This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Friday, September 20, 2013

Perang Candu

Pedagang Eropa menggunakan kekuatan adiktif candu untuk memperoleh hubungan dagang penting dengan Cina, negara yang mengisolasi diri dari luar.
Selama berabad-abad, orang Cina tidak berhubung dengan bagian dunia lain. Banyak pedagang Eropa sangat ingin berdagang dengan Cina terutama karena sutera dan porselen dari Cina sangat populer di Eropa. Namun, pemerintah Cina hanya mengizinkan perdagangan dilaksanakan di satu pelabuhan, yaitu Guangzhou (Canton). Untuk mengakali masalah ini, para pedagang asing mulai menyelundupkan candu ke negara Cina, sehingga penduduk Cina terpaksa menjual barang-barang berharga mereka untuk ditukar dengan candu. Pemerintah Cina berusaha menghentikan praktik ini. Pada tahun 1839, pejabat Cina di Guangzhou, Lim Tse-shu, mengunjungi gudang-gudang Inggris. Mereka menyita lalu membakar 20.000 peti candu.
Inggris menganggap tindakan itu sebagai penyitaan milik pribadi, dan tidak dapat mentolerirnya. Maka, Inggris mengirim kapal-kapal perang untuk mengancam Cina dan mengepung pelabuhan. Cina menolak membayar konpensasi, melarang perdagangan dengan Inggris, dan menembaki pasukan Inggris. Maka, dimulailah Perang Candu I (1839-1842) antara Inggris dan Cina.
Perjanjian Nanking
Perang ini berat sebelah karena Inggris memiliki pasukan yang superior. Inggris membombardir Guangzhou dan menguasai Hongkong. Ketika Perang Candu I berakhir, Inggris memaksa Cina menandatangani Perjanjian Nanking (Nanjing) agar Cina membuka pelabuhannya bagi Inggris. Cina juga harus membayar kompensasi dan menyerahkan Hongkong kepada Inggris.
Pendekatan agresif Inggris ke Cina dimotori oleh Sekretaris Luar Negeri Inggris, Henry Temple (Viscount Palmerston III). Ia juga selalu menyiapkan pasukan untuk mempertahankan kepentingan-kepentingan Inggris di luar negeri. Akibat kalah perang dan kemudian perjanjian berat sebelah, Cina terpaksa memenuhi permintaan bangsa Eropa. Cina khawatir perdagangan asing akan menyebabkan Cina berada di bawah pengaruh asing.
Kerusuhan Sosial
Tahun-tahun Penting
1839
Para pejabat Cina menghancurkan gudang candu milik Inggris
1839
Pecah Perang Candu I
1842
Cina menandatangani Perjanjian Nanking
1842
Hongkong menjadi teritori Inggris
1844
Perjanjian Wanghia dengan Amerika Serikat
1851
Pemberontakan Taiping
1856
Pecah Perang Candu II
1858
Cina menandatangani Perjanjian Tientsin
1898
Inggris memperoleh hak sewa atas Teritori Baru (Hongkong) selama 99 tahun
Persoalan, terutama dipicu bangsa Inggris, meletus lagi pada pertengahan 1850-an dan mengakibatkan pecahnya Perang Candu II (1856-1860). Perang ini juga dimenangkan oleh Inggris dan berakhir dengan perjanjian lain. Perjanjian Tientsin ditandatangani pada 1858. Perjanjian ini memaksa Cina membuka lebih banyak pelabuhannya untuk berdagang dengan perdagang Eropa. Negara-negara lain, seperti Prancis dan Amerika Serikat, juga membuat perjanjian sepihak yang memberikan hak khusus bagi warganya dan meningkatkan pengaruh Barat di Cina. Sejak itu, para pedagang dan misionaris segera berdatangan ke Cina.
Pada waktu yang sama, kekaisaran besar Cina berangsur meredup. Pemerintahan Dinasti Qing (Manchu) mengalami banyak pemberontakan yang dimulai oleh para petani yang kelaparan. Pemberontakan Taiping (1851-1864) dipicu oleh orang-orang yang menginginkan agar lahan dibagi rata untuk semua penduduk. Kekuasaan asing ikut membantu meredakan pemberontakan ini karena menginginkan Dinasti Qing tetap berkuasa, sehingga perjanjian-perjanjian yang telah dibuat masih tetap berlaku.

Perang Boxer

Di bawah pemerintahan Dinasti Qing (Manchu) yang lemah, kekaisaran Cina tampaknya  akan pecah. Ketidakpuasan atas pengaruh Barat memicu Perang Boxer pada 1900.
Imperium Cina pada masa Dinasti Manchu yang lemah dan korup didominasi oleh persaingan antar-kekuatan Eropa. Banyak kelompok kuat berjuang menghalau pengaruh asing dari negeri mereka. Namun, bangsa Cina menyadari mereka harus meniru cara Barat dan mendirikan industri baru.
Tahun-tahun Penting
1898
Reformasi 100 Hari berakhir saat kaisar wanita Cixi berkuasa. Inggris menyewa Hongkong selama 99 tahun
1900
Kedutaan asing di Beijing dikepung oleh para pemberontak Boxer. Pasukan Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang mengakhiri pemberontakan. Ratu mengungsi ke Beijing
1905
Sun Yat-sen membentuk Partai Nasionalis Cina atau Kuomintang
1911
Angkatan bersenjata mendukung pemberontakan kaum nasionalis. Dinasti Manchu berakhir dan negara republik dideklarasikan. Sun Yat-sen menjadi presiden provinsial
Pada 1898, kaum reformis berkuasa untuk waktu singkat. Undang-undang baru dibuat untuk menjadikan Cina sebagai negara modern. Mereka ingin mengubah layanan sosial dan menangani masalah harian, bukan hanya bergantung pada teks kuno yang sudah ketinggalan jaman. Mereka mendirikan universitas di Peking (Beijing) dan mereformasi angkatan bersenjata. Namun, Reformasi 100 Hari berakhir ketika permaisuri janda, Cixi (juga dikenal sebagai Tz’u-his) berkuasa. Banyak kaum reformis tewas dieksekusi.
Pada 1900, pemberontakan dimulai di Cina bagian utara melawan seluruh orang asing, terutama orang Kristen. Aksi ini dipimpin oleh kelompok rahasia yang disebut Society of Harmonius Fist atau Boxer, yang secara rahasia didukung oleh Dinasti Manchu.
Berakhirnya Dinasti Manchu
Pada 1900, kaum Boxer menyerang kedutaan Eropa di Beijing. Mereka membunuh banyak orang Eropa, terutama para misionaris, termasuk orang Cina Kristen. Mereka menyandera sejumlah kedutaan Eropa selama 2 bulan. Pasukan internasional dibentuk dari gabungan pasukan Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Jepang, dan Rusia. Awalnya, unit kecil pasukan dengan persenjataan minim tidak mampu menguasai Beijing. Pada musim panas, pasukan kedua sukses membebaskan kedutaan.
Setelah memadamkan pemberontakan, pemerintah Cina tidak mampu mencegah campur tangan kekuatan asing. Mereka mendesak menghukum para pejabat yang terlibat dalam pemberontakan, membayar ganti rugi, dan mengizinkan pasukan asing berada di kedutaan besar. Golongan terdidik Cina mulai menyusun rencana untuk menggulingkan Dinasti Manchu.
Pada 1905, Sun Yat-sen mendirikan Partai Nasionalis Cina atau Kuomintang. Sejumlah rencana rahasia dan pemberontakan diatur oleh kelompok lain. Pemerintahan Dinasti Manchu terus kehilangan kendali atas negara. Pada 1911, seorang jenderal yang berkuasa, Yuan Shikai, memberikan dukungan kepada kaum nasionalis. Kekuasaan Dinasti Manchu jatuh. Pemerintahan republik dideklarasikan.

Perang Balkan

Negara-negara Balkan yang terletak di ujung tenggara Eropa telah lama menjadi kawasan yang bergejolak. Ketika Kekaisaran Ottoman Turki terpuruk, mereka mulai menginginkan kemerdekaan.
Ketika Imperium Ottoman terus menyusut, negara-negara Balkan di tenggara Eropa mulai menuntut kemerdekaan dan merasakan semangat nasionalisme. Mereka didorong oleh Rusia dan Austria-Hongaria, yang tidak menginginkan adanya kekuasaan lain meningkatkan pengaruh di sana.
Inggris dan Jerman mendukung Austria-Hongaria karena mereka tidak ingin Rusia mendapatkan akses ke pelabuhan-pelabuhan bebas es di Laut Mediterania dan Laut Hitam. Yunani adalah negara yang pertama kali memberontak. Yunani segera mendeklarasikan kemerdekaannya pada tahun 1829. Pada 1878, Serbia, Montenegro, dan Romania juga merdeka, sementara Bulgaria memperoleh pemerintahan sendiri. Austria-Hongaria menduduki teritori Ottoman, yaitu Bosnia dan Herzegovina pada 1908, sehingga wilayah ini tidak jatuh ke bawah kekuasaan nasionalisme Serbia yang sedang tumbuh di kawasan ini. Albania dan Macedonia tetap berada di bawah kontrol Ottoman. Ketika Italia menyerang teritori Turki, yaitu Tripoli di Libya pada 1912, ini menunjukkan betapa lemahnya kekuatan militer Turki. Perjanjian Ouchy memberi wilayah Tripoli ke Italia.
Perang Balkan I
Pada Maret 1912, Serbia dan Bugaria membuat perjanjian rahasia untuk bergabung menyerang Turki. Keduanya membagi teritori Imperium Ottoman. Liga Balkan yang terdiri dari Serbia, Bulgaria, Yunani, dan Montenegro, dibentuk pada bulan Oktober tahun itu. Pada akhir Oktober, semua anggota liga berperang melawan Turki.
Perang Balkan I berakhir pada 1913 dengan penandatanganan Perjanjian London, setelah dunia melihat bahwa Turki begitu mudah dikalahkan. Dalam banyak hal, Perang Balkan I hanya meningkatkan persaingan di antara negara-negara Balkan itu sendiri. Serbia dan Yunani menguasai Macedonia, sementara Bulgaria memperluas wilayahnya ke Laut Aegea.
Perang Balkan II
Albania mendeklarasikan kemerdekaannya sebagai kerajaan Muslim pada Desember 1912. Austria-Hongaria mendukung kemerdekaan Albania karena mereka ingin menghentikan perluasan kekuasaan Serbia ke Laut Adriatik. Penyelesaian damai membawa ketidakpuasan di antara para pemenang. Bulgaria memperoleh lebih banyak wilayah, tetapi Serbia menginginkan lebih di Macedonia. Tiga sekutu awal Bulgaria bergabung untuk menentangnya.
Tahun-tahun Penting
1829
Yunani mendeklarasikan kemerdekaan dari Turki
1878
Montenegro, Serbia, dan Romania mendeklarasikan kemerdekaan
1903
Peter I (1844-1921) terpilih sebagai Raja Serbia
1908
Austria-Hongaria menduduki Bosnia dan Herzegovina
1908
Bulgaria memproklamasikan kemerdekaan
1908
Ferdinand I (1861-1948) menjadi Raja Bulgaria
1912
Liga Balkan dibentuk oleh Serbia, Bulgaria, Yunani, dan Montenegro
1912
Perang Balkan I
1912
Perang Italia-Tuki berakhir dengan Perjanjian Ouchy
1913
Perang Balkan II
Perang Balkan II pecah pada Juni 1913, ketika Bulgaria menyatakan perang melawan Serbia dan Yunani. Romania dan Turki ikut bergabung melawan Bulgaria. Bangsa Bulgaria dikepung dan disergap. Pada bulan Agustus, Perjanjian Bucharest ditandatangani. Macedonia dibagi antara Serbia dan Yunani, sementara Romania memperoleh sebagian dari Bulgaria. Penyelesaian ini memperluas kekuasaan Serbia. Count Otto von Bismarck, kanselir Jerman, telah mengatakan (sebelum dua perang di Balkan pecah), bahwa perang utama berikutnya di Eropa akan disebabkan oleh, “beberapa hal bodoh di Balkan”. Dengan demikian, von Bismarck terbukti benar.

Zaman Unifikasi dan Kolonisasi

Dalam periode ini, terjadi perubahan sangat besar pada peta dunia, karena terbentuknya negara-negara baru atau beberapa negara bersatu. Afrika terpecah akibat penjajahan, sementara kekuasaan Cina mulai terkikis. Di wilayah Eropa, terjadi banyak revolusi. Amerika Serikat, Kanada, dan Rusia menduduki banyak wilayah di tempat-tempat yang jauh. Jalur kereta api, telegraf, kepal-kapal uap, membuat dunia tiba-tiba terasa kecil. Kota-kota baru seperti New York, Buenos Aires, Johannesburg, Bombay, dan Shanghai, menjadi pusat pada era global yang baru ini.
Di Amerika Utara, para pendatang berkelana ke barat dan menghuni wilayah luas yang telah diambil alih Amerika Serikat dan Kanada. Namun, pembukaan wilayah baru ini telah membawa banyak kesulitan bagi penduduk pribumi karena pola hidup mereka sehari-hari mulai terancam.
Di Afrika, perang agama memperkuat pengaruh Islam di kerajaan-kerajaan bagian utara. Para penjelajah dan misionaris Eropa mulai mengunjungi daerah di bagian tengah. Terdorong oleh keinginan untuk mengeksploitasi sumber daya alam Afrika, bangsa Eropa dengan cepat mendirikan sejumlah koloni di seluruh benua ini. Kekuasaan negara-negara dagang Eropa mulai berkembang.
Di Asia, bangsa Eropa menguasai India, dan Asia Tenggara, serta mulai berdagang dengan Cina dan Jepang. Ekspansi bangsa Eropa ke benua-benua lain tidak menghentikan konflik internal. Banyak perang terjadi antara negara atau kerajaan yang menginginkan kekuasaan atau wilayah yang lebih besar.
Asia
Cina dan Jepang mengalami masa sulit pada pertengahan abad ke-19. Para pedagang asing memaksa masuk dan di Cina timbul pemberontakan. Dinasti Qing (isolasionis) akhirnya tumbang pada 1911. Jepang mulai mengadopsi modernisasi Barat. Di India, Inggris berkuasa total, meski bukannya tanpa perlawanan dari bangsa India sendiri. Barat menguasai Timur. Bagi beberapa bangsa Asia, bekerja untuk orang Barat merupakan keuntungan. Namun, banyak penduduk Asia hanya menjadi buruh murah di perkebunan dan kota jajahan. Jaringan kereta api, para misionaris, tentara, dan pedagang membuka daerah pedalaman Asia. Meski dijajah, tradisi bangsa Asia tetap dapat bertahan dibanding budaya lain di seluruh dunia.
Eropa
Ini merupakan abad Eropa. Perang yang tak putus-putusnya di Eropa hampir berhenti. Pasukan mulai dipusatkan ke luar negeri, mengklaim wilayah lain dan mendirikan imperium di banyak tempat. Kota-kota industri bertumbuh besar, terhubung oleh jalur kereta api dan jaringan telegraf. Kekuasaan para politisi, kaum industrialis, dan kelas menengah bertambah besar. Kelompok-kelompok pekerja baru, yang terbentuk dari gerakan pekerja pertama pada 1905, memimpin revolusi pekerja (tetapi gagal) di Rusia. Pencapaian terbesar berasal dari bidang permesinan, ilmu pengetahuan, pemikiran, seni, dan penjelajahan dunia. Itulah sebabnya Eropa bertambah kaya. Di samping itu juga terdapat masa-masa sulit bagi sebagian masyarakat, yaitu terjadi kelaparan, pemogokan, kemerosotan ekonomi, dan emigrasi massal. Masa sulit ini akhirnya mendorong penemuan baru, yaitu sistem kesejahteraan sosial bagi kaum miskin.
Afrika
Para penjelajah yang pertama tiba di Afrika, lalu para pedagang, misionaris, gubernur, dan para administrator. Pada 1880-an, Eropa membagi-bagi Afrika dan mulai menguasai Afrika. Demam emas menjadikan Afrika Selatan kaya raya, yang diperintah oleh orang kulit putih. Perdagangan budak mulai dilarang, tetapi seluruh Afrika jatuh ke dalam eksploitasi dan pemerintahan Eropa yang terutama didominasi oleh Inggris dan Prancis.
Timur Tengah
Kekaisaran Ottoman mulai mengalami kemunduran, sementara orang Persia harus bertarung untuk menahan serangan Inggris. Timur Tengah menjadi terkucil, di mana aturan tradisional masih sangat mengekang dan jauh dari jalur perubahan. Namun, Timur Tengah juga berhasil terhindar dari kolonisasi.
Australia
Pendatang dari Inggris menguasai sebagian besar kawasan Australia. Jumlahnya terus bertambah melebihi populasi penduduk asli. Negara Australia dan Selandia Baru muncul di peta sebagai eksportir pangan, wol, dan emas.

Wednesday, September 18, 2013

Modernisasi Jepang

Di bawah kekuasaan keluarga Tokugawa, Jepang menutup diri dari dunia luar selama lebih dari 200 tahun. Pada awal abad ke-19, Jepang mulai menerima pengaruh luar.
Selama paruh pertama abad ke-17, penguasa Jepang memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan dunia Barat. Mereka khawatir para misionaris akan membawa pasukan Eropa untuk menginvasi Jepang. Itulah sebabnya mereka melarang hampir semua orang asing memasuki Jepang dan melarang orang Jepang meninggalkan negerinya. Akibatnya, dunia Barat tidak dapat mengapresiasi keindahan seni Jepang pada periode ini sampai pertengahan-akhir abad ke-19. Pada tahun 1853, Presiden Amerika Serikat ke-13, Millard Fillmore, mengirim empat kapal perang di bawah komando Komodor Matthew Perry (1794-1858). Ini adalah pelayaran bersejarah dari Amerika Serikat ke Jepang yang bertujuan membuka hubungan dagang dengan Jepang.
Kapal perang Amerika Serikat menurunkan jangkar di Teluk Tokyo. Ancaman kekuatan angkatan laut Amerika Serikat membantu membujuk Jepang agar memulai kembali perdagangan dengan dunia Barat. Orang Jepang kagum atas kapal perang Amerika Serikat dan mesin-mesin lain yang ditunjukkan Perry. Setahun kemudian, kedua negara ini menandatangani Perjanjian Kanagawa, di mana Jepang setuju membuka dua pelabuhannya, untuk berdagang dengan Amerika Serikat.
Tidak lama kemudian “perjanjian berat sebelah” Jepang dengan Inggris, Belanda, dan Rusia ditandatangani. Tokugawa dikritik oleh para lawan politiknya atas pendatanganan perjanjian itu dan juga atas banyak masalah lain yang tidak bisa diselesaikan.
Restorasi Meiji
Masyarakat mulai bosan dengan isolasi yang diterapkan keluarga Tokugawa dalam jangka waktu lama dan hampir total dari dunia luar. Akhirnya pada tahun 1868, kekuasaan Tokugawa dijatuhkan dan Kaisar Mutsuhito (Meiji) diangkat sebagai penguasa. Ketika mulai membuka diri terhadap dunia Barat, bangsa Jepang pun mulai memodernisasi negerinya.
Kendati ingin tetap memelihara tradisi, bangsa Jepang juga berusaha belajar dari negara industri di Barat. Mereka berubah dan mengadaptasi sistem pemerintahan dan sekolah Barat. Kemajuan di bidang pendidikan telah menjadikan Jepang sejak tahun 1914 menjadi salah satu penduduk paling berpendidikan di dunia. Mereka juga mulai mengekspor mesin dan menjalankan industri baru seperti pengolahan kapas. Banyak orang Jepang mengadopsi gaya busana Eropa. Mereka belajar memainkan alat musik Eropa dan berpakaian gaya Eropa. Pada saat yang sama, orang-orang asing berangsur belajar menghargai kesuksesan kebudayaan Jepang.
Dengan kemajuan di bidang industri, bangsa Jepang mulai melakukan ekspansi wlayah. Mereka mencoba mengambil alih Korea yang memicu pecahnya perang dengan Cina pada tahun 1894. Jepang juga berperang dengan Rusia menyangkut wilayah ini pada 1904 sampai 1905. Jepang akhirnya menduduki Korea pada tahun 1910. Ini menjadikan Jepang sebagai negara paling berkuasa di kawasan sekitarnya. Sejak tahun 1913, Jepang telah menjadi kekuatan besar industri, negara pertama di Asia yang mencapai kemajuan besar.

Memperebutkan Texas


Memperoleh kemerdekaan dari Spanyol pada 1821, Meksiko segera berkonflik dengan tetangganya, Texas, menyangkut kepemilikan lahan, dan memicu perang.
Pada saat Meksiko memperoleh kemerdekaan, wilayah perbatasannya terentang jauh ke utara, meliputi banyak area yang kini menjadi wilayah Amerika Serikat bagian selatan. Banyak penduduk Amerika Serikat bermukim di Texas yang merupakan bagian wilayah Meksiko. Pada tahun 1835, Texas mendeklarasikan kemerdekaannya. Penduduk Texas menunjuk Sam Houston (1793-1863) sebagai komandan militer. Ia menduduki kota San Antonio. Lawannya, Jenderal Antonio Lopez de Santa Anna, memimpin pasukan besar Meksiko memasuki Texas untuk menumpas pemberontakan. Ia mengepung Alamo dai pusat kota San Antonio. Ia merebut kota ini kembali. Davy Crockett (1786-1836), Jim Bowie, dan William B. Travis adalah para pejuang yang mempertahankan Alamo, yaitu gereja tua yang terkadang digunakan sebagai benteng. Pada pejuang Texas yang berjumlah 186 orang, dikalahkan oleh pasukan Meksiko yang berjumlah 5.000 prajurit selama 11 hari. Alamo dijadikan simbol keberadaan orang Texas selama perang melawan Meksiko.
Jenderal Santa Anna kemudian dikalahkan oleh pasukan Sam Houston pada pertempuran di San Jacinto pada tahun 1836. Texas lalu merdeka dan dikenal sebagai Lone Star Republic. Setelah beberapa tahun kemerdekaan, penduduk Texas memilih bergabung dengan Amerika Serikat. Pada tahun 1845, Texas menjadi negara bagian Amerika Serikat ke-28, dengan Sam Houston sendiri sebagai gubernur negara bagian. Ketegangan antara penduduk Texas dan Meksiko berlanjut ketika orang-orang Texas ingin memperluas wilayahnya.
Peperangan dan Perdamaian
Presiden Polk (1795-1849) mengirim pasukan ke Rio Grande untuk menginvasi daerah yang masih diklaim oleh Meksiko. Bangsa Meksiko menetang. Maka, pecahlah Perang Amerika Serikat-Meksiko. Pasukan Amerika Serikat menduduki Mexico City pada tahun 1847. Pasukan Meksiko kemudian menyerah. Perjanjian Guadalupe-Hidalgo pada tahun 1848 memberi Amerika Serikat teritori baru yang sangat luas termasuk negara-negara bagian modern seperti California, Nevada, Arizona, Utah, serta sebagian New Mexico dan Texas.

Memperebutkan Afrika

Dengan kekayaandan teknologi lebih maju, kekuatan utama Eropa mampu menaklukkan banyak wilayah di dunia dan mengklaimnya sebagai milik mereka.
Menjelang akhir abad ke-19, kekuatan Eropa tidak lagi saling bertikai untuk memperebutkan wilayah dan perdagangan di Eropa. Dengan kemunculan tiba-tiba pasukan Jerman di bawah kendali politik Otto von Bismarck, semua negara Eropa mulai melihat ke luar negeri untuk memperoleh keuntungan ekonomi. Negara-negara Eropa mulai berlomba mendirikan koloni masing-masing di Afrika. Proses ini kemudian dikenal sebagai “sengketa untuk memperebutkan Afrika”.
Inggris dan Prancis tidak diragukan memimpin perebutan kekuasaan ini, disusul oleh Jerman, Italia, dan Belgia. Terjadi banyak konflik antara Inggris dan Prancis atas koloni-koloni di Afrika bagian barat. Pada mulanya, Inggris sudah puas menguasai beberapa kota pantai dan pelabuhan. Namun pada akhir abad ke-19, Inggris telah mengambil alih seluruh wilayah yang kini adalah negara Ghana dan Nigeria, sekaligus mengontrol Sierra Leone dan Gambia.
Terusan Suez
Dibuka pada 1869, Terusan Suez dapat memangkas waktu tempuh perjalanan laut dari Inggris ke India, dari tiga bulan menjadi hanya tiga minggu. Ketika Khedive (Raja Muda) Mesir menghadapi kesulitan keuangan, Benjamin Disraelli, yang pada saat itu adalah Perdana Menteri Inggris, membeli separuh hak pengelolaan atas Terusan Suez pada 1875.
Hubungan Inggris dan Prancis memburuk ketika Inggris menduduki Mesir pada 1882 untuk melindungi kepentingan Inggris di tengah munculnya pemberontakan lokal melawan orang Eropa. Pada 1885, Jenderal Gordon dan banyak pasukan Inggris terbunuh ketika Mahdi, pemimpin di Sudan, mengambil alih Khartoum yang berada di tepi Sungai Nil Putih. Orang Italia menginvasi Eritrea (timur-laut Ethiopia), sementara Raja Leopold II dari Belgia menduduki Kongo (sekarang Zaire).
Ekspansi Berkelanjutan
Tahun-tahun Penting
1869
Terusan Suez dibuka untuk pelayaran
1875
Inggris membeli saham Mesir atas Terusan Suez
1876
Raja Leopold II dari Berlgia menguasai Kongo (Zaire)
1882
Inggris menduduki Mesir untuk melindungi Terusan Suez
1884
Negara-negara Eropa mengadakan pertemuan di Berlin untuk membagi-bagi wilayah kekuasaan Afrika
1885
Mahdi menyerang Khartoum dan menaklukkannya
1893
Prancis menguasai Timbuktu, Mali, dan Afrika bagian barat
1898
Inggris mengalahkan pasukan Mahdi di Omdurman
1899
Kekuasaan Inggris-Mesir di Sudan
1912
Kongres Nasional Afrika (ANC) dibentuk di Afrika Selatan
Perebutan kekuasaan atas Afrika menjalani proses resmi pada konferensi di Berlin pada 1884. Negara-negara Eropa membagi Afrika layaknya sebuah kue. Hanya Liberia dan Ethiopia, yang tetap merdeka, bebas dari kekuasaan Eropa. Kolonisasi di Afrika membawa dampak sangat besar bagi penduduk Afrika. Bangsa Eropa menguasai suatu daerah dengan membuat batas-batas wilayah baru tanpa memerhatikan batas wilayah negara Afrika yang sebenarnya. Bangsa Eropa juga memperkenalkan bentuk pemerintahan baru ke Afrika, tetapi hanya sedikit orang Afrika yang boleh ikut memilih. Keuntungan keuangan dari koloni di Afrika dibawa kembali ke Eropa. Orang-orang Eropa kerap mengambil alih lahan-lahan pertanian yang terbaik.

Lahirnya Komunikasi Jarak Jauh


Pada akhir abad ke-19, sementara mesin uap menaikkan kesanggupan kecepatan maupun jarak yang ditempuh kendaraan baik di darat maupun di laut, dengan jelas muncul kebutuhan sebuah sarana komunikasi langsung jarak jauh. Adalah suatu kebutuhan yang penting untuk berkomunikasi secara jelas dengan tempat-tempat yang begitu jauh dari pandangan mata, dalam pengertian bahwa komunikasi itu harus lebih cepat dari kecepatan kapal maupun kereta api kilat.
Pada tahun 1791, Abbe Claude Chappe (1763-1805) menyatukan dua kata menjadi sebuah istilah, telegraf optik, untuk menggambarkan digunakannya sederet menara untuk mengirim sebuah pesan yang kasat mata oleh satu menara dari satu menara sebelumnya. Sistem Chappe ini membutuhkan 120 menara berjajar yang mampu mengirimkan sebuah pesan antara Paris dan Laut Tengah dalam waktu kurang dari satu jam, yang berarti lebih cepat dari lari kuda tunggang yang tercepat.
Semua sistem ini bergantung pada sinyal-sinyal yang kasat mata. Telegraf merupakan sebuah trobosan dalam komunikasi karena ini memungkinkan terjadinya komunikasi instan antara dua orang yang tidak bertatap muka. Gagasan untuk mengirimkan pesan-pesan sandi dengan sarana listrik bermula pada awal abad ke-18. George Louis Lesage (1724-1803) di Swiss, tahun 1774, mengembangkan sebuah mesin yang meneruskan sinyal-sinyal dengan sarana kabel yang masing-masing mewakili setiap huruf dalam abjad. Sistemnya dilandaskan pada tulisan-tulisan karya seorang pencipta berkebangsaan Skotlandia yang misterius, yang dikenal hanya dengan nama “C.M”. Karya-karya tulis pencipta misterius ini diterbitkan pada tahun 1753.
Setelah upaya Lesage, banyak upaya lain dikerahkan untuk memperhalus bentuk telegraf. Upaya-upaya ini dijalankan oleh Chappe di Prancis, Carl Friedrich Gauss (1777-1855) dan Wilhelm Eduard Weber (1804-1891) di Jerman dan Alessandro Volta (1745-1827) di Italia. Berdasarkan uji coba yang dilakukan oleh orang-orang tersebut, beberapa saluran   telegraf eksperimen dibuat.
Akan tetapi, sistem telegraf yang pertama kali dapat digunakan dikembangkan oleh seorang pencipta berkebangsaan Amerika Serikat bernama Samuel Finley B. Morse (1791-1872). Morse juga merancang Kode Morse, yang terdiri atas serangkaian ketukan kunci yang membuat kontak listrik. Maka, setiap huruf dalam abjad terdiri atas sejumlah ketukan pendek (titik titik) yang digabungkan dengan kontak yang lebih panjang (garis minus), dan sistem ini menjadi “bahasa” universal untuk telegraf.
Morse pertama kali memperlihatkan telegrafnya kepada Presiden Martin Van Buren, 21 Pebruari 1838, dan menjelang tahun 1843, sebuah saluran telegraf komersial dipasang antara Washington dan Baltimore. Dalam waktu dua tahun, kebanyakan kota besar di Amerika dan Eropa dihubungkan dengan telegraf, dan pada tahun 1850-an, Inggris dan Swedia dihubungkan dengan Eropa daratan melalui sarana kabel bawah laut. Sementara itu, hubungan Eropa dengan Amerika dilaksanakan dengan sarana kaberl bawah laut, yaitu antara Newfoundland dan Irlandia. Dan, pada tahun 1858, Ratu Victoria mengirim sebuah pesan yang terdiri atas 90 kata kepada Presiden James Buchanan.
Lahirnya komunikasi instan jarak jauh mengubah cara pandang manusia mengenai waktu dan jarak secara mendasar. Setelah tahun 1838, “ukuran” dunia yang terlihat mata menjadi semakin kecil tatkala orang mampu mengirimkan informasi jarak jauh dengan cara yang lebih cepat daripada sebelumnya.