. Membunuh banteng, sebagai sumber pangan utama suku bangsa Dataran, dapat menghancurkan penduduk pribumi Amerika. Pada tahun 1860, terdapat sekitar 15 juta banteng, tapi pada 1885 hanya tersisa sekitar 2.000 ekor. Suku-suku Dataran yang dapat bertahan hidup dipaksa masuk ke penampungan di Oklahoma. Kerap dengan lahan yang kurang subur, mereka diharapkan menjadi petani.
Penduduk pribumi Amerika sudah terbiasa hidup berburu dan tidak ingin bercocok tanam. Mereka tidak dianggap sebagai warga negara Amerika dan hanya memiliki sedikit hak sipil. Pertempuran sengit dengan pasukan Amerika mengakibatkan tewasnya ribuan penduduk asli Amerika. Pertempuran terakhir terjadi di Wounded Knee, South Dakota, pada 1890, di mana pasukan Amerika membunuh 200 orang penduduk suku Sioux. Segera setelah itu, semua penduduk asli dipindahkan ke penampungan. Dengan itu, pola hidup penduduk asli Amerika pun berakhir.

Wednesday, September 18, 2013

Memperebutkan Texas


Memperoleh kemerdekaan dari Spanyol pada 1821, Meksiko segera berkonflik dengan tetangganya, Texas, menyangkut kepemilikan lahan, dan memicu perang.
Pada saat Meksiko memperoleh kemerdekaan, wilayah perbatasannya terentang jauh ke utara, meliputi banyak area yang kini menjadi wilayah Amerika Serikat bagian selatan. Banyak penduduk Amerika Serikat bermukim di Texas yang merupakan bagian wilayah Meksiko. Pada tahun 1835, Texas mendeklarasikan kemerdekaannya. Penduduk Texas menunjuk Sam Houston (1793-1863) sebagai komandan militer. Ia menduduki kota San Antonio. Lawannya, Jenderal Antonio Lopez de Santa Anna, memimpin pasukan besar Meksiko memasuki Texas untuk menumpas pemberontakan. Ia mengepung Alamo dai pusat kota San Antonio. Ia merebut kota ini kembali. Davy Crockett (1786-1836), Jim Bowie, dan William B. Travis adalah para pejuang yang mempertahankan Alamo, yaitu gereja tua yang terkadang digunakan sebagai benteng. Pada pejuang Texas yang berjumlah 186 orang, dikalahkan oleh pasukan Meksiko yang berjumlah 5.000 prajurit selama 11 hari. Alamo dijadikan simbol keberadaan orang Texas selama perang melawan Meksiko.
Jenderal Santa Anna kemudian dikalahkan oleh pasukan Sam Houston pada pertempuran di San Jacinto pada tahun 1836. Texas lalu merdeka dan dikenal sebagai Lone Star Republic. Setelah beberapa tahun kemerdekaan, penduduk Texas memilih bergabung dengan Amerika Serikat. Pada tahun 1845, Texas menjadi negara bagian Amerika Serikat ke-28, dengan Sam Houston sendiri sebagai gubernur negara bagian. Ketegangan antara penduduk Texas dan Meksiko berlanjut ketika orang-orang Texas ingin memperluas wilayahnya.
Peperangan dan Perdamaian
Presiden Polk (1795-1849) mengirim pasukan ke Rio Grande untuk menginvasi daerah yang masih diklaim oleh Meksiko. Bangsa Meksiko menetang. Maka, pecahlah Perang Amerika Serikat-Meksiko. Pasukan Amerika Serikat menduduki Mexico City pada tahun 1847. Pasukan Meksiko kemudian menyerah. Perjanjian Guadalupe-Hidalgo pada tahun 1848 memberi Amerika Serikat teritori baru yang sangat luas termasuk negara-negara bagian modern seperti California, Nevada, Arizona, Utah, serta sebagian New Mexico dan Texas.

Jalur Kereta Api Lintas Benua

Serbuan Tambang Emas California pada tahun 1849 dan perpindahan penduduk secara massal ke pantai Pasifik yang merupakan dampaknya menunjukkan dengan jelas bahwa sarana transportasi yang lebih cepat untuk menghubungkan wilayah-wilayah di Amerika Utara daratan merupakan suatu kebutuhan. Wilayah yang membentang sangat luas antara Sungai Mississippi dan Samudera Pasifik adalah sebuah dataran yang lebar, dan dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menempuhnya. Perjalanan darat ini begitu sukar sehingga banyak orang memilih untuk bepergian dengan kapal yang mengitari ujung selatan Amerika Latin—sebuah jarak yang hamper delapan kali panjangnya—daripada menggunakan jalan darat.
Banyak usulan untuk pembuatan jalur kereta api lintas darat, atau jalur kereta api “Pasifik”. Bagi para pebisnis California, yang terisolasi dari negara-negara bagian lain Amerika Serikat, kebutuhan itu sangat mendesak. Rute-rute dari Chicago ke Puget Sound menjadi bahan pertimbangan, demikian juga rute-rute yang langsung melintasi dataran-dataran dari Omaha ke San Francisco. Beberapa kelompok masyarakat di Selatan mengusulkan gagasan sebuah rute melalui Texas, Arizona, dan New Mexico dengan pertimbangan bahwa cuaca di sana biasanya lebih baik ketimbang melewati rute-rute lain yang diusulkan, namun gagasan ini disimpan di peti es ketika Perang Sipil Amerika pecah. Sebagian besar pejabat yang terlibat kesepakatan bahwa rute sentral merupakan rute yang terbaik.
Perang Sipil juga menggarisbawahi perlunya sebuah jalur kereta api lintas darat. Dan, pada tahun 1862 Presiden Abraham Lincoln (1809-1865) menandatangani undang-undang Pacific Railroad Act, yang mewajibkan dibentuknya badan usaha dan diberi nama Union Pacific Railroad yang akan membuat jalur kereta api kea rah barat dari Omaha, Nebraska. Sementara itu di California, setelah mempersiapkan sebuah penelitian untuk mencari rute terbaik menuju Sierra Nevada, sekelompok pengusaha wiraswasta mulai mengerjakan proyek mereka yang dinamakan Central Pacific Railroad pada tahun 1861. Dikenal hanya sebagai “Empat Besar”, pengusaha-pengusaha tersebut adalah Charles Crocker (1822-1888), Mark Hopkins (1802-1887), Collis Huntington (1821-1900), dan Leland Stanford (1824-1893).
Central Pacific dilibatkan dalam perencanaan jalur kereta api “Pacific” dengan pengertian bahwa para anggota kru pemasang rel akan bertemu di sisi timur dari Sierra Nevada. Dari kemajuan pekerjaan, tampak jelas bahwa kru Central Pacific bekerja jauh lebih gesit dibandingkan yang sebelumnya diperkirakan, dan kru Union Pacific bekerja lebih lamban. Pada saat itulah diputuskan bahwa kedua jalur akan terus dilanjutkan pemasangannya sampai kedua ujung bertemu, di mana pun tempatnya. Kedua proyek berubah menjadi sebuah lading pekerjaan raksasa di wilayah Nevada, Wyoming, dan Utah, dengan anggota-anggota kru yang berbaring untuk memasang rel di lapangan-lapangan terbuka sepanjang kurang lebih 17 kilometer dalam waktu satu hari.
Akhirnya, pada tanggal 10 Mei 1869, lokomotif yang melintasi dua jalur kereta api itu bertemu di Promontory, Utah, dan sebuah paku emas ditancapkan untuk menandai sambungan antara rel dengan rel. Sebuah perjalanan yang tadinya memakan waktu berbulan-bulan dapat dilaksanakan hanya dalam beberapa hari. Sebuah negara besar yang terdiri atas negara-negara bagian yang berdampingan dengan dua samudera sekarang dihubungkan dari pantai ke pantai dengan rel baja.

Sejarah Berdirinya Amerika Serikat


Penduduk di 13 koloni di Amerika tidak puas dengan pemerintahan Inggris. Mereka memperjuangkan kemerdekaan. Akhirnya, sebuah bangsa baru pun lahir.
Pada akhir Perang Tujuh Tahun pada 1763, pemerintahan Inggris di London dan pemukin Inggris di Amerika merasa puas. Mereka berhasil mengalahkan Prancis dan merebut wilayah Kanada, juga kea rah barat hingga Sungai Mississippi dari tangan Prancis. Namun, hilangnya ancaman dari orang Prancis membuat para pemukin tidak lagi memerlukan bantuan Inggris.
Namun, Inggris ingin memerintah bekas wilayah kekuasaan Prancis dan menarik pajak tinggi untuk membayar tentara yang mempertahankan daerah yang baru direbut. Pajak yang dinaikkan itu ditarik dari 13 koloni. Lalu, dewan-dewan kolonial lokal berpendapat, tidak adil jika Inggris menerapkan pajak atas koloni-koloni di Amerika karena mereka tidak memiliki suara di pemerintahan Inggris. Mereka mengatakan “penarikan pajak tanpa adanya perwakilan merupakan tirani”. Koloni-koloni itu melarang semua impor dari Inggris. Pada 4 Juli 1776, para utusan dari ke-13 koloni menetapkan Deklarasi Kemerdekaan yang menyatakan hak untuk memerintah sendiri.
Kemerdekaan
Berpedoman pada berbagai pemikiran Thomas Jefferson (1743-1826), dan dipengaruhi oleh Pencerahan, Deklarasi Kemerdekaan Amerika 1776 menyatakan: ”Kami memegang teguh kebenaran ini sebagai bukti bahwa semua manusia diciptakan sederajat, bahwa mereka diberkati oleh Penciptanya denga hak-hak yang tidak dapat dilanggar, antara lain Kehidupan, Kebebasan, dan mencari Kebahagiaan.”
Perang Revolusi Amerika (sejarawan Inggris menyebut Perang Kemerdekaan Amerika) dimulai pada tahun 1775. Mulanya, Inggris meraih sejumlah kemenangan, meski mereka harus bertempur hampir 5.000 kilometer jauhnya dari tanah air mereka. Namun, orang Amerika memiliki satu keuntungan karena mereka bertempur di wilayah sendiri dan meyakini bahwa perjuangan mereka akan berhasil. George Washington (1732-1799) pernah bertugas dalam ketentaraan Inggris di Amerika. Ia kemudian diangkat sebagai panglima tertinggi tentara Amerika yang baru, dan memerangi pasukan Inggris. Pada 1789, ia menjadi presiden pertama Amerika Serikat. Pada tahun 1781, enam tahun setelah konflik dimulai, tentara Inggris menyerah di Yorktown, Virginia. Inggris mengakui kemerdekaan Amerika dalam Perjanjian Paris pada tahun 1783.
Tahun-tahun Penting
1763
Berakhirnya Perang Tujuh Tahun, pasukan Inggris dikirim ke Amerika
1764
Undang-undang Gula menetapkan pajak atas gula cair yang diimpor
1765
Undang-undang Prangko menetapkan pajak atas dokumen
1775
Perang Revolusi Amerika dimulai. Pecah Pertempuran Bunker Hill
1776
Amerika Serikat mendeklarasikan kemerdekaannya
1781
Tentara Inggris menyerah di Yorktown
1783
Inggris mengakui kemerdekaan Amerika
1787
Rancangan Konstituisi Amerika dibuat
1789
Konstitusi Amerika disahkan. George Washington menjadi presiden pertama Amerika Serikat
1801
Thomas Jefferson menjadi presiden ketiga Amerika Serikat
Konstitusi Amerika Serikat
Pada tahun 1783, setelah menandatangani perjanjian damai dengan Inggris, bangsa Amerika Serikat yang baru harus memutuskan cara terbaik untuk mengelola negeri mereka. Mereka memutuskan untuk memiliki seorang presiden yang dipilih setiap empat tahun sekali. Presiden akan memerintah dengan bantuan Kongres (terbagi atas Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat), dan Mahkamah Agung. Rancangan Konstitusi (kumpulan peraturan hukum) untuk pemerintahan baru mengandung tiga pernyataan penting perihal negara Amerika Serikat.
Pertama, negara akan berbentuk serikat. Para pemukim yang telah memerangi Inggris akan hidup bersama untuk mengatur negeri mereka. Kedua, setiap negara bagian memiliki dewan perwakilannya sendiri, dan mengelola negara bagian sesuai keinginannya, asalkan tidak bertentangan dengan hukum negara federal. Ketika, baik presiden, Kongres, maupun Mahkamah Agung tidak diperkenankan mengontrol pemerintahan pusat Amerika sendirian. Sistem check and balance (perimbangan kekuasaan) akan memastikan bahwa kekuasaan dibagi di antara ketiga bagian pemerintahan ini.
Ini semua merupakan pemikiran baru yang dipengaruhi oleh Pencerahan, dan belum pernah diuji coba sebelumnya. Konstitusi revolusioner ini disahkan pada tahun 1789. Bangsa baru ini, dengan sejarahnya yang pendek dan penduduknya yang mengalami begitu banyak pengalaman buruk di masa lampau, menjadi republik demokratis sejati pertama di dunia. Mereka diatur menurut hukum yang disepakati bersama. Hanya dalam waktu 150 tahun, Amerika Serikat menjadi bangsa besar di dunia.

Monday, July 22, 2013

Sejarah Amerika Utara (1675-1791)

Pada pertengahan abad ke-18, terjadi konflik untuk menguasai Amerika Utara antara para pemukim dan penduduk pribumi Amerika, serta antara Inggris dan Prancis.
Para pemukim Inggris dan Prancis telah berperang selama bertahun-tahun. Pertama, selama Perang Raja Philip (1675-1676) ketika suku Wampanoag New England bangkit melawan para pemukim. Orang Wampanoag kalah, tetapi mereka berhasil membunuh 10% pria dewasa di Massachusetts. Perang Raja William (1689-1697) antara para pemukim Inggris dan Prancis tidak banyak memberikan hasil. Pada Perang Ratu Anne (1702-1713), Inggris merebut Acadia (Nova Scotia) dan menghancurkan wilayah Spanyol di St. Augustine, Florida. Akhirnya, dalam Perang Raja George (1744-1748), Inggris merebut Louisbourg, sebuah benteng Prancis, tapi kemudian dikembalikan pada tahun 1748 dengan ditukar dengan Madras di India.
Sebagian besar peperangan tersebut berhubungan dengan konflik di Eropa. Masing-masing pihak memiliki rencana jangka panjang, yaitu ingin menguasai Amerika Utara. Setiap pihak dibantu para penduduk pribumi Amerika yang ikut berperang di semua peperangan dan berharap memperoleh dukungan dalam pertikaian mereka dengan para pemukim yang merebut tanah mereka. Namun, penduduk pribumi Amerika umumnya dipecundangi para pemukim yang tidak menghormati mereka. Sebagai contoh, dari tahun 1730 hingga 1755, orang Shawnee dan Delaware dipaksa para pemukim untuk meninggalkan tanahnya.
Pemberontakan Pontiac
Pada tahun 1763, pecah pemberontakan penduduk pribumi Amerika yang disebut Pemberontakan Pontiac. Pontiac adalah kepala suku Ottawa dan konfederasi suku-suku Algonquin. Dengan semangat keagamaan, suku-suku itu menyerang berbagai tempat dari Great Lakes hingga Virginia. Sekitar 200 orang pemukim terbunuh. Inggris melakukan pembalasan. Pada tahun 1766, Pontiac mengadakan perdamaian. Ia dibunuh pada tahun 1769 oleh seorang penduduk pribumi yang dibayar Inggris di Illinois.
Kanada
Pada tahun 1754, Perang Prancis-Indian (bagian dari Perang Tujuh Tahun) berkobar. Para pendatang Prancis telah bermukim di lembah Ohio yang diklaim oleh Inggris. Karena itu, orang Prancis mendirikan sejumlah benteng dan menolak pergi. Prancis meraih beberapa kemenangan penting pada tahun 1755 (Benteng Duquesne) dan 1756 (Benteng Oswego). Namun, Inggris merebut Acadia pada 1755, Quebec pada 1759, dan Montreal pada 1760. Perjanjian Paris tahun 1763 membuat Inggris memperoleh banyak bekas jajahan Prancis. New France (Kanada Hilir) menjadi milik Inggris. Inggris telah menguasai seluruh wilayah di sebelah timur Sungai Mississippi. Beberapa daerah Prancis diserahkan kepada Spanyol sebagai pengganti Florida yang menjadi milik Inggris.
Tahun-tahun Penting
1675-1576
Perang Raja Philip
1686-1697
Perang Raja William
1710
Acadia (Nova Scotia) direbut Inggris
1739-1741
Inggris memerangi orang Spanyol di Florida
1743-1748
Perang Raja George
1755-1763
Perang Prancis-Indian
1763-1766
Pemberontakan Pontiac
1760
Inggris mengambil alih Kanada dari Prancis
1775
Perang Revolusi Amerika dimulai
Pada tahun 1791, Peraturan Konstitusional Inggris memisahkan wilayah yang dikuasai Quebec menjadi koloni Kanada Hulu dan Hilir. Tindakan ini dilakukan guna memperkuat Kanada setelah berakhirnya Perang Revolusi Amerika (sejarawan Inggris menyebut Perang Kemerdekaan Amerika), dengan berdirinya negara baru, Amerika Serikat. Penduduk Kanada Hulu adalah para penutur bahasa Inggris, sedangkan Kanada Hilir berbahasa Prancis. Inggris berhasil dalam memerangi Prancis, tetapi salah memahami para pemukim Amerika, sehingga berakibat hilangnya “Tiga Belas Koloni” pada tahun 1781, selama Perang Revolusi Amerika. Sekitar 40.000 pemukim yang setia kepada Inggris kemudian berpindah ke Kanada dari Amerika Serikat.

Wednesday, January 16, 2013

Penaklukkan Inggris Atas Kanada

Dua abad setelah Columbus membuka mata orang Eropa bahwa belahan bumi Barat itu eksis, negara-negara besar menetapkan wilayah kekuasaannya. Spanyol mengendalikan apa yang ada di sebelah selatan, wilayah yang sekarang bernama Amerika Selatan, kecuali Brazil, yang berada di bawah kekuasaan Portugis. Orang Inggris menuntut bagian timur dari wilayah yang sekarang bernama Amerika Serikat, dan Prancis mendominasi semua daratan sampai ke utara dan barat dari wilayah yang dikuasai Inggris.
Persaingan Inggris dengan Prancis
Barang-barang banyak ditemukan di wilayah sekeliling Great Lakes dan Sungai St. Lawrence, dan orang Prancis menemukan bahwa bulu hewan ini sangat berkualitas. Tidak lama kemudian terjadi banyak pertikaian antara orang Inggris dan Prancis mengenai perdagangan bulu hewan tersebut. Tahun 1670, Raja Charles II (1630-1685) menyewa perusahaan bernama Hudson Bay Company. Ini menandai permulaan dari upaya Inggris secara besar-besaran untuk menggali sumber-sumber daya di teritori sebelah utara Sungai St. Lawrence.
Tahun 1756, Perang Tujuh Tahun di Eropa mengadu kekuatan Inggris dan Prusia melawan Prancis, Austria, Rusia, Saxonia, dan kemudian Swedia. Perang tersebut mempunyai muatan kepentingan Inggris dan Prancis di Amerika Utara sebagai semacam hiburan selingan, namun berubah menjadi perang yang akhirnya menimbulkan akibat-akibat yang lebih jauh jangkauannya ketimbang pertikaian di Eropa.
Memperebutkan Kanada
Raja George II mengutus Jenderal James Wolfe (1727-1759) yang masih muda namun berotak cemerlang untuk mengepalai pasukan Inggris melawan Jenderal Marquis Louis Joseph de Montcalm (1712-1759) dari Prancis. Klimaks dari deklarasi perang Jenderal Wolfe adalah pertempuran untuk menguasai kota Quebec yang didiami bangsa Prancis. Pasukan Inggris berhasil dalam menutup rapat-rapat Sungai St. Lawrence untuk mencegah setiap pasokan air ke Quebec, namuan Jenderal Montcalm tetap percaya diri bahwa kota yang pertahanannya sudah sangat kuat tidak dapat ditaklukkan. Kuatnya pertahanan itu telah, bagaimanapun juga, menghalangi serangan-serangan Inggris pada tahun 1690 dan 1716. Pasukan Inggris mengejutkan pasukan Prancis dengan didakinya gunung-gunung yang tinggi di sebelah barat Quebec dan Inggris mengalahkan Prancis yang mempertahankan kota itu. Jenderal Wolfe sendiri tewas dalam serangan itu, namun rencananya tetap terwujud dan pasukan-pasukannya mampu merampas ibukota Kanada Prancis tersebut. Jenderal Montcalm juga tewas, dan ini membuat kontes itu menjadi unik dalam artian bahwa kedua jenderal yang memimpin tewas tatkala betul-betul sedang memimpin pasukan-pasukan mereka bertempur.
Kekalahan Prancis di Quebec meneguhkan Inggris tentan statusnya sebagai kerajaan yang adidaya dan paling unggul di antara sebagian besar wilayah Amerika Utara yang sudah didiami oleh bangsa Eropa. Walaupun demikian, penguasaan ini ditakdirkan berumur pendek, karena kegelisahan mulai timbul di 13 koloni sampai ke selatan Sungai St. Lawrence.

Lahirnya Amerika Utara Modern

Sepanjang abad ke-16, Dunia Baru yang “ditemukan” Columbus pada tahun 1492 menjadi objek dari gerombolan ekspedisi dan upaya Eropa dalam hal mengembangkan penjajahan. Orang Spanyol dan Portugis adalah bangsa yang pertama kali membagi dua wilayah di sebelah selatan Kepulauan Hindia Barat (bangsa Portugis menerima apa yang kini adalah Brazil dan Spanyol hampir setiap wilayah lainnya). Penjelajahan Hernando Cortez memperoleh tempat berpijak di Meksiko dan menjarah Amerika Selatan pada awal abad ke-16. Kemudian, pada abad yang sama, orang Spanyol juga tiba di Florida. Sementara itu, orang Belanda dan Prancis mendirikan basis pertahanannya lebih jauh ke utara di suatu wilayah yang sekarang adalah bagian dari Amerika Serikat dan Kanada. Meskipun belum terlaksana sampai sesudah permulaan abad ke-17 bahwa penjajahan mereka yang pertama dimulai dari apa yang sekarang dikenal sebagai Amerika Serikat, orang Inggris kemudian membuka jalan-jalan masuk yang sangat besar ke Amerika Utara.
Para Penjelajah Amerika Utara
Tahun 1497, John Cabot (1450-1499) adalah orang pertama yang menjelajahi pantai Amerika Utara atas nama pemerintah Inggris, dan Sir Francis Drake (1540?-1596) meneliti banyak garis pantai belahan bumi Barat sesudah tahun 1572, namun para penjelajah Inggris mula-mula itu merasa kurang tertarik pada Dunia Baru itu sendiri. Mereka lebih suka menciptakan sebuah rute perdagangan lewat laut menuju Cina.
Seorang pemburu kekayaan berkebangsaan Inggris yang hebat, Sir Walter Raleigh (1554-1618), berharap akan menemukan emas di Amerika Utara sebagaimana yang dialami orang Spanyol di Amerika Selatan. Namun, ia gagal dalam setiap upayanya, baik untuk menemukan lokasi emas maupun dalam usaha-usahanya sepanjang tahun 1584-1587 untuk membukan sebuah jajahan Inggris yang permanen. Meskipun demikian, ia menuntut sebagian kecil dari pantai Atlantik bagi Inggris, menamainya Virginia untuk mengenang Ratu Elizabeth I yang merupakan sahabatnya.
Para Pemukim Awal
Tahun 1607, orang Inggris akhirnya menanam benih yang berkembang menjadi bangsa berbahasa Inggris terluas di dunia. Kapten John Smith (1579?-1631) memutuskan untuk menetap di Jamestown (nama ini diambil dari nama Raja James II) di wilayah kekuasaan Virginia. Proses pemukiman ini nyaris gagal beberapa kali, namun penduduk Jamestown yang dijajah tersebut bertahan, dan pada tahun 1619 mereka melantik dewan perwakilan rakyat yang pertama di Amerika Utara, yang merintis pemerintahana yang kemudian berkuasa.
Suatu pemukiman lain dibangun di Plymouth, tahun 1620, di sebuah wilayah yang sekarang menjadi Massachusetts, oleh kelompok warga Inggris yang menyebut diri mereka sebagai Pendatang. Melarikan diri dari apa yang mereka pahami sebagai penganiayaan politis terhadap sekte agama yang mereka anut, para Pendatang itu berangkat ke Amerika dengan menumpang kappa mereka yang bernama Mayflower untuk mendirikan sebuah kawasan pemukiman di mana mereka dapat beribada sesuai keinginan mereka tanpa campur tangan pemerintah. Plymouth dinilai penting kerena tempat ini menjadi tempat pemukiman pertama orang Amerika Utara yang berhasil didirikan oleh orang-orang Eropa kebanyakan tanpa izin tertulis dari pemerintahan Eropa.
Selama 300 tahun berikutnya, apa yang dimulai oleh sekelompok pemukin yang tekun di Jamestown dan Plymouth menjadi kekuatan paling besar di dunia di bidang politik dan ekonomi.

Monday, December 24, 2012

Sejarah Amerika Serikat: Migrasi ke Barat

Setelah kemerdekaan, negara baru Amerika Serikat mulai berkembang pesat. Para imigran yang baru tiba menyebar ke barat, mendesak penduduk pribumi Amerika dari tanah mereka.
Pada awal abad ke-19, Amerika Serikat masih kecil dan sangat terpengaruh oleh politik Eropa. Selama Perang Napoleon, Inggris menguasai lautan dan menutup sebagian besar jalur laut antara Amerika Serikat dengan kawasan Eropa yang dikuasai oleh Napoleon Bonaparte. Ini membantu Amerika Serikat karena Napoleon tidak dapat melindungi Louisiana, daerah jajahan Prancis yang terletak di barat Amerika Serikat sampai Sungai Mississippi. Karena Prancis menguasai perdagangan di Sungai Mississippi, orang Amerika mengadakan pembicaraan dengan mereka. Napoleon memutuskan menjual Louisiana seharga 15 juta dolar. Pembelian Louisiana menggandakan wilayah Amerika Serikat.
Perang 1812
Blokade Inggris atas Eropa juga membawa bencana bagi perdagangan Amerika. Pada 1812, Amerika Serikat menyatakan perang atas Inggris. Orang Amerika berusaha menyerbu Kanada, tetapi tanpa hasil. Mereka meraih beberapa kemenangan di laut di Great Lakes, sementara Inggris membakar habis Washington DC, ibukota Amerika Serikat yang baru. Kedua belah pihak hanya meraih sedikit kemajuan. Lelah berperang, akhirnya pada 1814, mereka menandatangani perjanjian yang mengembalikan semua wilayah taklukkan. Blokade Inggris dicabut, Perang Napoleon berakhir, dan Amerika Serikat dapat memulihkan perdagangan dan perekonomiannya.
Para Pendatang dan Pemukim
Para pemukim membanjiri Amerika Serikat setelah kemerdekaannya pada tahun 1776. Mereka berasal dari seluruh Eropa, mencari kehidupan baru di “tanah kebebasan”. Penduduk Amerika berjumlah sekitar 4 juta pada 1803, tetapi telah mencapai 31 juta pada 1816. Para pendatang pertama bermukim di negara-negara bagian timur-laut. Namun ketika jumlahnya meningkat, mereka berpindah lebih ke selatan dan barat.
Amerika Serikat mirip sebuah imperium baru, memiliki wilayah luas dan kaya sumber daya alam. Tiba-tiba “negeri terbelakang” bekas koloni timur ini menjadi “perbatasan baru”. Pada 1820, “perbatasan” ini menyeberangi Sungai Mississippi. Bagi penduduk pribumi, perluasan Amerika Serikat berarti penderitaan, sementara kemakmuran dan kebebasan para pemukim berarti kemiskinan dan pembatasan.
Jalur Air Mata
Pada 1787, penduduk pribumi Amerika dijanjikan bahwa tanah tradisional mereka hanya akan ditempati orang kulit putih jika diizinkan. Empat tahun kemudian, Presiden George Washington (1732-1799) mengubah janji ini, dan daerah demi daerah, suku-suku setempat terpaksa meninggalkan rumah mereka.
Tahun-tahun Penting
1783
Penarikan Inggris dari 13 koloni
1803
Pembelian Louisiana dari Prancis
1806
Penjelajahan Lewis dan Clark mencapai Pasifik
1812-1814
Perang 1812 melawan Inggris
1819
Spanyol menyerahkan Florida kepada Amerika Serikat
1820
“Perbatasan” pemukim mencapai Sungai Mississippi
1830
Hukum Penyingkiran Indian mengizinkan pengusiran mereka secara resmi
1830
Kepala Suku Elang Hitam memimpin perang melawan para pemukim
1838-1839
“Jalur Air Mata”, Cherokee ke Oklahoma
1845
Amerika Serikat menduduki Texas
Bangsa Delaware dipaksa pindah pada 1760-an. Pada 1830-an, orang Seminole diusir dari Florida, sementara 50.000 orang Cherokee diusir dari Georgia. Sekitar 400.000 orang pribumi Amerika dipaksa pindah ke barat. Banyak di antaranya mati di “Jalur Air Mata”. Pembelian Louisiana pada 1803 memperbesar wilayah Amerika Serikat. Para prajurit dan penduduk sipil mulai membanjiri Mississippi. Banyak penduduk pribumi Amerika dipaksa bermukim di Oklahoma. Mereka tidak diterima lagi di sebelah timur Mississippi pada tahun 1820. Sekalipun Oklahoma secara resmi menadi Wilayah Indian pada 1830-an, luas wilayahnya berangsur menciut sejak 1854.
Berbagai jalur perpindahan baru dibuka, seperti Jalur Chumberland dari Baltimore ke St. Louis. Meriwether Lewis (1774-1809) ditugaskan oleh Presiden Thomas Jefferson (1743-1826) untuk menjelajahi barat. William Clark (1770-1838) berkelana bersama Lewis, mencapai kawasan pantai barat Oregon pada 1805 dan kembali untuk melaporkan penemuan mereka pada tahun berikutnya. Lewis dan Clark pergi ke barat menuju Pasifik, membuka tanah baru bagi para pemukim. Tentara membangun benteng untuk melindungi mereka, dan pemerintah mengeluarkan undang-undang yang mendukung klaim tanah mereka. Dorongan besar untuk pergi ke barat mulai terbentuk, dipicu oleh para imigran, kepentingan bisnis, dan kebijakan pemerintah.
Perekonomian Amerika Serikat berkembang. Kondisi ini menguntungkan kota-kota yang tumbuh di bagian timur, tempat industri dan dunia usaha berada. Bagian timur menjadi tulang punggung Amerika Serikat, sementara wilayah barat merupakan wilayah imperium. Sebuah negara baru dapat bergabung dengan Federasi apabila memiliki jumlah penduduk sebanyak 60.000 jiwa. Pada 1821, terdapat 23 negara bagian di dalam Federasi itu.