This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Thursday, June 28, 2012

Zaman Keemasan Yunani


Sepanjang sejarah, sudah banyak sekali pemikir, penulis, dan reoretikus yang luar biasa dalam banyak budaya. Meskipun demikian, semasa kurun waktu itu pemikir-prmikir hebat serupa ini banyak ditemukan di Athena–dan mereka menimbulkan dampak yang lebih mendalam terhadap sejarah Barat–daripada apa yang akan dilihat dunia di dalam sebuah ruang dan waktu yang begitu sempit hingga zaman Renaisans.
Di antara pemikir-pemikir tersebut, ada tiga orang yang namanya lebih terkenal dibandingkan yang lain. Socrates (469-399 SM) dinilai sebagai pemikir pertama. Ia menjadi guru Plato (427-347 SM). Sementara itu, Plato mengajar Aristoteles (384-322 SM). Kesinambungan dalam berbagai ilmu serupa ini secara signifikan melahirkan pemikiran filosofis Barat yang makin mendalam dan makin lengkap.
Socrates, yang mendapat banyak pengikut oleh karena kecanggihannya dalam berpidato, juga merupakan seorang filsuf berotak cemerlang yang oleh banyak orang diakui sebagai bagawan filsafat Barat. Socrates percaya bahwa manusia eksis untuk sebuah tujuan dan bahwa yan benar dan yang salah memainkan peran yang sangat penting untuk menetapkan hubungan kita dengan lingkungan maupun dengan orang lain. Ia melanjutkan teorinya bahwa tujuan dari sebuah pemerintahan yang ideal ialah mewujudkan orang-orang bijak yang memerintah demi kebaikan masyarakat secara umum.
Plato menerima gagasan-gagasan Socrates dan menguraikan semua itu dalam bukunya The Republic, dimana ia membayangkan sebuah “negara yang sempurna oleh karena etika, kebajikan, dan akal budi yang seimbang”. Ia mengajarkan agar manusia mengejar hikmat, bukannya sekadar menerima dogma.
Aristoteles mempelajari ilmu kedokteran dan filsafat serta menerapkan sebuah metode yang sistematis dalam mengkaji hubungan manusia dengan aspek-aspek lain dari dunia di sekitar kita. Aristoteles adalah pembimbing Alexander yang Agung. Pemikiran Aristoteles pada dasarnya selaras dengan teologi Kristen yang diajarkan oleh Santo Thomas Aquinas (1225-1274) pada abad ke-13.

Yudea Kuno


Bangsa Yahudi mengalami pengasingan di Babilonia selama 60 tahun sejak 597 SM. Dengan kepercayaan yang berbeda, mereka berkembang dan hidup terpisah dari tetangganya di kawasan Timur Tengah.
Kaum Yahudi hanya menyembah satu Tuhan, yang disebut Yahwe. Mereka membangun sinagoge dan mematuhi aturan ketat agama. Sekembali dari pengasingan di Babilonia pada 538 SM, mereka menekankan hukum dan kepercayaan Yahudi, memisahkan diri dari orang-orang yang bukan Yahudi. Saat itu, Palestina dikuasai Yunani. Orang Yahudi berjuang menghentikan pengaruh bangsa Yunani yang merusak tradisi bangsa Yahudi.
Palestina Dibawah Kekuasaan Romawi
Setelah penjajahan Yunani, Yudea menjadi negara merdeka selama hampir 80 tahun sebelum ditaklukkan oleh Romawi. Romawi lalu menunjuk Herodes sebagai Raja Yudea pada 37 SM. Orang Yahudi diizinkan berpergian dan berdagang. Banyak di antara mereka kemudian pindah ke negeri lain. Ketika Pontius Pilatus menjadi Gubernur Romawi di Yudea pada 26 M, kehidupan orang Yahudi dipersulit. Akibatnya, mereka membenci orang Romawi dan pajak yang mereka kenakan bagi orang Yahudi. Pada tahun 135 M, setelah terjadi sejumlah pemberontakan, bangsa Romawi mengusir kaum Yahudi dari Yudea.

Sejarah Agama Buddha


Dari lima agama dunia yang terorganisasi dengan jumlah penganut yang terbesar, ada dua­­­–agama Yahudi dan agama Hindu–yang sudah lahir sejak zaman kuno dan tidak memiliki pendiri yang boleh dikatakan spesifik, sekalipun para rabbi mengajarkan bahwa agama Yahudi dimulai ketika bapa orang Ibrani Abraham menerima dan menjalankan perintah Tuhan. Ketiga agam yang lain–agama Islam, agama Buddha, agama Kristen–didirikan di seputar masa sejarah oleh para pemimpinnya masing-masing.
Pendirian agama Buddha dimulai di India utara oleh seseorang yang bernama Siddharta Gautama. Ia lahir pada tahun 563 SM di tengah-tengah sebuah keluarga kaya yang bergaul dengan mereka yang tergolong Ksatria, kasta prajurit. Sejak muda Siddharta berminat untuk mempelajari filosofi dan kesusastraan Weda, kitab suci dasar dari agama Hindu. Akan tetapi, dari hari ke hari, dia disadarkan oleh agama Hindu dan penderitaan yang ia saksikan di sekitarnya. Ini membuat dia memutuskan untuk mengembangkan sebuah filosofi agama pengganti yang menjanjikan pembebasan roh, seandainya bukan tubuh jasmani, dari penderitaan-penderitaan di bumi.
Pada usia  29 tahun, Siddharta memiliki serangkaian visi yang meyakinkan dia untuk meninggalkan istananya, istrinya serta putranya, menanggalkan semua harta miliknya yang bersifat duniawi dan mulai mencari “kebenaran”. Ia mengunjungi banyak orang suci dan menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk berpuasa dan bermeditasi. Tujuannya adalah menciptakan sebuah cara guna mengatasi semua keinginan daging–termasuk perasan lapar–agar memiliki kemampuan untuk mengendalikan alam pikirannya secara utuh. Kebenaran yang ia cari tidak juga ditemukan sampai pada satu malam dalam bulan Mei 528 SM, ketika sedang duduk di bawah sebuah pohon “bodi”, ia menerima apa yang dikenal oleh para penganut agama Buddha diakui sebagai “pencerahan”. Dalam waktu singkat, Siddharta menyadari bahwa penderitaan manusia dapat dikalahkan.
Salah satu dokrit besar dari agama Buddha ialah siklus reinkarnasi. Jiwa setiap makhluk hidup yang mati, lahir kembali dalam bentuk makhluk hidup lain. Siklus ini berlangsung terus menerus, dengan jiwa yang secara bertahap berubah dari sebuah serangga menjadi seekor hewan dan menjadi bentuk manusia. Apabila semasa hidupnya seorang manusia berperilaku jahat, maka ia akan dilahirkan kembali dalam makhluk hidup yang lebih rendah derajatnya; bila sebaliknya yang ia lakukan, maka ia akan menjadi manusia kembali. Siklus reinkarnasi ini tidak terbatas, namun pencerahan Siddharta membuat ia sadar bahwa dengan mengikuti jalur yang tetap–dharma–yaitu dengan bermeditasi dan beribadah, jiwa sanggup mencapai suatu kondisi nirwana, sebuah status akhir yang sempurna, yang bukan tidak mirip dengan konsep Sorga yang dianut oleh ajaran Kristen-Yahudi.
Siddharta menggunakan nama “Buddha” yang berarti “Yang Dicerahkan” dan masuk ke dalam dunia untuk mengajarkan filosofinya. Setelah kematiannya pada tahun 483 SM, para pengikutnya mendirikan perserikatan keagamaan yang anggotanya terdiri atas biksu-biksu. Dan, filosofi agama Buddha juga menyebar ke seantero Asia, yang mendapat pengikut dalam proporsi yang lebih besar di Cina, Jepang, Asia Tenggara daripada di India sendiri. Kini, tercatat hampir 300 juta penganut agama Buddha di dunia, 99,5% di antarnya menetap di Asia.

Republik Romawi


Pada masa ini, Roma diperintah oleh kaum patricia (kelas penguasa). Mereka memperluas kepentingan Romawi, awalnya ke Italia, lalu ke seluruh kawasan Laut Tengah.
Terjadinya pertikaian antara kaum patricia dan plebeia (orang biasa), mendorong penulisan undang-undang dan pengakuan pengaruh kaum plebeia dalam pemerintahan. Ini membentuk tulang punggung Republik Romawi. Untuk bertahan dari serangan, bangsa Romawi terlibat dalam sejumlah perang. Pada tahun 270 SM, mereka berhasil menguasai sebagian besar daerah di Italia. Romawi terlibat bentrokan dengan Kartago akibat sengketa dagang di Laut Mediterania. Perang Punik kemudian berkobar selama 60 tahun. Selama periode ini, Kaisar Kartago, Hannibal, memimpin pasukan menyeberangi Pegunungan Alpen untuk menyerbu Italia. Hannibal meraih sejumlah kemenangan. Namun, Publius Cornelius Scipio, Jenderal Romawi yang pemberani, menyeberangi Afrika untuk menyerang Kartago dan memaksa Hannibal kembali ke negerinya. Scipio akhirnya mengalahkan bangsa Kartago. Bangsa Romawi segera mendirikan kota-kota baru. Mereka member ketentraman dan kemakmuran serta kewarganegaraan Romawi kepada penduduk taklukkannya yang mau bekerja sama. Pada tahun 44 SM, bangsa Romawi telah menguasai Spanyol, Perancis, wilayah Eropa di selatan Sungai Danube, Anatolia, dan Afrika utara. Dengan demikian, dalam kurun waktu kurang dari 200 tahun, bangsa Romawi menjadi kekuatan dominan di Eropa.
Akhir Republik
Pada tahun 100 SM, terjadi pertikaian antara kaum patricia dan plebeia. Pihak militer membuka lowongan bagi para warga yang tidak memiliki tanah. Mereka diberi imbalan tanah dan status di wilayah jajahan atas pengabdiannya. Perebuatan kekuasaan di antara para jenderal menyebabkan perang saudara. Pada tahun 44 SM, Julius Caesar menjadi diktator seumur hidup. Kaum Republik lalu membunuhnya, dan segera setelah itu era Republik pun berakhir.

Pertempuran Salamis


Xerxes (519-465 SM) menggantikan ayahnya, Darius I (556-486 SM) sebagai raja Persia. Marah karena kekalahan di Marathon, Xerxes merencanakan sebuah invasi besar-besaran yang akan menelan Athena dan seluruh Yunani. Ia memimpin sebuah pasukan Persia yang besar (beberapa sejarawan memperkirakan pasukannya berjumlah 300.000 orang) melewati Turki, menyeberangi Hellespont, dan memasuki Yunani melalui Thrace dan Macedonia. Pasukannya dipasok dari sebuah armada yang membawa makanan bagi orang Persia yang memakan daging (orang Yunani vegetarian).
Xerxes dan pasukannya sempat terhambat di Thermopalayae, sebuah celah pegunungan sempit sebelah utara Athena. Di sana, sekitar 300 pejuang Sparta bertarung dalam sebuah pertempuran panjang untuk memperlemah pasukan Persia dan berhasil menunda laju pasukan Persia dan menimbulkan banyak korban dan pihak penyerbu. Ketika Persia akhirnya bisa menerobos dan membunuh pasukan pertahanan di Thermopalayae, tampaknya Yunani seolah-olah telah dikalahkan. Xerxes tak lama kemudian menduduki Athena dan telah siap untuk menaklukkan daerah lainnya di Yunani.
Akan tetapi, orang Yunani mempunyai sebuah senjata baru, yaitu kapal trireme yang telah dikembangkan selama sepuluh tahun sejak pertempuran Marathon. Ketika Xerxes memasuki Athena, ia mendapati sebuah kota yang ditinggalkan, karena armada Athena telah mengungsikan mayoritas penduduknya dan membawa mereka ke Pulau Salamis di sebelah selatan. Panggung telah disiapkan untuk pertempuran laut yang akan menegaskan penaklukkan Persia atas Yunani atau membuat seluruh peristiwa ini kembali dipertanyakan.
Xerxes menaruh sebuah singgasana di atas sebuah bukit yang bisa melihat ke arah teluk. Armadanya yang terdiri dari 1.000 galley (perahu besar) Persia memasuki teluk dan berhadapan dengan 370 perahu trireme Yunani. Pertempuran tersebut berlangsung sepanjang hari. Orang Yunani mampu bertahan dan memenangkan pertempuran karena dua faktor: pertama, orang Yunani menggunakan api sebagai senjata untuk membakar kapal-kapal Persia. Kedua, karena orang Yunani lebih tahu daerah perairan ini, sehingga mereka mampu mengungguli maneuver musuh mereka dalam pertarungan antar-perahu jarak dekat. Pada akhir hari itu, Xerxes menyaksikan armada Persia yang hancur dan kalah mundur.
Karena armadanya kekurangan pasokan, Xerxes akhirnya mundur dari Athena dan Yunani. Ia kembali ke Asia Kecil, walaupun ia meninggalkan kekuatan Persia yang cukup besar, namun pada musim semi berikutnya dikalahkan secara telak oleh orang Yunani. Kombinasi pertempuran Marathon dan Salamis mengakhiri semua kemungkinan pengambilalihan Yunani oleh Persia.

Pertempuran Marathon


Pada tahun 500 SM, Kerajaan Persia telah menggantika Kerajaan Babilonia dan Assyria yang telah ada di wilayah yang sekarang merupakan Iran dan Irak. Orang Persia adalah para prajurit terbaik pada masanya dengan pasukan berkuda yang gigih dan telah berkali-kali menaklukkan musuh-musuh mereka. Pada tahun 490 SM, Raja Persia Darius I (556-486 SM)mengirimkan 20.000 pasukan berlayar menuju menuju semenanjung kecil Yunani. Orang Yunani tinggal di sejumlah negara-kota yang kecil dan berstatus merdeka. Eksperimen demokrasi yang pertama di dunia dilakukan di negara-kota Athena. Bagi orang Persia, serangan mereka atas Yunani semata-mata ditujukan untuk memperkuat kekuasaan Persia di wilayah lain, sementara bagi orang Yunani, perjuangan mengusir musuh dianggap penting bagi demokrasi.
Pasukan Darius I mendarat di sebuah pantai kecil 32 kilometer di sebelah utara Athena. Mereka menunggu kemungkinan sebuah serangan orang Athena dan Plataea (11.000 orang) yang sudah menunggu di atas bukit sambil mengawasi pantai. Pada saat yang kritis ini, para pengamat yang paling netral pun akan mendukung Persia, yang hampir 100 tahun telah bertempur dan melakukan berbagai penaklukan. Pada hari itu, pihak Yunani yang melakukan gerakan pertama. Dipimpin oleh Miltiades (?-488 SM) dan Callimachus, orang Yunani berlari menuruni bukit dan menyerang pasukan Persia. Sambil menghadapi hujan anak panah yang dilepaskan pasukan panah Persia, pasukan Yunani berusaha terlibat pertarungan satu lawan satu. Pasukan tengah Persia bisa bertahan, tetapi sayap kiri dan kanan telah dikalahkan oleh serangan Yunani. Dalam waktu satu jam, pasukan Persia sepenuhnya ditaklukkan dengan 6.400 orang tewas, sementara sisanya berlari kembali ke kapal mereka dan kembali ke Asia Kecil (Turki). Pihak Yunani kehilangan 192 prajurit. Ketika para sejarawan modern berusaha menggambarkan kemenangan gemilang Yunani, mereka menekankan fakta bahwa Yunani berperang dengan formasi langsung, sementara Persia terbiasa dengan pertarungan dengan menggunakan fomasi sayap.
Marathon adalah salah satu pertempuran yang benar-benar sengit sepanjang sejarah. Kemenangan Yunani di pantai ini memungkinkan mereka dan orang Athena untuk mempertahankan kemerdekaan mereka dari Persia dan melanjutkan kerangka demokrasi yang akan diteruskan ke Eropa dan akhirnya ke Dunia Baru. Selain itu, konsep dan tradisi lari 42 kilometer yang dikenal sebagai “Marathon” lahir dari pelari Yunani, Phiedippedes, yang berlari ke Athena untuk mengabarkan kemenangan Yunani dan akhirnya ia meninggal karena kelelahan.

Pertempuran Leuctra


Dominasi Sparta atas semenanjung Yunani sama mengganggunya dengan dominasi Athena bagi negara-negara kota Yunani lainnya. Selama satu generasi sejak Pertempuran Aegospotami, orang Yunani mulai berusaha memperjuangkan kemerdekaan mereka dari Sparta. Salah satu pemimpin dari gerakan baru adalah Epaminondas (418?-362 SM), putra raja Thebes, sebuah negara-kota Yunani lainnya. Sejak kecil, Epaminondas terpaksa harus tinggal sebagai seorang tawanan di Sparta, untuk menjamin ayahnya tetap bersikap baik terhadap Sparta. Sebagai seorang pengamat yang tajam atas perilaku manusia dan taktik militer, Epaminondas secara dekat mempelajari bangsa Sparta, dan akhirnya memahami mengapa Sparta dikenal memiliki para perajurit terbaik pada masa itu.
Ketika ia menjadi raja Thebes yang memang menjadi haknya, Epaminondas menolak untuk membayar pajak kepada Sparta. Ia kemudian menghadapi apa yang sangat ditakuti oleh setiap pemimpin Yunani, yaitu sebuah invasi Sparta dan dalam wilayahnya. Pasukan Theba disiapkan sejauh 16 kilometer di sebelah barat Thebes, yang sekarang adalah Voiotia, Yunani. Pasukan Sparta terdiri dari 11.000 orang pria, sementara pihak Theba memiliki sekitar 6.000 prajurit. Bukan hanya banyak kesulitan yang menghadang mereka, melainkan baik orang Thena maupun orang Yunani tahu bahwa prajurit Sparta tidak terkalahkan sejak Pertempuran Thermopalayae, 110 tahun sebelumnya. Akan tetapi, Epaminondas memiliki gagasannya sendiri menganahi ketangguhan orang Sparta.
Orang Sparta menggelar barisannya sesuai dengan tradisi mereka, dimana prajurit terbaik ditempatkan di sayap kanan. Epaminondas melakukan yang sebaliknya, yaitu dengan menempatkan orang terbaiknya di sayap kiri, sehingga langsung berhadapan dengan prajurit terbaik Sparta. Ia juga mengatur sayap kanannya dalam sebuah barisan yang ditempatkan agak jauh dari Sparta sehingga mengurangi keharusan bertarung secara berhadapan langsung seperti biasanya. Sayap kiri Theba, yang diatur dengan formasi lebar 24 meter dan panjang 46 meter dengan cepat menerobos sayap kanan Sparta. Pihak Sparta bertarung dengan gigih dan berani, tetapi tidak membuat inovasi taktik untuk merespons serangan ini. Dalam beberapa jam, Epaminondas telah mengalahkan Sparta yang kehilangan 2.000 prajuritnya, termasuk Cleombrotus, raja Sparta. Kerugian di pihak Theba tidak tercatat, tetapi diyakini lebih sedikit. Pada akhir hari itu, pihak Thebes telah muncul sebagai kekuatan militer baru di Yunani. Pertempuran ini juga menegaskan bahwa mengatur gerakan prajurit bisa mengalahkan prajurit yang paling kuat sekalipun.

Pertempuran Kadesh


Saat pergantian abad ke-14 SM, sebuah kerajaan baru muncul di Asia Kecil (sekarang Turki) dan menantang kekuasaan Mesir di Timur Tengah. Kerajaan Hittit masih relatif kurang dikenal oleh para sejarawan masa kini, tetapi yang jelas rakyat Hittit telah menggunakan senjata yang terbuat dari besi saat orang Mesir dan hampir semua bangsa lainnya masih menggunakan perunggu untuk membuat senjata. Ketika bangsa Hittit mulai bersaing dengan Mesir untuk menguasai wilayah yang sekarang adalah Israel dan Lebanon, pihak Mesir memutuskan untuk melakukan serangan mematikan terhadap kerajaan baru tersebut. Firaun Mesir, Ramses II merekrut pasukan yang terdiri dari 20.000 orang, meliputi pasukan infanteri dan kereta perang. Ramses II berhadapan dengan 8.500 pasukan infanteri Hittit dan 10.500 pasukan kereta perang (orang Hittit membawa 3.500 kereta perang ke medan pertempuran).
Pertempuran berlangsung di sebelah tenggara Kadesh, di atas Sungai Orontes di Suriah. Pada mulanya, orang Hittit tampak lebih unggul. Serangan awal mereka dengan kereta perang membuat bingung pihak Mesir, dan orang Hittit berhasil menembus perkemahan utama pasukan Mesir. Pasukan Hittit banyak yang menghabiskan waktu untuk menjarah barang-barangdi perkemahan itu sehingga hal ini memungkinkan pasukan Mesir mempunyai waktu untuk menata kembali kekuatan mereka. Pertempuran yang berdarah ini berakhir seimbang dengan hasil yang tidak jelas. Ramses II memcatat pertempuran ini secara rinci pada monumen-monumen dan batu-batu pemujaan (obelisk). Tetapi, catatannya tidak memperhatikan fakta bahwa Kadesh meninggalkan banyak persoalan sebagaimana sebelumnya: sebuah wilayah tak berpenghuni di antara Kerajaan Hittit yang kuat di sebelah utaranya, dan Kerajaan Mesir yang mengagumkan di sebelah selatannya. Pertempuran Kadesh membentuk sejarah dunia karena membiarkan tanah tak berpenghuni itu tetap utuh. Di wilayah ini (sekarang adalah Lebanon, Suriah, dan Israel) kemudian terbentuk sebuah kerajaan kecil (kebalikan dan kerajaan yang besar-besar). Kerajaan-kerajaan kecil ini menghasilkan berbagai penemuan yang penting bagi masa depan dunia. Sebagau contoh, Kerajaan Funisia yang terletak di Lebanon yang sekarang, menciptakan rangkaian huruf pertama di dunia (21 huruf) dan Kerajaan Yehuda dan Israel mengembangkan agama monoteisme yang pertama.

Pertempuran Issus


Philip II dari Macedonia menaklukkan Thebes dan menjadi penguasa Yunani pada tahun 338 SM. Para prajurit Macedonia yang pandai berkuda dan senang minum anggur bermaksud untuk menyerang Persia, tetapi Philip keburu meninggal. Ia digantikan oleh putranya, Alexander (356-323 SM), yang kemudian dikenal sebagai Alexander yang Agung yang telah memimpin serangan pasukan kavaleri dan mengalahkan Thebes. Jarang sekali dalam sejarah seorang pemimpin militer besar seperti Philip digantikan oleh seorang putra yang ternyata bahkan lebih jenius secara militer dibandingkan ayahnya.
Alexander memimpin 30.000 prajurit Macedonia menyeberangi Hellespont memasuki Asia Kecil pada tahun 333 SM. Ia mengalahkan satu pasukan Persia dengan jumlah yang sama besar dengan pasukannya di tepi Sungai Gnanicus dan terus bergerak ke timur. Di sebelah tenggara Asia Kecil, ia berhadapan dan ditantang oleh pasukan Persia  yang terdiri dari 90.000 prajurit yang dipimpin oleh raja Darius III (380?-330 SM), yang sebagaimana pendahulunya, Xerxes, dikenal sebagai Raja segala Raja. Darius menempatkan prajuritnya di sepanjang jalur pasokan Alexander dan memaksa prajurit Macedonia terlibat dalam pertempuran Issus, di Sungai Payas, dekat Iskenderun yang sekarang adalah Turki.
Pertempuran ini berlangsung di sebuah dataran sempit antara pegunungan dan laut, yang menghalangi Darius untuk bisa menggunakan seluruh pasukannya (beberapa catatan peristiwa memperkirakan ia membawa sekitar 500.000 pasukan). Selain itu, kekuatan Darius terdiri dari prajurit dari berbagai kebudayaan dan kelompok bangsa (Bactria, Persia, Funisia, bahkan pasukan bayaran Yunani), sementara pasukan Alexander adalah prajurit inti yang solid dan hanya mengenal kemenangan.
Darius memulai pertempuran dengan gerakan pasukan kavaleri di sayap kiri dan kanan untuk menggiring prajurit Macedonia ke posisi di mana mereka bisa menyerang dalam jumlah yang lebih besar. Pasukan kavaleri Macedonia memukul mundur pasukan kavaleri Persia dan kemudian bergerak mengubah haluan untuk menyerang barisan utama pasukan Persia. Sepertinya tidak ada alasan bagi pasukan Persia untuk tidak bisa menang, tetapi komposisi multinasional dari pasukannya ternyata merugikannya. Pasukannya tidak terkoordinasi dengan baik satu dengan yang lainnya, dan gerakan maju secar mengejutkan dari pasukan phalanx Macedonia, yang membentuk sebuah dinding tombak dan pedang, yang diciptakan oleh Philip dan disempurnakan oleh Alexander membuat mereka takut. Hanya pasukan bayaran Yunani dari Darius yang terus bertempur, sementara kelompok pasukannya yang lain tercerai-berai menghadapi serangan Alexander. Darius melarikan diri dari medan pertempuran. Ia dan pasukannya dikejar oleh pasukan kavaleri Yunani, tetapi mereka berhasil lolos. Hal yang sama tidak terjadi pada sekitar 15.000 pasukan Persia yang terbunuh, serta ratu dan keluarga Darius yang setelah pertempuran usai ditawan oleh pasukan Yunani. Satu hari pertempuran telah memberikan kekuasaan kepada Alexander atas Asia Kecil dan wilayah yang sekarang merupakan Lebanon dan Suriah.

Pertempuran Arbela


Setelah kemenangan besarnya di Issus, Alexander yang Agung (356-323 SM) menaklukkan kota Funisia, Tyre, dan terus bergerak ke Mesir sebelum akhirnya berbalik untuk kembali lagi menghadapi orang Persia. Alexander telah menaklukkan sepertiga wilayah Kerajaan Persia dan Raja Darius III (380?-330 SM) mengirim utusan kepada Alexander untuk mengajukan syarat perdamaian. Alexander menolak tawaran perdamaian ini. Baginya, kemenangan adalah seluruhnya atau tidak sama sekali, tidak ada yang bersifat setengah-setengah. Setelah menghabiskan waktu di Mesir, di mana imam-imam Mesir menyatakan bahwa ia adalah putra Amun, Dewa Matahari, Alexander memimpin anak buahnya kembali ke Asia untuk kembali menghadapi orang Persia.
Untuk pertempuran kali ini, Darius membawa pasukan yang lebih besar untuk menghadapi Macedonia. Paling tidak terdapat 250.000 prajurit (terdiri dari prajurit multinasional, bukan prajurit Persia seluruhnya) yang digelar di dataran Arbela, kadang-kadang disebut Guagamela, di dekat wilayah yang sekarang adalah Mosul di sebelah utara Irak. Darius selama berhari-hari menyiapkan pertempuran. Ia menyuruh anak buahnya membersihkan medan pertempuran dari semak dan pecahan batu agar kereta perangnya dan pasukan berkudanya bisa digunakan secara maksimal. Ia memiliki 200 kereta perang, 15 gajah, dan 40.000 prajurit berkuda, serta 200.000 prajurti infanteri yang dikumpulkan dari seluruh wilayah Kerajaan Persia yang luas. Besar dan kekuatan pasukannya menunjukkan betapa paniknya Darius. Pasukan yang lebih besar tidak bisa memberinya keyakinan diri yang sesungguhnya, karena ia yakin bahwa Alexander pada dasarnya tidak terkalahkan. Alexander berpikir yang sama, begitu pula pasukannya yang semakin bertambah jumlahnya, yang berbaris dari satu kemenangan ke kemenangan yang lain selama dua tahun.
Alexander membawa 400.000 prajuritnya mendekati sayap kiri pasukan Persia. Ketika pertempuran dimulai, pasukan Yunani terus menyerang sisi kanan. Hal ini memaksa Darius untuk mengerahkan anak buahnya guna melawan serangan terarah ini. Darius melepas pasukan kereta perangnya dan pasukan gajah, tetapu kedua serangan ini berhasil ditahan oleh serangan panah dan tombak pasukan Macedonia.
Darius kecewa bahwa rencananya untuk meningkatkan serangan kavaleri telah digagalkan. Saat itu masih tersedia waktu bagi pihak Persia untuk melakukan konsolidasi. Alexander, yang melihat perubahan formasi dan titik kelemahan di pihak Persia, bersama pasukan pengawalnya menyerang ke bagian di mana Darius berdiri. Darius melarikan diri dengan para pembantunya, dan pertempuran itu segera berubah menjadi sebuah kekalahan. Korban diperkirakan mencapai 40.000 orang di pihak Persia dan hanya 500 orang di pihak Macedonia. Darius berhasil meloloskan diri dari kejaran Alexander, tetapi ia dibunuh oleh salah seorang jenderalnya sendiri. Peristiwa ini mengakhiri dinasti Persia yang dimulai dari Cyrus pada abad ke-6 SM yang selama dua abad telah menjadi kerajaan terbesar di belahan dunia Barat.