This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Wednesday, September 18, 2013

Jepang Menjadi Kekuatan Asia

Di bawah kepemimpinan Kaisar Meiji (1852-1912), yang memegang tampuk kekuasaan pada tahun 1868, Jepang berubah bentuk, dari sebuah masyarakat yang tertutup, di mana warga negaranya dilarang membuat kontak dengan orang asing, menjadi sebuah bangsa yang amat berhasrat untuk membina hubungan dengan dunia luar, bahkan ingin menyamainya. Dalam waktu kurang dari setengah abad, Jepang mengalami kemajuan, dari feodalisme Abad Pertengahan menjadi sebuah kekuatan industrial yang modern.
Modernisasi Jepang
Upaya-upaya Meiji dalam memodernisasi Jepang awalnya mendapat tentangan dari sejumlah syogun (kaum feodal), namun mayoritas penguasa dapat melihat bahwa manfaat-manfaat dari keterbukaan negara itu untuk berdagang dengan orang asing jauh melebihi melebihi kerugian-kerugiannya. Sebelum pemerintahan Meiji, masing-masing syogun sudah memiliki pasukan bersenjata pribadi dan menjadi pemimpinnya. Namun, pada tahun 1873, kaisar membentuk sebuah pasukan nasional yang diperlengkapi dengan senjata-senjata mutakhir yang mengikuti model persenjataan pasukan Jerman. Angkatan laut, yang tidak diperlukan tatkala Jepang masih merupakan sebuah kerajaan yang terisolasi, juga dibentuk. Para cedekiawan membuat kajian lengkap mengenai sistem perundang-undangan maupun sistem pemerintahan Eropa. Dan, pada tahun 1890, didirikan Diet, sebuah parlemen yang mencontoh sistem Inggris.
Kebijakan Ekspansi
Pada masa itu, bangsa Jepang sudah memiliki lingkaran yang penuh, dari sebuah bangsa yang terisolasi seutuhnya menjadi bangsa yang sangat ingin menonjolkan dirinya sebagai sebuah kekuatan dunia. Dari Eropa, Jepang sudah menyamakan elemen-elemen pemerintahan, organisasi militer dan Revolusi Industri-nya. Selanjutnya, Jepang meniru konsep pembangunan sebuah kekaisaran yang luasnya melewati perbatasan negaranya sendiri. Bagi sebuah negara yang kebijakan politik luar negerinya senantiasa tidak memiliki kebijakan politk luar negeri, meninjolkan dirinya sendiri di seantero Asia menunjukkan sebuah langkah baru yang berani. Jepang mencaplok Kepulauan Ryuku yang menjadi tetangganya pada tahun 1870-an, dan pada tahun 1894, Jepang bergabung dengan Cina dalam Perang Cina-Jepang untuk menguasai Semenanjung Korea dan Manchuria. Pada waktu itu, dalam hal tanah, penduduk dan sumber daya, Cina amat mengungguli Jepang. Meskipun demikian, Cina berada di bawah pemerintahan Dinasti Manchu yang tidak efektif, yang perannya lebih menyerupai pemimpin boneka bagi penguasa-penguasa militer setempat. Cina adalah sebuah negara adidaya Asia hanya karena luas wilayahnya serta lokasi strategisnya. Sudah terbukti dengan sendirinya bahwa persenjataan pasukannya sangat buruk untuk sebuah perang yang besar. Ketika Jepang memenangi perang pada tahun 1894, negara ini berhasil memperoleh tempat berpijak di Asia daratan.
Hanya pengaruh Kekaisaran Rusia yang sangat besar yang menghadang upaya perluasan kekuasaan Jepang secara total atas Manchuria dan Korea. Pada bulan Pebruari 1904, Jepang menyerang kapal-kapal dan pangkalan-pangkalan Rusia di Timur Jauh. Perang Rusia-Jepang, pertikaian besar pertama pada abad ke-20, menghasilkan kekalahan yang memalukan bagi Rusia. Untuk pertama kalinya sejak Jenghis Khan, sebuah pasukan Asia dengan meyakinkan telah mengalahkan sebuah kekuatan Eropa yang utama melalui serangkaian pertempuran yang tak berkeputusan. Setelah perjanjian damai ditandatangani pada tanggal 5 September 1905, Jepang mengendalikan semua wilayah di Asia Timur Laut, menjadi kekuatan dunia pertama yang muncul di Asia di era modern. Kemenangan ini juga menetapkan Jepang sebagai kekuatan besar yang tidak boleh dipandang sebelah mata, baik dari segi politik maupun militer, dalam percaturan dunia.

Jepang Bergabung dengan Komunitas Dunia


Di pertengahan abad ke-19, Jepang masih merupakan sebuah monarki feodal yang struktur sosialnya hanya berubah sedikit selama berabad-abad. Sejak tahun 660 SM, kaisar demi kaisar secara turun-temurun memerintah Jepang. Mereka menamakan dirinya sebagai tenshi—“putra langit”. Sebagai sebuah negara kepulauan, Jepang secara geografis terisolasi dari Asia daratan—dan benar-benar terisolasi dari negara-negara lain di dunia—terabaikan seutuhnya dari aliran utama sejarah dunia. Akan tetapi, inilah kondisi yang disukai para kaisar itu. Masyarakat Jepang sangat kaku dalam pola pemikirannya dan perpindahan penduduk ke luar negeri tidak pernah dibayangkan. Benar, maklumat resmi yang dikeluarkan pemerintah Jepang pada tahun 1636 melarang warga Jepang meninggalkan tanah airnya. Pedagang-pedagang asing dilarang keras untuk berbisnis di Jepang, sekalipun setelah tahun 1842 pelabuhan-pelabuhan tertentu mulai mengizinkan kapal-kapal asing singgah untuk mengisi bahan bakar dan bahan makanan.
Kondisi terisolasi secara total ini ditakdirkan untuk berubah. Tanggal 8 Juli 1853, Komodor Angkatan Laut Amerika Matthew Calbraith Perry (1794-1858) berlayar menuju Teluk Edo dengan sejumlah kapal-kapal meriam dan sebuah pesan dari Presiden Millard Filmore (1800-1874): Jepang harus membuka pelabuhannya bagi perdagangan Amerika atau beresiko akan digempur. Komodor Perry memberi waktu kepada Jepang selama satu tahun untuk mempertimbangkan ultimatum tersebut, dan ketika ia kembali, perjanjian yang dinamakan Perjanjian Kanagawa ditandatangani pada tanggal 31 Maret 1854. Jepang akhirnya bergabung dengan komunitas dunia.
Menjelang tahun 1858, Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis sudah mendirikan pangkalan-pangkalan pemasok di Jepang namun timbul banyak keresahan. Sebelum tanggal 6 April 1868, Kaisar Mutsuhito (1852-1912) yang masih muda yang juga dikenal sebagai Meiji, serta merta melarang aktivitas-aktivitas antiasing dan memprakarsai sebuah program untuk memodernisasilan Jepang dengan mengimpor mesin-mesin dan perkakas mesin dari negara yang paling maju semasa Revolusi Industri. Tatkala Komodor Perry pertama kali mendarat di Teluk Edo, tahun 1953, teknologi Jepang sudah setara dengan Eropa di tahun 1550-an. Dalam waktu seperempat abad sejak Reformasi Meiji pada tahun 1868, Jepang sudah mengadakan industrialisasi hingga sebanding dengan Eropa dan Amerika Serikat di bidang teknologi.
Ini merupakan sebuah upaya yang dunia belum pernah saksikan, dengan perkecualian yang tidak mustahil bahwa Jepang sanggup bangkit setelah kehancuran yang diwariskan oleh Perang Dunia II. Jepang akan memasuki abad ke-20 sebagai satu-satunya kekuatan industri nomor satu di Asia.

Jalur Kereta Api Lintas Benua

Serbuan Tambang Emas California pada tahun 1849 dan perpindahan penduduk secara massal ke pantai Pasifik yang merupakan dampaknya menunjukkan dengan jelas bahwa sarana transportasi yang lebih cepat untuk menghubungkan wilayah-wilayah di Amerika Utara daratan merupakan suatu kebutuhan. Wilayah yang membentang sangat luas antara Sungai Mississippi dan Samudera Pasifik adalah sebuah dataran yang lebar, dan dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menempuhnya. Perjalanan darat ini begitu sukar sehingga banyak orang memilih untuk bepergian dengan kapal yang mengitari ujung selatan Amerika Latin—sebuah jarak yang hamper delapan kali panjangnya—daripada menggunakan jalan darat.
Banyak usulan untuk pembuatan jalur kereta api lintas darat, atau jalur kereta api “Pasifik”. Bagi para pebisnis California, yang terisolasi dari negara-negara bagian lain Amerika Serikat, kebutuhan itu sangat mendesak. Rute-rute dari Chicago ke Puget Sound menjadi bahan pertimbangan, demikian juga rute-rute yang langsung melintasi dataran-dataran dari Omaha ke San Francisco. Beberapa kelompok masyarakat di Selatan mengusulkan gagasan sebuah rute melalui Texas, Arizona, dan New Mexico dengan pertimbangan bahwa cuaca di sana biasanya lebih baik ketimbang melewati rute-rute lain yang diusulkan, namun gagasan ini disimpan di peti es ketika Perang Sipil Amerika pecah. Sebagian besar pejabat yang terlibat kesepakatan bahwa rute sentral merupakan rute yang terbaik.
Perang Sipil juga menggarisbawahi perlunya sebuah jalur kereta api lintas darat. Dan, pada tahun 1862 Presiden Abraham Lincoln (1809-1865) menandatangani undang-undang Pacific Railroad Act, yang mewajibkan dibentuknya badan usaha dan diberi nama Union Pacific Railroad yang akan membuat jalur kereta api kea rah barat dari Omaha, Nebraska. Sementara itu di California, setelah mempersiapkan sebuah penelitian untuk mencari rute terbaik menuju Sierra Nevada, sekelompok pengusaha wiraswasta mulai mengerjakan proyek mereka yang dinamakan Central Pacific Railroad pada tahun 1861. Dikenal hanya sebagai “Empat Besar”, pengusaha-pengusaha tersebut adalah Charles Crocker (1822-1888), Mark Hopkins (1802-1887), Collis Huntington (1821-1900), dan Leland Stanford (1824-1893).
Central Pacific dilibatkan dalam perencanaan jalur kereta api “Pacific” dengan pengertian bahwa para anggota kru pemasang rel akan bertemu di sisi timur dari Sierra Nevada. Dari kemajuan pekerjaan, tampak jelas bahwa kru Central Pacific bekerja jauh lebih gesit dibandingkan yang sebelumnya diperkirakan, dan kru Union Pacific bekerja lebih lamban. Pada saat itulah diputuskan bahwa kedua jalur akan terus dilanjutkan pemasangannya sampai kedua ujung bertemu, di mana pun tempatnya. Kedua proyek berubah menjadi sebuah lading pekerjaan raksasa di wilayah Nevada, Wyoming, dan Utah, dengan anggota-anggota kru yang berbaring untuk memasang rel di lapangan-lapangan terbuka sepanjang kurang lebih 17 kilometer dalam waktu satu hari.
Akhirnya, pada tanggal 10 Mei 1869, lokomotif yang melintasi dua jalur kereta api itu bertemu di Promontory, Utah, dan sebuah paku emas ditancapkan untuk menandai sambungan antara rel dengan rel. Sebuah perjalanan yang tadinya memakan waktu berbulan-bulan dapat dilaksanakan hanya dalam beberapa hari. Sebuah negara besar yang terdiri atas negara-negara bagian yang berdampingan dengan dua samudera sekarang dihubungkan dari pantai ke pantai dengan rel baja.

Imperium Inggris

Selama abad ke-19, kerajaan Inggris bertambah luas dan kuat. Inggris menguasai lebih banyak wilayah dibanding negara-negara lain sepanjang sejarah. Dan ini menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa utama dunia.
Pada masa keemasannya, selama pemerintahan Ratu Victoria, imperium Inggris mencakup seperempat penduduk dan wilayah dunia. Sejak akhir Perang Napoleon pada tahun 1815 sampai awal Perang Dunia I pada tahun 1914, Inggris memperoleh banyak koloni sehingga imperiumnya terentang di berbagai kawasan. Inggris mampu mengendalikan wilayah kekuasaannya yang luas karena mendominasi jalur pelayaran dan perdagangan dunia. Sepanjang abad ke-19, kekuatan angkatan laut Inggris tidak terkalahkan. Kapal-kapal patroli mereka secara teratur berpatroli mengontrol wilayah-wilayah kekuasaan.
Karena wilayah kekuasaannya mencakup dua belahan bumi, maka Inggris dikenal sebagai “kerajaan dengan matahari yang tidak pernah tenggelam”. Koloninya di Karibia, Afrika, Asia, Australia, dan Pasifik, diperintah dari London. Semuanya berada di dalam monarki Inggris. Pelabuhan strategis seperti Gibraltar, Hongkong, Singapura, dan Aden berada dalam kekuasaan Inggris, termasuk juga rute-rute perdagangan penting seperti rute Cape ke India, atau Terusan Suez (melewati Mesir) menuju ke perkebunan rempah-rempah dan karet di Asia Tenggara.
Sumber Daya Alam dari Wilayah Koloni
Imperium ini memasok bahan mentah ke Inggris untuk industri manufaktur dan memenuhi kebutuhan Inggris akan produk-produk dari daerah jajahan seperti sutera, rempah-rempah, karet, kapas, teh, kopi, dan gula. Beberapa negara menjadi koloni ketika pemerintah Inggris mengambil alih perusahaan dagang yang bangkrut.
India adalah contoh negara di mana Inggris berdagang dan memerintah. Bagi Inggris, India adalah koloni yang paling berharga. Pada 1850, India berada di bawah kekuasaan Perusahaan Hindia Timut Inggris. Setelah pemberontakan pada 1857, India dipegang oleh pemerintah Inggris, dengan kebijakan yang lebih mengekang. Pejabat Inggris memberi kekuasaan kepada para raja untuk menangani urusan lokal.
Konsolidasi
Tahun-tahun Penting
1824
Koloni Penal didirikan di Brisbane, Australia
1829
Inggris mengklaim Australia bagian barat
1837
Ratu Victoria menjadi Ratu Inggris
1850
Australian Colonies Government Act memberi kemerdekaan terbatas kepada Australia
1852
Selandia Baru diizinkan memiliki konstitusi sendiri
1857
Muncul pemberontakan di India menentang kekuasaan Inggris
1867
British North American Act memungkinkan Kanada memiliki pemerintahan dalam negeri
1875
Inggris membeli saham atas pengelolaan Terusan Suez
1876
Ratu Victoria mengangkat dirinya sebagai Maharani India
1884
Inggris menduduki Papua Nugini bagian tenggara
1890
Zanzibar menjadi protektorat Inggris
1901
New South Wales, Queensland, Victoria, Australia Selatan, Australia Barat, dan Tasmania menjadi Negara Persemakmuran Australia
1901
Ratu Victoria wafat
1907
Negara dominion Selandia Baru didirikan
Inggris menduduki Mesir pada 1883 untuk menjaga Terusan Suez dan rute pelayaran ke India. Setelah pemberontakan di Mesir bagian selatan yang dipimpin oleh pejuang religius Mahdi, Inggris kemudian masuk ke Sudan pada 1898. Inggris membentuk jaringan dagang ke seluruh imperiumnya dengan cara menunjuk seorang agen di setiap pelabuhan. Mereka mengatur hasil bumi lokal untuk ekspor dan pasar impor Inggris. Angkatan laut Inggris melindungi kepentingan mereka dan menjaga agar rute perdagangan laut aman untuk pelayaran.
Pengaruh Inggris meluas sampai ke daerah pedalaman di Amerika Tengah dan Selatan, juga di Cina di mana Inggris mendirikan pos-pos dagang. Ratu Victoria, yang mengangkat dirinya sebagai Maharani India sejak tahun 1876, sangat mendukung kebijakan luar negeri Inggris bagi ekspansi wilayah dan menegakkan imperium Inggris di seluruh dunia. Ketika lebih banyak orang Inggris bermigrasi ke wilayah imperium Inggris, wilayah itu diberi lebih banyak kebebasan untuk mengatur pemerintahan sendiri. Banyak koloni, khususnya Kanada, Australia, dan Afrika Selatan menjadi negara-negara dominion, lebih baik dari sekadar koloni, dan diizinkan untuk memiliki pemerintahan sendiri.
Berakhirnya Imperium
Menjelang akhir abad ke-19, beberapa koloni mulai melepaskan diri dari pemerintahan Inggris. Pemerintahan dalam negeri Kanada diberikan pada 1867 dan kemerdekaan bagi Australia pada 1901. Kedua negara masih menjadi negara dominion, tetap merupakan bagian dari imperium Inggris. Mulai terkikisnya hubungan dengan Inggris menandakan bahwa Inggris tidak lagi menjadi negara industri nomor satu di dunia. Jerman dan Amerika Serikat telah mengalahkan Inggris, diikuti oleh Prancis dan Rusia.

Amerika Serikat Menjadi Kekuatan Dunia

Selama abad ke-19, ketika Inggris Raya sedang membangun kerajaan politiknya maupun ekonominya di seluruh dunia, yang menjadi fokus Amerika Serikat adalah pengembangan ekonomi teritori Amerika, sebuah wilayah yang luasnya hampir menyamai Kerajaan Inggris Raya. Memang, sebagian besar negara-negara kuat di Eropa—bahkan yang sekecil Portugal maupun Belgia sekalipun—memiliki jajahan di Afrika dan Timur Jauh. Tahun 1898, berkat tanah yang kaya dengan sumber-sumber alam dan sebuah ekonomi yang secara konstan meningkat, Amerika Serikat sudah menjadi sebuah negara adidaya di bidang ekonomi dalam percaturan dunia. Meskipun demikian, menurut ukuran Eropa, Amerika tidak dapat dinilai sebagai negara adidaya dari segi politik karena negara tersebut tidak memiliki jajahan ataupun kepentingan dalam perkembangan politis di luar bumi belahan Barat.
Perang Spanyol-Amerika
Sementara itu, Spanyol menyaksikan kerajaannya di bumi belahan Barat tumbang pada abad ke-19, karena semua republik di Amerika Selatan yang berada di bawah kekuasaan mereka memperoleh kemerdekaannya. Tahun 1895, rakyat Kuba mengadakan revolusi melawan Spanyol. Hancurnya Spanyol secara kasar dicela dengan nada marah oleh pers Amerika, dan, akibatnya, pada tanggal 15 Pebruari 1898, kapal perang Angkatan Laut Amerika Serikat USS Maine diledakkan di Pelabuhan Havana, dan diduga keras bahwa pelakunya adalah kaki-tangan Spanyol. Rakyat Amerika menuntut bahwa Amerika Serikat maju ke medan perang melawan Spanyol untuk membuat impas atas tewasnya 260 orang laki-laki dalam peristiwa tenggelamnya kapal USS Maine dan membebaskan rakyat Kuba dan kekuasaan Spanyol yang menindas. Pasukan Angkatan Laut Amerika Serikat memblokir Kuba dan menyerang armada Spanyol di Filipina. Tanggal 1 Mei, armada yang dipimpin oleh Admiral George Dewey berlayar menuju Teluk Manila dan menghancurkan setiap kapal perang Spanyol yang ada di depan mata, tanpa satu orang Amerika pun yang tewas. Tanggal 3 Juli, Quadron di bawah pimpinan Admiral William T. Samson, menghancurkan seluruh armada Spanyol di Kuba, sekali lagi tanpa kehilangan anggota pasukannya. Pada waktu yang bersamaan, pasukan Angkatan Darat Amerika Serikat untuk menyerbu Kuba. Di dalamnya ada resimen Kavaleri Sukarelawan Pertama (anggotanya dinamakan “Rough Riders”) yang dipimpin oleh Theodore Roosevelt (1858-1919), yang kemudian menjadi presiden Amerika Serikat (1901-1909). Tanggal 17 Juli, pasukan Spanyol dikalahkan.
Perang Spanyol-Amerika berlangsung hanya 114 hari dan mengakibat segelintir korban di pihak Amerika, namun dampak dari kemenangan ini layak diperhitungkan. Pasukan Spanyol secara berturu-turut menyerah tidak hanya kepada Kuba dan Filipina, melainkan juga kepada Puerto Rico dan Guam. Dengan kemenangan ini, Amerika Serikat menjadi kekuatan politik berskala dunia.
Berkembangnya sebuah kerajaan hanya sedikit mengubah nasib Amerika di bidang ekonomi. Tidak seperti negara-negara tandingannya yang lebih kecil di Eropa, Amerika Serikat sudah memiliki sumber-sumber daya yang sangat besar di negerinya sendiri. Perang Spanyol-Amerika memaksa Amerika Serikat untuk mulai menentukan perannya dalam percaturan dunia. Oleh kerena perang dan komunikasi internasional yang semakin cepat dan maju, sebuah bangsa yang ditakdirkan sepenting Amerika Seirkat tidak sanggup untuk tetap terisolasi, dan memang tidak akan pernah terisolasi.

Afrika Selatan Abad ke-19

Afrika Selatan mengalami pergolakan besar akibat perebutan kekuasaan dan wilayah di abad ke-19, ketika Inggris, bangsa Boer, dan suku Zulu saling bertikai.
Pada 1836, Koloni Cape (Cape Colony) yang terletak di ujung selatan Afrika diperintah oleh Inggris. Pemukim dari Belanda yang dikenal sebagai orang Boer (yang artinya petani) tidak menyukai pemerintahan Inggris. Orang Boer lalu meninggalkan Koloni Cape dengan melakukan Perjalanan Besar (Great Trek). Great Trek adalah peristiwan besar dalam sejarah bangsa Boer. Mereka pergi ke utara, ke area yang dikenal sebagai KwaZulu-Natal dan Free State lalu mengalahkan penduduk asli Afrika yang hidup di sana. Inggris kemudian mengambil alih Republik Natal (republik baru kaum Boer) pada 1843. Pada awal 1850-an, Inggris memberikan kemerdekaan untuk wilayah Transvaal dan Orange New State. Pertempuran berlanjut antara orang Boer dan suku Zulu yang dipimpin oleh Cetswayo (1826-1884). Selanjutnya terjadi perang segitiga yang melibatkan Inggris dan suku-suku Zulu melawan orang-orang Boer.
Pada tahun 1879, suku Zulu mengalahkan Inggris di Isandlwana tetapi mereka kalah dalam pertempuran di Rourke’s Drift. Pasukan suku Zulu yang tersusun dalam impis (resimen) bertarung dengan gagah berani meski pada akhirnya kalah.
Pada tahun 1880, Inggris mencoba menguasai kembali Transvaal, memicu Perang Boer I. Di perang ini, orang Boer berhasil mengalahkan Inggris sehingga Transvaal tetap merdeka.
Cecil Rhodes
Perdana Menteri Koloni Cape pada waktu itu adalah Cecil Rhodes (1853-1902). Ia ingin menciptakan Imperium Inggris di Afrika yang terentang dari Cape ke Kairo (Mesir). Rhodes menrencanakan Serangan Jameson yang didesain untuk menjatuhkan pemerintahan kaum Boer di Transvaal. Serangan itu gagal. Namun pada 1899, pecah Perang Boer II. Meskipun orang-orang Boer memenangkan beberapa pertempuran awal seperti Spion Kop, akhirnya mereka dikalahkan Inggris pada tahun 1902.
Perjanjian Vereeniging ditandatangani pada Mei 1902. Dalam perjanjian ini, republik kaum Boer dijanjikan akan berpemerintahan sendiri, walaupun masih menjadi bagian dari Imperium Inggris. Pada 1907, janji ini ditepati. Pada tahun 1910, mereka menggabungkan Natal dan Koloni Cape sebagai provinsi awal dari Uni Afrika Selatan.

1848, Tahun Revolusi

Pada 1848, berbagai pemberontakan dan demonstrasi terjadi di banyak bagian benua Eropa. Peristiwa itu dipicu oleh ketidaksenangan rakyat atas pemerintah yang sedang berkuasa.
Alasan munculnya pemberontakan serupa dengan yang menyulut Revolusi Prancis. Salah satu alasan utama adalah penduduk di banyak negara di penjuru Eropa mulai merasa mereka lebih penting daripada “negara”, sehingga mereka harus memiliki suara dalam pemerintahan. Menanggapi pemberontakan dan protes disertai kekerasan, para penguasa mencoba merestorasi sistem pemerintahan lama. Peristiwa yang terjadi pada 1848 menunjukkan bahwa perubahan adalah suatu keharusan.
Alasan kuat lain atas terjadinya pemberontakan 1848 adalah nasionalisme, yaitu keinginan rakyat penutur bahasa yang sama untuk membentuk negara merdeka sendiri. Nasionalisme yang kuat muncul di Italia dan Jerman, yang wilayahnya terpecah ke dalam banyak negara bagian kecil yang menjadi bagian dari Kekaisaran Austria. Pemberontakan lainnya dipicu oleh rakyat yang menginginkan makanan lebih murah, atau perubahan dalam hukum pemerintahan.
Chartisme
Di beberapa negara, rakyat menuntut hak untuk memilih. Ini adalah salah satu reformasi yang diinginkan oleh gerakan Chartisme di Inggris. “Perjanjian Rakyat” pertama kali dipublikasikan di Inggris pada Mei 1838. Petisi yang ditandatangani 1,2 juta penduduk ini diajukan ke parlemen pada Juni 1839, tetapi ditolak sebulan kemudian. Pada Pebruari 1848, menyusul revolusi di Prancis, dibuat petisi akhir. Ketika selesai, dinyatakan bahwa petisi ini telah disetujui oleh 3 juta penduduk. Pada 10 April 1848, terjadi pawai massa dari London ke Houses of Parliament untuk menyampaikan petisi ini. Petisi ini ditolak, sehingga kaum Chartisme memulai cara kekerasan.
Perubahan-perubahan yang terjadi pada masa itu telah memudahkan perjuangan. Banyak orang dapat membaca dan banyak surat kabar memberitahukan apa yang terjadi di negara-negara lain. Tentara harus dikerahkan untuk mengatasi kericuhan karena minimnya jumlah anggota kepolisian. Sebagian besar pemberontakan yang terjadi pada tahun 1848 dapat digagalkan. Namun dalam beberapa tahun berikutnya, kaum nasionalis telah bertumbuh lebih kuat. Banyak pemerintahan mulai melihat bahwa reformasi demokratik akan diperlukan dalam waktu dekat.
Revolusi di Eropa
Di Prancis, Raja Louis-Phillippe digulingkan. Republik Kedua dibentuk oleh Louis Napoleon, keponakan Napoleon Bonaparte yang diangkat sebagai “pangeran-presiden”. Pemberontakan juga meluas di negara-negara Italia yang masing-masing masih berdiri sendiri, namun semuanya dapat ditumpas pada akhir tahun. Kanselir Austria, Pangeran Metternich mengundurkan diri pada Maret 1848, dan Raja Ferdinand diturunkan dari takhta oleh Franz Josef pada Desember 1848.
Pemberontakan juga muncul di Berlin, Wina, Praha, Budapest, Catalonia, Wallachia, Warsawa, dan London. Di Jerman, Dewan Nasional mengadakan pertemuan di Frankfurt, sementara sebuah konstitusi baru diberlakukan di Belanda.
Di Belgia, diterbitkan The Communist Manifesto yang ditulis oleh Karl Marx dan Friedrich Engels. Di seluruh Eropa, angkatan bersenjata dan petani tetap loyal pada monarki mereka. Pemberontakan dapat dipadamkan di Prusia dan Italia meski terjadi sejumlah reformasi.

Sejumlah Langkah Pertama Untuk Mendapatkan Hak-hak Perempuan

Sejak Magna Carta sampai Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat, persoalan-persoalan mengenai kebebasan perorangan, usulan untuk mendapatkan hak-hak serta kemerdekaan setiap manusia sudah menjadi penyebab pertikaian utama di lingkungan bangsa-bangsa di Eropa dan akhirnya di Amerika Utara. Perlahan-lahan, kekuasaan raja dan ratu sedang dikompromikan, dan hak-hak orang kebanyakan sedang diakui. Inggris mendirikan sebuah kerajaan yang konstitusional dengan sebuah Parlemen terpilih, dan menjelang akhir abad ke-18 baik di Amerika Serikat dan Prancis berdiri sebuah republik yang mandiri. Demokrasi tampak mulai bangkit. Manusia sudah diberi hak untuk memberikan suaranya dan mereka menggunakan hak tersebut.
Pada waktu itu, semua hak demokratis yang diperoleh dengan sulit yang sedang diberikan hanya dinikmati oleh kaum laki-laki. Seakan-akan, perempuan tidak penting, atau yang lebih buruk, bahwa mereka semata-mata merupakan hak milik laki-laki. Teori konvensional yang beredar di Eropa—dan bahkan di banyak bagian dari dunia ini—berbunyi bahwa “tempat perempuan adalah di rumah” dan tidak di dalam ruang-ruang kehidupan publik atau di mana kebijakan publik diberlakukan secara hukum.
Sebelum abad ke18 berakhir, timbul kesadaran yang semakin meningkat bahwa ada ketidakadilan sedemikian rupa sehingga, dari segi hukum, perempuan tidak dianggap setara dengan laki-laki. Tahun 1789 di Prancis, Olympe de Gouges menerbitkan Declaration of the Rights of Woman, suatu reaksi terhadap apa yang dianggap telah dihilangkan dari Declaration of the Rights of Man yang didesakkan oleh para revolusioner Revolusi Prancis. Sebuah petisi yang disodorkan kepada Dewan Nasional Prancis bahwa perempuan seharusnya mendapat hak pilih pada tahun yang sama ditolak, dan faktanya, kitab undang-undang yang diumumkan dengan resmi di bawah pemerintahan Napoleon Bonaparte (1769-1821) mengabaikan kaum perempuan Prancis untuk memiliki banyak hak yang sebelumnya mereka nikmati.
Pada waktu yang bersamaan, seorang pramusiwi berkebangsaan Inggris yang bernama Mary Wollstonecraft (1759-1797), yang diilhami oleh Revolusi Prancis dan protes Olympe de Gouges, menerbitkan A Vindication of the Rights of Women, yang tetap menjadi naskah penting dalam gerakan hak-hak perempuan. Nona Wollstonecraft memercayai bahwa gadis-gadis dan perempuran dewasa harus mendapat pendidikan yang setara, bahwa mereka harus diizinkan untuk memiliki perkerjaan selain sebagai pembantu rumah tangga dan pramusiwi, dan bahwa mereka harus diizinkan untuk menjadi dokter dan memiliki bisnis sendiri. Hak-hak perempuan, yang sudah lama diingkari, menjadi persoalan yang hangat dibicarakan, sebuah masalah yang tidak akan berlalu.
Kemajuan berjalan lambat pada abad ke-19, meskipun perempuan diberi jalan masuk yang lebih besar ke dalam dunia pendidikan. Di Amerika Serikat, Susan B. Anthony (1820-1906) adalah seorang pemimpin gerakan anti-perbudakan dan gerakan hak pilih perempuan. Walaupun demikian, belum sampai abad ke-20, perempuan sudah boleh menggunakan salah satu hak yang paling mendasar dalam masyarakat yang demokratis: hak untuk memberikan suara. Perempuan Australia memperoleh haknya pada tahun 1902, perempuan Inggris tahun 1918, dan perempuan Amerika Serikat, melalui Amandemen Kesembilan Belas atas Undang-undang Dasar Amerika Serikat, 26 Agustus 1920, meskipun Wilayah Wyoming sudah mengesahkan hukum hak pilih perempuan pada tahun 1869. Perempuan Prancis akhirnya diberi hak untuk memilih pada tahun 1945.

Sejarah Berdirinya Amerika Serikat


Penduduk di 13 koloni di Amerika tidak puas dengan pemerintahan Inggris. Mereka memperjuangkan kemerdekaan. Akhirnya, sebuah bangsa baru pun lahir.
Pada akhir Perang Tujuh Tahun pada 1763, pemerintahan Inggris di London dan pemukin Inggris di Amerika merasa puas. Mereka berhasil mengalahkan Prancis dan merebut wilayah Kanada, juga kea rah barat hingga Sungai Mississippi dari tangan Prancis. Namun, hilangnya ancaman dari orang Prancis membuat para pemukin tidak lagi memerlukan bantuan Inggris.
Namun, Inggris ingin memerintah bekas wilayah kekuasaan Prancis dan menarik pajak tinggi untuk membayar tentara yang mempertahankan daerah yang baru direbut. Pajak yang dinaikkan itu ditarik dari 13 koloni. Lalu, dewan-dewan kolonial lokal berpendapat, tidak adil jika Inggris menerapkan pajak atas koloni-koloni di Amerika karena mereka tidak memiliki suara di pemerintahan Inggris. Mereka mengatakan “penarikan pajak tanpa adanya perwakilan merupakan tirani”. Koloni-koloni itu melarang semua impor dari Inggris. Pada 4 Juli 1776, para utusan dari ke-13 koloni menetapkan Deklarasi Kemerdekaan yang menyatakan hak untuk memerintah sendiri.
Kemerdekaan
Berpedoman pada berbagai pemikiran Thomas Jefferson (1743-1826), dan dipengaruhi oleh Pencerahan, Deklarasi Kemerdekaan Amerika 1776 menyatakan: ”Kami memegang teguh kebenaran ini sebagai bukti bahwa semua manusia diciptakan sederajat, bahwa mereka diberkati oleh Penciptanya denga hak-hak yang tidak dapat dilanggar, antara lain Kehidupan, Kebebasan, dan mencari Kebahagiaan.”
Perang Revolusi Amerika (sejarawan Inggris menyebut Perang Kemerdekaan Amerika) dimulai pada tahun 1775. Mulanya, Inggris meraih sejumlah kemenangan, meski mereka harus bertempur hampir 5.000 kilometer jauhnya dari tanah air mereka. Namun, orang Amerika memiliki satu keuntungan karena mereka bertempur di wilayah sendiri dan meyakini bahwa perjuangan mereka akan berhasil. George Washington (1732-1799) pernah bertugas dalam ketentaraan Inggris di Amerika. Ia kemudian diangkat sebagai panglima tertinggi tentara Amerika yang baru, dan memerangi pasukan Inggris. Pada 1789, ia menjadi presiden pertama Amerika Serikat. Pada tahun 1781, enam tahun setelah konflik dimulai, tentara Inggris menyerah di Yorktown, Virginia. Inggris mengakui kemerdekaan Amerika dalam Perjanjian Paris pada tahun 1783.
Tahun-tahun Penting
1763
Berakhirnya Perang Tujuh Tahun, pasukan Inggris dikirim ke Amerika
1764
Undang-undang Gula menetapkan pajak atas gula cair yang diimpor
1765
Undang-undang Prangko menetapkan pajak atas dokumen
1775
Perang Revolusi Amerika dimulai. Pecah Pertempuran Bunker Hill
1776
Amerika Serikat mendeklarasikan kemerdekaannya
1781
Tentara Inggris menyerah di Yorktown
1783
Inggris mengakui kemerdekaan Amerika
1787
Rancangan Konstituisi Amerika dibuat
1789
Konstitusi Amerika disahkan. George Washington menjadi presiden pertama Amerika Serikat
1801
Thomas Jefferson menjadi presiden ketiga Amerika Serikat
Konstitusi Amerika Serikat
Pada tahun 1783, setelah menandatangani perjanjian damai dengan Inggris, bangsa Amerika Serikat yang baru harus memutuskan cara terbaik untuk mengelola negeri mereka. Mereka memutuskan untuk memiliki seorang presiden yang dipilih setiap empat tahun sekali. Presiden akan memerintah dengan bantuan Kongres (terbagi atas Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat), dan Mahkamah Agung. Rancangan Konstitusi (kumpulan peraturan hukum) untuk pemerintahan baru mengandung tiga pernyataan penting perihal negara Amerika Serikat.
Pertama, negara akan berbentuk serikat. Para pemukim yang telah memerangi Inggris akan hidup bersama untuk mengatur negeri mereka. Kedua, setiap negara bagian memiliki dewan perwakilannya sendiri, dan mengelola negara bagian sesuai keinginannya, asalkan tidak bertentangan dengan hukum negara federal. Ketika, baik presiden, Kongres, maupun Mahkamah Agung tidak diperkenankan mengontrol pemerintahan pusat Amerika sendirian. Sistem check and balance (perimbangan kekuasaan) akan memastikan bahwa kekuasaan dibagi di antara ketiga bagian pemerintahan ini.
Ini semua merupakan pemikiran baru yang dipengaruhi oleh Pencerahan, dan belum pernah diuji coba sebelumnya. Konstitusi revolusioner ini disahkan pada tahun 1789. Bangsa baru ini, dengan sejarahnya yang pendek dan penduduknya yang mengalami begitu banyak pengalaman buruk di masa lampau, menjadi republik demokratis sejati pertama di dunia. Mereka diatur menurut hukum yang disepakati bersama. Hanya dalam waktu 150 tahun, Amerika Serikat menjadi bangsa besar di dunia.

Sejarah Austria dan Prusia (1711-1786)


Kekaisaran Austria telah melewati masa kejayaannya, sementara Brandenburg-Prusia menjadi semakin kuat. Keduanya berusaha menguasai negara Jerman lainnya.
Charles VI, Archduke Austria, menjadi Kaisar Romawi Suci pada tahun 1711. Ini membuatnya menjadi orang yang paling kuat di Eropa, menambahkan wilayah Romawi Suci ke dalam wilayah Austria. Setalah kematian Charles pada 1740, ada tiga orang yang menyatakan berhak atas takhta, bukan putri Charles, yaitu Maria Theresa, yang seharusnya dinobatkan. Para saingan itu adalah Charles dari Bavaria, Philip V dari Spanyol, dan Augustus dari Saxonia.
Keadaan menjadi rumit ketika negara Eropa lain turut campur. Perang Suksesi Austria (1740-1748) dimulai ketika Prusia menginvasi provinsi Silesia milik Austria. Prusia didukung oleh Prancis,  Bavaria, Saxonia, Sardinia, dan Spanyol. Namun, Inggis, Hongaria, dan Belanda mendukung Maria Theresa. Pada akhirnya, Maria Theresa tetap berkuasa, Austria melemah, dan Prusia tetap menduduki Silesia. Perimbangan kekuatan di Jerman beralih ke Prusia, sementara Kekaisaran Romawi Suci mengalami kemunduran. Wilayah Austria masih luas, tetapi telah kehilangan kekuatannya. Lebih dari seabad kemudian, pada tahun 1870, Prusia menyatukan Jerman, sedangkan Austria dibiarkan terpisah.
Brandenburg-Prusia
Dinasti kuno Hohenzollern dari Brandenburg mewarisi Prusia pada tahun 1618. Di tahun 1700, Brandenburg-Prusia telah menjadi kekuatan Protestan utama, dengan Berlin sebagai ibukota. Para rajanya membangun pemerintahan yang efisien dan mendorong kemajuan industri. Tampilnya Prusia sebagai kekuatan besar diawali pada pemerintahan Raja Friedrich Wilhelm I yang membangun kekuatan militer. Penggantinya pada tahun 1740, Friedrich II yang Agung, menggunakan pasukan untuk menantang Austria, Prancis, dan Rusia. Selama masa pemerintahannya, Friedrich yang Agung melipatgandakan wilayah Prusia, memajukan bidang usaha dan industri, serta menjadikan Prusia sebagai pusat kebudayaan Zaman Pencerahan. Selama 100 tahun berikutnya, Prusia memperoleh lebih banyak daerah dan semakin mendominasi Polandia dan Jerman bagian utara.