This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Friday, September 20, 2013

Zaman Unifikasi dan Kolonisasi

Dalam periode ini, terjadi perubahan sangat besar pada peta dunia, karena terbentuknya negara-negara baru atau beberapa negara bersatu. Afrika terpecah akibat penjajahan, sementara kekuasaan Cina mulai terkikis. Di wilayah Eropa, terjadi banyak revolusi. Amerika Serikat, Kanada, dan Rusia menduduki banyak wilayah di tempat-tempat yang jauh. Jalur kereta api, telegraf, kepal-kapal uap, membuat dunia tiba-tiba terasa kecil. Kota-kota baru seperti New York, Buenos Aires, Johannesburg, Bombay, dan Shanghai, menjadi pusat pada era global yang baru ini.
Di Amerika Utara, para pendatang berkelana ke barat dan menghuni wilayah luas yang telah diambil alih Amerika Serikat dan Kanada. Namun, pembukaan wilayah baru ini telah membawa banyak kesulitan bagi penduduk pribumi karena pola hidup mereka sehari-hari mulai terancam.
Di Afrika, perang agama memperkuat pengaruh Islam di kerajaan-kerajaan bagian utara. Para penjelajah dan misionaris Eropa mulai mengunjungi daerah di bagian tengah. Terdorong oleh keinginan untuk mengeksploitasi sumber daya alam Afrika, bangsa Eropa dengan cepat mendirikan sejumlah koloni di seluruh benua ini. Kekuasaan negara-negara dagang Eropa mulai berkembang.
Di Asia, bangsa Eropa menguasai India, dan Asia Tenggara, serta mulai berdagang dengan Cina dan Jepang. Ekspansi bangsa Eropa ke benua-benua lain tidak menghentikan konflik internal. Banyak perang terjadi antara negara atau kerajaan yang menginginkan kekuasaan atau wilayah yang lebih besar.
Asia
Cina dan Jepang mengalami masa sulit pada pertengahan abad ke-19. Para pedagang asing memaksa masuk dan di Cina timbul pemberontakan. Dinasti Qing (isolasionis) akhirnya tumbang pada 1911. Jepang mulai mengadopsi modernisasi Barat. Di India, Inggris berkuasa total, meski bukannya tanpa perlawanan dari bangsa India sendiri. Barat menguasai Timur. Bagi beberapa bangsa Asia, bekerja untuk orang Barat merupakan keuntungan. Namun, banyak penduduk Asia hanya menjadi buruh murah di perkebunan dan kota jajahan. Jaringan kereta api, para misionaris, tentara, dan pedagang membuka daerah pedalaman Asia. Meski dijajah, tradisi bangsa Asia tetap dapat bertahan dibanding budaya lain di seluruh dunia.
Eropa
Ini merupakan abad Eropa. Perang yang tak putus-putusnya di Eropa hampir berhenti. Pasukan mulai dipusatkan ke luar negeri, mengklaim wilayah lain dan mendirikan imperium di banyak tempat. Kota-kota industri bertumbuh besar, terhubung oleh jalur kereta api dan jaringan telegraf. Kekuasaan para politisi, kaum industrialis, dan kelas menengah bertambah besar. Kelompok-kelompok pekerja baru, yang terbentuk dari gerakan pekerja pertama pada 1905, memimpin revolusi pekerja (tetapi gagal) di Rusia. Pencapaian terbesar berasal dari bidang permesinan, ilmu pengetahuan, pemikiran, seni, dan penjelajahan dunia. Itulah sebabnya Eropa bertambah kaya. Di samping itu juga terdapat masa-masa sulit bagi sebagian masyarakat, yaitu terjadi kelaparan, pemogokan, kemerosotan ekonomi, dan emigrasi massal. Masa sulit ini akhirnya mendorong penemuan baru, yaitu sistem kesejahteraan sosial bagi kaum miskin.
Afrika
Para penjelajah yang pertama tiba di Afrika, lalu para pedagang, misionaris, gubernur, dan para administrator. Pada 1880-an, Eropa membagi-bagi Afrika dan mulai menguasai Afrika. Demam emas menjadikan Afrika Selatan kaya raya, yang diperintah oleh orang kulit putih. Perdagangan budak mulai dilarang, tetapi seluruh Afrika jatuh ke dalam eksploitasi dan pemerintahan Eropa yang terutama didominasi oleh Inggris dan Prancis.
Timur Tengah
Kekaisaran Ottoman mulai mengalami kemunduran, sementara orang Persia harus bertarung untuk menahan serangan Inggris. Timur Tengah menjadi terkucil, di mana aturan tradisional masih sangat mengekang dan jauh dari jalur perubahan. Namun, Timur Tengah juga berhasil terhindar dari kolonisasi.
Australia
Pendatang dari Inggris menguasai sebagian besar kawasan Australia. Jumlahnya terus bertambah melebihi populasi penduduk asli. Negara Australia dan Selandia Baru muncul di peta sebagai eksportir pangan, wol, dan emas.

Wednesday, September 18, 2013

Modernisasi Jepang

Di bawah kekuasaan keluarga Tokugawa, Jepang menutup diri dari dunia luar selama lebih dari 200 tahun. Pada awal abad ke-19, Jepang mulai menerima pengaruh luar.
Selama paruh pertama abad ke-17, penguasa Jepang memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan dunia Barat. Mereka khawatir para misionaris akan membawa pasukan Eropa untuk menginvasi Jepang. Itulah sebabnya mereka melarang hampir semua orang asing memasuki Jepang dan melarang orang Jepang meninggalkan negerinya. Akibatnya, dunia Barat tidak dapat mengapresiasi keindahan seni Jepang pada periode ini sampai pertengahan-akhir abad ke-19. Pada tahun 1853, Presiden Amerika Serikat ke-13, Millard Fillmore, mengirim empat kapal perang di bawah komando Komodor Matthew Perry (1794-1858). Ini adalah pelayaran bersejarah dari Amerika Serikat ke Jepang yang bertujuan membuka hubungan dagang dengan Jepang.
Kapal perang Amerika Serikat menurunkan jangkar di Teluk Tokyo. Ancaman kekuatan angkatan laut Amerika Serikat membantu membujuk Jepang agar memulai kembali perdagangan dengan dunia Barat. Orang Jepang kagum atas kapal perang Amerika Serikat dan mesin-mesin lain yang ditunjukkan Perry. Setahun kemudian, kedua negara ini menandatangani Perjanjian Kanagawa, di mana Jepang setuju membuka dua pelabuhannya, untuk berdagang dengan Amerika Serikat.
Tidak lama kemudian “perjanjian berat sebelah” Jepang dengan Inggris, Belanda, dan Rusia ditandatangani. Tokugawa dikritik oleh para lawan politiknya atas pendatanganan perjanjian itu dan juga atas banyak masalah lain yang tidak bisa diselesaikan.
Restorasi Meiji
Masyarakat mulai bosan dengan isolasi yang diterapkan keluarga Tokugawa dalam jangka waktu lama dan hampir total dari dunia luar. Akhirnya pada tahun 1868, kekuasaan Tokugawa dijatuhkan dan Kaisar Mutsuhito (Meiji) diangkat sebagai penguasa. Ketika mulai membuka diri terhadap dunia Barat, bangsa Jepang pun mulai memodernisasi negerinya.
Kendati ingin tetap memelihara tradisi, bangsa Jepang juga berusaha belajar dari negara industri di Barat. Mereka berubah dan mengadaptasi sistem pemerintahan dan sekolah Barat. Kemajuan di bidang pendidikan telah menjadikan Jepang sejak tahun 1914 menjadi salah satu penduduk paling berpendidikan di dunia. Mereka juga mulai mengekspor mesin dan menjalankan industri baru seperti pengolahan kapas. Banyak orang Jepang mengadopsi gaya busana Eropa. Mereka belajar memainkan alat musik Eropa dan berpakaian gaya Eropa. Pada saat yang sama, orang-orang asing berangsur belajar menghargai kesuksesan kebudayaan Jepang.
Dengan kemajuan di bidang industri, bangsa Jepang mulai melakukan ekspansi wlayah. Mereka mencoba mengambil alih Korea yang memicu pecahnya perang dengan Cina pada tahun 1894. Jepang juga berperang dengan Rusia menyangkut wilayah ini pada 1904 sampai 1905. Jepang akhirnya menduduki Korea pada tahun 1910. Ini menjadikan Jepang sebagai negara paling berkuasa di kawasan sekitarnya. Sejak tahun 1913, Jepang telah menjadi kekuatan besar industri, negara pertama di Asia yang mencapai kemajuan besar.

Memperebutkan Texas


Memperoleh kemerdekaan dari Spanyol pada 1821, Meksiko segera berkonflik dengan tetangganya, Texas, menyangkut kepemilikan lahan, dan memicu perang.
Pada saat Meksiko memperoleh kemerdekaan, wilayah perbatasannya terentang jauh ke utara, meliputi banyak area yang kini menjadi wilayah Amerika Serikat bagian selatan. Banyak penduduk Amerika Serikat bermukim di Texas yang merupakan bagian wilayah Meksiko. Pada tahun 1835, Texas mendeklarasikan kemerdekaannya. Penduduk Texas menunjuk Sam Houston (1793-1863) sebagai komandan militer. Ia menduduki kota San Antonio. Lawannya, Jenderal Antonio Lopez de Santa Anna, memimpin pasukan besar Meksiko memasuki Texas untuk menumpas pemberontakan. Ia mengepung Alamo dai pusat kota San Antonio. Ia merebut kota ini kembali. Davy Crockett (1786-1836), Jim Bowie, dan William B. Travis adalah para pejuang yang mempertahankan Alamo, yaitu gereja tua yang terkadang digunakan sebagai benteng. Pada pejuang Texas yang berjumlah 186 orang, dikalahkan oleh pasukan Meksiko yang berjumlah 5.000 prajurit selama 11 hari. Alamo dijadikan simbol keberadaan orang Texas selama perang melawan Meksiko.
Jenderal Santa Anna kemudian dikalahkan oleh pasukan Sam Houston pada pertempuran di San Jacinto pada tahun 1836. Texas lalu merdeka dan dikenal sebagai Lone Star Republic. Setelah beberapa tahun kemerdekaan, penduduk Texas memilih bergabung dengan Amerika Serikat. Pada tahun 1845, Texas menjadi negara bagian Amerika Serikat ke-28, dengan Sam Houston sendiri sebagai gubernur negara bagian. Ketegangan antara penduduk Texas dan Meksiko berlanjut ketika orang-orang Texas ingin memperluas wilayahnya.
Peperangan dan Perdamaian
Presiden Polk (1795-1849) mengirim pasukan ke Rio Grande untuk menginvasi daerah yang masih diklaim oleh Meksiko. Bangsa Meksiko menetang. Maka, pecahlah Perang Amerika Serikat-Meksiko. Pasukan Amerika Serikat menduduki Mexico City pada tahun 1847. Pasukan Meksiko kemudian menyerah. Perjanjian Guadalupe-Hidalgo pada tahun 1848 memberi Amerika Serikat teritori baru yang sangat luas termasuk negara-negara bagian modern seperti California, Nevada, Arizona, Utah, serta sebagian New Mexico dan Texas.

Memperebutkan Afrika

Dengan kekayaandan teknologi lebih maju, kekuatan utama Eropa mampu menaklukkan banyak wilayah di dunia dan mengklaimnya sebagai milik mereka.
Menjelang akhir abad ke-19, kekuatan Eropa tidak lagi saling bertikai untuk memperebutkan wilayah dan perdagangan di Eropa. Dengan kemunculan tiba-tiba pasukan Jerman di bawah kendali politik Otto von Bismarck, semua negara Eropa mulai melihat ke luar negeri untuk memperoleh keuntungan ekonomi. Negara-negara Eropa mulai berlomba mendirikan koloni masing-masing di Afrika. Proses ini kemudian dikenal sebagai “sengketa untuk memperebutkan Afrika”.
Inggris dan Prancis tidak diragukan memimpin perebutan kekuasaan ini, disusul oleh Jerman, Italia, dan Belgia. Terjadi banyak konflik antara Inggris dan Prancis atas koloni-koloni di Afrika bagian barat. Pada mulanya, Inggris sudah puas menguasai beberapa kota pantai dan pelabuhan. Namun pada akhir abad ke-19, Inggris telah mengambil alih seluruh wilayah yang kini adalah negara Ghana dan Nigeria, sekaligus mengontrol Sierra Leone dan Gambia.
Terusan Suez
Dibuka pada 1869, Terusan Suez dapat memangkas waktu tempuh perjalanan laut dari Inggris ke India, dari tiga bulan menjadi hanya tiga minggu. Ketika Khedive (Raja Muda) Mesir menghadapi kesulitan keuangan, Benjamin Disraelli, yang pada saat itu adalah Perdana Menteri Inggris, membeli separuh hak pengelolaan atas Terusan Suez pada 1875.
Hubungan Inggris dan Prancis memburuk ketika Inggris menduduki Mesir pada 1882 untuk melindungi kepentingan Inggris di tengah munculnya pemberontakan lokal melawan orang Eropa. Pada 1885, Jenderal Gordon dan banyak pasukan Inggris terbunuh ketika Mahdi, pemimpin di Sudan, mengambil alih Khartoum yang berada di tepi Sungai Nil Putih. Orang Italia menginvasi Eritrea (timur-laut Ethiopia), sementara Raja Leopold II dari Belgia menduduki Kongo (sekarang Zaire).
Ekspansi Berkelanjutan
Tahun-tahun Penting
1869
Terusan Suez dibuka untuk pelayaran
1875
Inggris membeli saham Mesir atas Terusan Suez
1876
Raja Leopold II dari Berlgia menguasai Kongo (Zaire)
1882
Inggris menduduki Mesir untuk melindungi Terusan Suez
1884
Negara-negara Eropa mengadakan pertemuan di Berlin untuk membagi-bagi wilayah kekuasaan Afrika
1885
Mahdi menyerang Khartoum dan menaklukkannya
1893
Prancis menguasai Timbuktu, Mali, dan Afrika bagian barat
1898
Inggris mengalahkan pasukan Mahdi di Omdurman
1899
Kekuasaan Inggris-Mesir di Sudan
1912
Kongres Nasional Afrika (ANC) dibentuk di Afrika Selatan
Perebutan kekuasaan atas Afrika menjalani proses resmi pada konferensi di Berlin pada 1884. Negara-negara Eropa membagi Afrika layaknya sebuah kue. Hanya Liberia dan Ethiopia, yang tetap merdeka, bebas dari kekuasaan Eropa. Kolonisasi di Afrika membawa dampak sangat besar bagi penduduk Afrika. Bangsa Eropa menguasai suatu daerah dengan membuat batas-batas wilayah baru tanpa memerhatikan batas wilayah negara Afrika yang sebenarnya. Bangsa Eropa juga memperkenalkan bentuk pemerintahan baru ke Afrika, tetapi hanya sedikit orang Afrika yang boleh ikut memilih. Keuntungan keuangan dari koloni di Afrika dibawa kembali ke Eropa. Orang-orang Eropa kerap mengambil alih lahan-lahan pertanian yang terbaik.

Lahirnya Komunikasi Jarak Jauh


Pada akhir abad ke-19, sementara mesin uap menaikkan kesanggupan kecepatan maupun jarak yang ditempuh kendaraan baik di darat maupun di laut, dengan jelas muncul kebutuhan sebuah sarana komunikasi langsung jarak jauh. Adalah suatu kebutuhan yang penting untuk berkomunikasi secara jelas dengan tempat-tempat yang begitu jauh dari pandangan mata, dalam pengertian bahwa komunikasi itu harus lebih cepat dari kecepatan kapal maupun kereta api kilat.
Pada tahun 1791, Abbe Claude Chappe (1763-1805) menyatukan dua kata menjadi sebuah istilah, telegraf optik, untuk menggambarkan digunakannya sederet menara untuk mengirim sebuah pesan yang kasat mata oleh satu menara dari satu menara sebelumnya. Sistem Chappe ini membutuhkan 120 menara berjajar yang mampu mengirimkan sebuah pesan antara Paris dan Laut Tengah dalam waktu kurang dari satu jam, yang berarti lebih cepat dari lari kuda tunggang yang tercepat.
Semua sistem ini bergantung pada sinyal-sinyal yang kasat mata. Telegraf merupakan sebuah trobosan dalam komunikasi karena ini memungkinkan terjadinya komunikasi instan antara dua orang yang tidak bertatap muka. Gagasan untuk mengirimkan pesan-pesan sandi dengan sarana listrik bermula pada awal abad ke-18. George Louis Lesage (1724-1803) di Swiss, tahun 1774, mengembangkan sebuah mesin yang meneruskan sinyal-sinyal dengan sarana kabel yang masing-masing mewakili setiap huruf dalam abjad. Sistemnya dilandaskan pada tulisan-tulisan karya seorang pencipta berkebangsaan Skotlandia yang misterius, yang dikenal hanya dengan nama “C.M”. Karya-karya tulis pencipta misterius ini diterbitkan pada tahun 1753.
Setelah upaya Lesage, banyak upaya lain dikerahkan untuk memperhalus bentuk telegraf. Upaya-upaya ini dijalankan oleh Chappe di Prancis, Carl Friedrich Gauss (1777-1855) dan Wilhelm Eduard Weber (1804-1891) di Jerman dan Alessandro Volta (1745-1827) di Italia. Berdasarkan uji coba yang dilakukan oleh orang-orang tersebut, beberapa saluran   telegraf eksperimen dibuat.
Akan tetapi, sistem telegraf yang pertama kali dapat digunakan dikembangkan oleh seorang pencipta berkebangsaan Amerika Serikat bernama Samuel Finley B. Morse (1791-1872). Morse juga merancang Kode Morse, yang terdiri atas serangkaian ketukan kunci yang membuat kontak listrik. Maka, setiap huruf dalam abjad terdiri atas sejumlah ketukan pendek (titik titik) yang digabungkan dengan kontak yang lebih panjang (garis minus), dan sistem ini menjadi “bahasa” universal untuk telegraf.
Morse pertama kali memperlihatkan telegrafnya kepada Presiden Martin Van Buren, 21 Pebruari 1838, dan menjelang tahun 1843, sebuah saluran telegraf komersial dipasang antara Washington dan Baltimore. Dalam waktu dua tahun, kebanyakan kota besar di Amerika dan Eropa dihubungkan dengan telegraf, dan pada tahun 1850-an, Inggris dan Swedia dihubungkan dengan Eropa daratan melalui sarana kabel bawah laut. Sementara itu, hubungan Eropa dengan Amerika dilaksanakan dengan sarana kaberl bawah laut, yaitu antara Newfoundland dan Irlandia. Dan, pada tahun 1858, Ratu Victoria mengirim sebuah pesan yang terdiri atas 90 kata kepada Presiden James Buchanan.
Lahirnya komunikasi instan jarak jauh mengubah cara pandang manusia mengenai waktu dan jarak secara mendasar. Setelah tahun 1838, “ukuran” dunia yang terlihat mata menjadi semakin kecil tatkala orang mampu mengirimkan informasi jarak jauh dengan cara yang lebih cepat daripada sebelumnya.

Jepang Menjadi Kekuatan Asia

Di bawah kepemimpinan Kaisar Meiji (1852-1912), yang memegang tampuk kekuasaan pada tahun 1868, Jepang berubah bentuk, dari sebuah masyarakat yang tertutup, di mana warga negaranya dilarang membuat kontak dengan orang asing, menjadi sebuah bangsa yang amat berhasrat untuk membina hubungan dengan dunia luar, bahkan ingin menyamainya. Dalam waktu kurang dari setengah abad, Jepang mengalami kemajuan, dari feodalisme Abad Pertengahan menjadi sebuah kekuatan industrial yang modern.
Modernisasi Jepang
Upaya-upaya Meiji dalam memodernisasi Jepang awalnya mendapat tentangan dari sejumlah syogun (kaum feodal), namun mayoritas penguasa dapat melihat bahwa manfaat-manfaat dari keterbukaan negara itu untuk berdagang dengan orang asing jauh melebihi melebihi kerugian-kerugiannya. Sebelum pemerintahan Meiji, masing-masing syogun sudah memiliki pasukan bersenjata pribadi dan menjadi pemimpinnya. Namun, pada tahun 1873, kaisar membentuk sebuah pasukan nasional yang diperlengkapi dengan senjata-senjata mutakhir yang mengikuti model persenjataan pasukan Jerman. Angkatan laut, yang tidak diperlukan tatkala Jepang masih merupakan sebuah kerajaan yang terisolasi, juga dibentuk. Para cedekiawan membuat kajian lengkap mengenai sistem perundang-undangan maupun sistem pemerintahan Eropa. Dan, pada tahun 1890, didirikan Diet, sebuah parlemen yang mencontoh sistem Inggris.
Kebijakan Ekspansi
Pada masa itu, bangsa Jepang sudah memiliki lingkaran yang penuh, dari sebuah bangsa yang terisolasi seutuhnya menjadi bangsa yang sangat ingin menonjolkan dirinya sebagai sebuah kekuatan dunia. Dari Eropa, Jepang sudah menyamakan elemen-elemen pemerintahan, organisasi militer dan Revolusi Industri-nya. Selanjutnya, Jepang meniru konsep pembangunan sebuah kekaisaran yang luasnya melewati perbatasan negaranya sendiri. Bagi sebuah negara yang kebijakan politik luar negerinya senantiasa tidak memiliki kebijakan politk luar negeri, meninjolkan dirinya sendiri di seantero Asia menunjukkan sebuah langkah baru yang berani. Jepang mencaplok Kepulauan Ryuku yang menjadi tetangganya pada tahun 1870-an, dan pada tahun 1894, Jepang bergabung dengan Cina dalam Perang Cina-Jepang untuk menguasai Semenanjung Korea dan Manchuria. Pada waktu itu, dalam hal tanah, penduduk dan sumber daya, Cina amat mengungguli Jepang. Meskipun demikian, Cina berada di bawah pemerintahan Dinasti Manchu yang tidak efektif, yang perannya lebih menyerupai pemimpin boneka bagi penguasa-penguasa militer setempat. Cina adalah sebuah negara adidaya Asia hanya karena luas wilayahnya serta lokasi strategisnya. Sudah terbukti dengan sendirinya bahwa persenjataan pasukannya sangat buruk untuk sebuah perang yang besar. Ketika Jepang memenangi perang pada tahun 1894, negara ini berhasil memperoleh tempat berpijak di Asia daratan.
Hanya pengaruh Kekaisaran Rusia yang sangat besar yang menghadang upaya perluasan kekuasaan Jepang secara total atas Manchuria dan Korea. Pada bulan Pebruari 1904, Jepang menyerang kapal-kapal dan pangkalan-pangkalan Rusia di Timur Jauh. Perang Rusia-Jepang, pertikaian besar pertama pada abad ke-20, menghasilkan kekalahan yang memalukan bagi Rusia. Untuk pertama kalinya sejak Jenghis Khan, sebuah pasukan Asia dengan meyakinkan telah mengalahkan sebuah kekuatan Eropa yang utama melalui serangkaian pertempuran yang tak berkeputusan. Setelah perjanjian damai ditandatangani pada tanggal 5 September 1905, Jepang mengendalikan semua wilayah di Asia Timur Laut, menjadi kekuatan dunia pertama yang muncul di Asia di era modern. Kemenangan ini juga menetapkan Jepang sebagai kekuatan besar yang tidak boleh dipandang sebelah mata, baik dari segi politik maupun militer, dalam percaturan dunia.

Jepang Bergabung dengan Komunitas Dunia


Di pertengahan abad ke-19, Jepang masih merupakan sebuah monarki feodal yang struktur sosialnya hanya berubah sedikit selama berabad-abad. Sejak tahun 660 SM, kaisar demi kaisar secara turun-temurun memerintah Jepang. Mereka menamakan dirinya sebagai tenshi—“putra langit”. Sebagai sebuah negara kepulauan, Jepang secara geografis terisolasi dari Asia daratan—dan benar-benar terisolasi dari negara-negara lain di dunia—terabaikan seutuhnya dari aliran utama sejarah dunia. Akan tetapi, inilah kondisi yang disukai para kaisar itu. Masyarakat Jepang sangat kaku dalam pola pemikirannya dan perpindahan penduduk ke luar negeri tidak pernah dibayangkan. Benar, maklumat resmi yang dikeluarkan pemerintah Jepang pada tahun 1636 melarang warga Jepang meninggalkan tanah airnya. Pedagang-pedagang asing dilarang keras untuk berbisnis di Jepang, sekalipun setelah tahun 1842 pelabuhan-pelabuhan tertentu mulai mengizinkan kapal-kapal asing singgah untuk mengisi bahan bakar dan bahan makanan.
Kondisi terisolasi secara total ini ditakdirkan untuk berubah. Tanggal 8 Juli 1853, Komodor Angkatan Laut Amerika Matthew Calbraith Perry (1794-1858) berlayar menuju Teluk Edo dengan sejumlah kapal-kapal meriam dan sebuah pesan dari Presiden Millard Filmore (1800-1874): Jepang harus membuka pelabuhannya bagi perdagangan Amerika atau beresiko akan digempur. Komodor Perry memberi waktu kepada Jepang selama satu tahun untuk mempertimbangkan ultimatum tersebut, dan ketika ia kembali, perjanjian yang dinamakan Perjanjian Kanagawa ditandatangani pada tanggal 31 Maret 1854. Jepang akhirnya bergabung dengan komunitas dunia.
Menjelang tahun 1858, Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis sudah mendirikan pangkalan-pangkalan pemasok di Jepang namun timbul banyak keresahan. Sebelum tanggal 6 April 1868, Kaisar Mutsuhito (1852-1912) yang masih muda yang juga dikenal sebagai Meiji, serta merta melarang aktivitas-aktivitas antiasing dan memprakarsai sebuah program untuk memodernisasilan Jepang dengan mengimpor mesin-mesin dan perkakas mesin dari negara yang paling maju semasa Revolusi Industri. Tatkala Komodor Perry pertama kali mendarat di Teluk Edo, tahun 1953, teknologi Jepang sudah setara dengan Eropa di tahun 1550-an. Dalam waktu seperempat abad sejak Reformasi Meiji pada tahun 1868, Jepang sudah mengadakan industrialisasi hingga sebanding dengan Eropa dan Amerika Serikat di bidang teknologi.
Ini merupakan sebuah upaya yang dunia belum pernah saksikan, dengan perkecualian yang tidak mustahil bahwa Jepang sanggup bangkit setelah kehancuran yang diwariskan oleh Perang Dunia II. Jepang akan memasuki abad ke-20 sebagai satu-satunya kekuatan industri nomor satu di Asia.

Jalur Kereta Api Lintas Benua

Serbuan Tambang Emas California pada tahun 1849 dan perpindahan penduduk secara massal ke pantai Pasifik yang merupakan dampaknya menunjukkan dengan jelas bahwa sarana transportasi yang lebih cepat untuk menghubungkan wilayah-wilayah di Amerika Utara daratan merupakan suatu kebutuhan. Wilayah yang membentang sangat luas antara Sungai Mississippi dan Samudera Pasifik adalah sebuah dataran yang lebar, dan dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menempuhnya. Perjalanan darat ini begitu sukar sehingga banyak orang memilih untuk bepergian dengan kapal yang mengitari ujung selatan Amerika Latin—sebuah jarak yang hamper delapan kali panjangnya—daripada menggunakan jalan darat.
Banyak usulan untuk pembuatan jalur kereta api lintas darat, atau jalur kereta api “Pasifik”. Bagi para pebisnis California, yang terisolasi dari negara-negara bagian lain Amerika Serikat, kebutuhan itu sangat mendesak. Rute-rute dari Chicago ke Puget Sound menjadi bahan pertimbangan, demikian juga rute-rute yang langsung melintasi dataran-dataran dari Omaha ke San Francisco. Beberapa kelompok masyarakat di Selatan mengusulkan gagasan sebuah rute melalui Texas, Arizona, dan New Mexico dengan pertimbangan bahwa cuaca di sana biasanya lebih baik ketimbang melewati rute-rute lain yang diusulkan, namun gagasan ini disimpan di peti es ketika Perang Sipil Amerika pecah. Sebagian besar pejabat yang terlibat kesepakatan bahwa rute sentral merupakan rute yang terbaik.
Perang Sipil juga menggarisbawahi perlunya sebuah jalur kereta api lintas darat. Dan, pada tahun 1862 Presiden Abraham Lincoln (1809-1865) menandatangani undang-undang Pacific Railroad Act, yang mewajibkan dibentuknya badan usaha dan diberi nama Union Pacific Railroad yang akan membuat jalur kereta api kea rah barat dari Omaha, Nebraska. Sementara itu di California, setelah mempersiapkan sebuah penelitian untuk mencari rute terbaik menuju Sierra Nevada, sekelompok pengusaha wiraswasta mulai mengerjakan proyek mereka yang dinamakan Central Pacific Railroad pada tahun 1861. Dikenal hanya sebagai “Empat Besar”, pengusaha-pengusaha tersebut adalah Charles Crocker (1822-1888), Mark Hopkins (1802-1887), Collis Huntington (1821-1900), dan Leland Stanford (1824-1893).
Central Pacific dilibatkan dalam perencanaan jalur kereta api “Pacific” dengan pengertian bahwa para anggota kru pemasang rel akan bertemu di sisi timur dari Sierra Nevada. Dari kemajuan pekerjaan, tampak jelas bahwa kru Central Pacific bekerja jauh lebih gesit dibandingkan yang sebelumnya diperkirakan, dan kru Union Pacific bekerja lebih lamban. Pada saat itulah diputuskan bahwa kedua jalur akan terus dilanjutkan pemasangannya sampai kedua ujung bertemu, di mana pun tempatnya. Kedua proyek berubah menjadi sebuah lading pekerjaan raksasa di wilayah Nevada, Wyoming, dan Utah, dengan anggota-anggota kru yang berbaring untuk memasang rel di lapangan-lapangan terbuka sepanjang kurang lebih 17 kilometer dalam waktu satu hari.
Akhirnya, pada tanggal 10 Mei 1869, lokomotif yang melintasi dua jalur kereta api itu bertemu di Promontory, Utah, dan sebuah paku emas ditancapkan untuk menandai sambungan antara rel dengan rel. Sebuah perjalanan yang tadinya memakan waktu berbulan-bulan dapat dilaksanakan hanya dalam beberapa hari. Sebuah negara besar yang terdiri atas negara-negara bagian yang berdampingan dengan dua samudera sekarang dihubungkan dari pantai ke pantai dengan rel baja.

Imperium Inggris

Selama abad ke-19, kerajaan Inggris bertambah luas dan kuat. Inggris menguasai lebih banyak wilayah dibanding negara-negara lain sepanjang sejarah. Dan ini menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa utama dunia.
Pada masa keemasannya, selama pemerintahan Ratu Victoria, imperium Inggris mencakup seperempat penduduk dan wilayah dunia. Sejak akhir Perang Napoleon pada tahun 1815 sampai awal Perang Dunia I pada tahun 1914, Inggris memperoleh banyak koloni sehingga imperiumnya terentang di berbagai kawasan. Inggris mampu mengendalikan wilayah kekuasaannya yang luas karena mendominasi jalur pelayaran dan perdagangan dunia. Sepanjang abad ke-19, kekuatan angkatan laut Inggris tidak terkalahkan. Kapal-kapal patroli mereka secara teratur berpatroli mengontrol wilayah-wilayah kekuasaan.
Karena wilayah kekuasaannya mencakup dua belahan bumi, maka Inggris dikenal sebagai “kerajaan dengan matahari yang tidak pernah tenggelam”. Koloninya di Karibia, Afrika, Asia, Australia, dan Pasifik, diperintah dari London. Semuanya berada di dalam monarki Inggris. Pelabuhan strategis seperti Gibraltar, Hongkong, Singapura, dan Aden berada dalam kekuasaan Inggris, termasuk juga rute-rute perdagangan penting seperti rute Cape ke India, atau Terusan Suez (melewati Mesir) menuju ke perkebunan rempah-rempah dan karet di Asia Tenggara.
Sumber Daya Alam dari Wilayah Koloni
Imperium ini memasok bahan mentah ke Inggris untuk industri manufaktur dan memenuhi kebutuhan Inggris akan produk-produk dari daerah jajahan seperti sutera, rempah-rempah, karet, kapas, teh, kopi, dan gula. Beberapa negara menjadi koloni ketika pemerintah Inggris mengambil alih perusahaan dagang yang bangkrut.
India adalah contoh negara di mana Inggris berdagang dan memerintah. Bagi Inggris, India adalah koloni yang paling berharga. Pada 1850, India berada di bawah kekuasaan Perusahaan Hindia Timut Inggris. Setelah pemberontakan pada 1857, India dipegang oleh pemerintah Inggris, dengan kebijakan yang lebih mengekang. Pejabat Inggris memberi kekuasaan kepada para raja untuk menangani urusan lokal.
Konsolidasi
Tahun-tahun Penting
1824
Koloni Penal didirikan di Brisbane, Australia
1829
Inggris mengklaim Australia bagian barat
1837
Ratu Victoria menjadi Ratu Inggris
1850
Australian Colonies Government Act memberi kemerdekaan terbatas kepada Australia
1852
Selandia Baru diizinkan memiliki konstitusi sendiri
1857
Muncul pemberontakan di India menentang kekuasaan Inggris
1867
British North American Act memungkinkan Kanada memiliki pemerintahan dalam negeri
1875
Inggris membeli saham atas pengelolaan Terusan Suez
1876
Ratu Victoria mengangkat dirinya sebagai Maharani India
1884
Inggris menduduki Papua Nugini bagian tenggara
1890
Zanzibar menjadi protektorat Inggris
1901
New South Wales, Queensland, Victoria, Australia Selatan, Australia Barat, dan Tasmania menjadi Negara Persemakmuran Australia
1901
Ratu Victoria wafat
1907
Negara dominion Selandia Baru didirikan
Inggris menduduki Mesir pada 1883 untuk menjaga Terusan Suez dan rute pelayaran ke India. Setelah pemberontakan di Mesir bagian selatan yang dipimpin oleh pejuang religius Mahdi, Inggris kemudian masuk ke Sudan pada 1898. Inggris membentuk jaringan dagang ke seluruh imperiumnya dengan cara menunjuk seorang agen di setiap pelabuhan. Mereka mengatur hasil bumi lokal untuk ekspor dan pasar impor Inggris. Angkatan laut Inggris melindungi kepentingan mereka dan menjaga agar rute perdagangan laut aman untuk pelayaran.
Pengaruh Inggris meluas sampai ke daerah pedalaman di Amerika Tengah dan Selatan, juga di Cina di mana Inggris mendirikan pos-pos dagang. Ratu Victoria, yang mengangkat dirinya sebagai Maharani India sejak tahun 1876, sangat mendukung kebijakan luar negeri Inggris bagi ekspansi wilayah dan menegakkan imperium Inggris di seluruh dunia. Ketika lebih banyak orang Inggris bermigrasi ke wilayah imperium Inggris, wilayah itu diberi lebih banyak kebebasan untuk mengatur pemerintahan sendiri. Banyak koloni, khususnya Kanada, Australia, dan Afrika Selatan menjadi negara-negara dominion, lebih baik dari sekadar koloni, dan diizinkan untuk memiliki pemerintahan sendiri.
Berakhirnya Imperium
Menjelang akhir abad ke-19, beberapa koloni mulai melepaskan diri dari pemerintahan Inggris. Pemerintahan dalam negeri Kanada diberikan pada 1867 dan kemerdekaan bagi Australia pada 1901. Kedua negara masih menjadi negara dominion, tetap merupakan bagian dari imperium Inggris. Mulai terkikisnya hubungan dengan Inggris menandakan bahwa Inggris tidak lagi menjadi negara industri nomor satu di dunia. Jerman dan Amerika Serikat telah mengalahkan Inggris, diikuti oleh Prancis dan Rusia.

Amerika Serikat Menjadi Kekuatan Dunia

Selama abad ke-19, ketika Inggris Raya sedang membangun kerajaan politiknya maupun ekonominya di seluruh dunia, yang menjadi fokus Amerika Serikat adalah pengembangan ekonomi teritori Amerika, sebuah wilayah yang luasnya hampir menyamai Kerajaan Inggris Raya. Memang, sebagian besar negara-negara kuat di Eropa—bahkan yang sekecil Portugal maupun Belgia sekalipun—memiliki jajahan di Afrika dan Timur Jauh. Tahun 1898, berkat tanah yang kaya dengan sumber-sumber alam dan sebuah ekonomi yang secara konstan meningkat, Amerika Serikat sudah menjadi sebuah negara adidaya di bidang ekonomi dalam percaturan dunia. Meskipun demikian, menurut ukuran Eropa, Amerika tidak dapat dinilai sebagai negara adidaya dari segi politik karena negara tersebut tidak memiliki jajahan ataupun kepentingan dalam perkembangan politis di luar bumi belahan Barat.
Perang Spanyol-Amerika
Sementara itu, Spanyol menyaksikan kerajaannya di bumi belahan Barat tumbang pada abad ke-19, karena semua republik di Amerika Selatan yang berada di bawah kekuasaan mereka memperoleh kemerdekaannya. Tahun 1895, rakyat Kuba mengadakan revolusi melawan Spanyol. Hancurnya Spanyol secara kasar dicela dengan nada marah oleh pers Amerika, dan, akibatnya, pada tanggal 15 Pebruari 1898, kapal perang Angkatan Laut Amerika Serikat USS Maine diledakkan di Pelabuhan Havana, dan diduga keras bahwa pelakunya adalah kaki-tangan Spanyol. Rakyat Amerika menuntut bahwa Amerika Serikat maju ke medan perang melawan Spanyol untuk membuat impas atas tewasnya 260 orang laki-laki dalam peristiwa tenggelamnya kapal USS Maine dan membebaskan rakyat Kuba dan kekuasaan Spanyol yang menindas. Pasukan Angkatan Laut Amerika Serikat memblokir Kuba dan menyerang armada Spanyol di Filipina. Tanggal 1 Mei, armada yang dipimpin oleh Admiral George Dewey berlayar menuju Teluk Manila dan menghancurkan setiap kapal perang Spanyol yang ada di depan mata, tanpa satu orang Amerika pun yang tewas. Tanggal 3 Juli, Quadron di bawah pimpinan Admiral William T. Samson, menghancurkan seluruh armada Spanyol di Kuba, sekali lagi tanpa kehilangan anggota pasukannya. Pada waktu yang bersamaan, pasukan Angkatan Darat Amerika Serikat untuk menyerbu Kuba. Di dalamnya ada resimen Kavaleri Sukarelawan Pertama (anggotanya dinamakan “Rough Riders”) yang dipimpin oleh Theodore Roosevelt (1858-1919), yang kemudian menjadi presiden Amerika Serikat (1901-1909). Tanggal 17 Juli, pasukan Spanyol dikalahkan.
Perang Spanyol-Amerika berlangsung hanya 114 hari dan mengakibat segelintir korban di pihak Amerika, namun dampak dari kemenangan ini layak diperhitungkan. Pasukan Spanyol secara berturu-turut menyerah tidak hanya kepada Kuba dan Filipina, melainkan juga kepada Puerto Rico dan Guam. Dengan kemenangan ini, Amerika Serikat menjadi kekuatan politik berskala dunia.
Berkembangnya sebuah kerajaan hanya sedikit mengubah nasib Amerika di bidang ekonomi. Tidak seperti negara-negara tandingannya yang lebih kecil di Eropa, Amerika Serikat sudah memiliki sumber-sumber daya yang sangat besar di negerinya sendiri. Perang Spanyol-Amerika memaksa Amerika Serikat untuk mulai menentukan perannya dalam percaturan dunia. Oleh kerena perang dan komunikasi internasional yang semakin cepat dan maju, sebuah bangsa yang ditakdirkan sepenting Amerika Seirkat tidak sanggup untuk tetap terisolasi, dan memang tidak akan pernah terisolasi.