This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sunday, April 13, 2014

Amerika Serikat: Masa Antara Perang


Bahkan sebelum pecah perang di Eropa, Amerika Serikat telah menjalankan politik isolasi. Kebijakan ini menyebabkan negara tidak terlibat dalam urusan luar, kecuali jika dipandang perlu untuk mempertahankan diri. Keterisolasian secara geografis dan kesibukan dalam urusan domestik memungkinkan pemimpin Amerika Serikat untuk tetap tidak terlibat dalam persekutuan dengan negara-negara Eropa.
Ketika Perang Dunia I pecah di Eropa, sebagian besar penduduk Amerika Serikat ingin tetap netral. Presiden Woodrow Wilson menghabiskan periode 1914 sampai 1917 dengan mencoba melakukan mediasi antara negara-negara Eropa sedang berperang dan menjaga agar  Amerika Serikat tetap tidak terlibat dalam perang. Amerika Serikat baru ikut berperang pada 1917, setelah kapal Amerika Serikat diserang oleh kapal selam Jerman, U-boot (Inggris menyebutnya U-boat).
Setelah Perang Dunia I, keinginan melakukan isolasi semakin kuat. Pada 1919, Senat Amerika Serikat memutuskan untuk tidak bergabung dalam Liga Bangsa-Bangsa. Sejak awal 1920-an, ekonomi Amerika Serikat cepat pulih dari depresi sehabis perang. Produksi industri mulai tumbuh.
Pada 1920, Warren Harding (1865-1923) terpilih sebagai presiden. Ia menjanjikan “kembali ke keadaan normal” yang berarti Amerika Serikat tidak akan ikut ambil bagian dalam hubungan internasional. Ia juga membuat hokum dan aturan negara. Salah satunya, pelarangan alkohol. Ini menandai dimulainya periode Pelarangan di Amerika Serikat.
Pelarangan dan Gangster
Sebelum Perang Dunia I, Women’s Christian Temperance Union dan kelompok penentang lainnya memperjuangkan kebijakan Pelarangan. Mereka berpendapat bahwa alkohol adalah minuman berbahaya yang dapat menghancurkan kehidupan keluarga dan memicu tindak kejahatan. Usaha ini membuat Amandemen ke-18 ditambah ke dalam Konstitusi Amerika Serikat pada 1920. Amandemen ini berisi pelarangan industri manufaktur, perjualan, dan transportasi minuman beralkohol di Amerika Serikat. Banyak orang berpikir bahwa aturan ini akan mengurangi tindak kejahatan. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya. Para gangster mendirikan kedai minum yang disebut speakeasy, tempat mereka menjual minuman selundupan atau illegal. Perang terbukan antargeng menjadi pemandangan yang umum, sementara korupsi di lembaga penegak hokum kerap terjadi. Ketika disadari bahwa kebijakan Pelarangan ini tidak berjalan sebagaimana mestinya, Amandemen ke-21 disahkan untuk mengakhiri kebijakan Pelarangan pada 1933.
Lonjakan dan Kegagalan
Dengan berakhirnya Perang Dunia I, Amerika Serikat menarik diri dari panggung dunia dan melanjutkan kebijakan isolasi pada 1930-an, bahkan memperkenalkan kebijakan pembatasan imigrasi. Selama lonjakan ekonomi pada 1920-an, Amerika Serikat menjadi negara pertama di mana jutaan penduduknya mengendarai mobil, mendengarkan radio, dan dapat menyaksikan film. Masa ini merupakan pencapaian terbesar dalam bidang seni, termasuk pertumbuhan industri film Hollywood, dan kemajuan di bidang arsitektur. Garis langit New York terus berubah ketika semakin banyak gedung dibangun. Namun Raungan Abad ke-20 (Roaring Twenties), yaitu Era Musik Jazz, berakhir dengan runtuhnya bisnis dan ekonomi pada 1929. Untuk mengatasi pengangguran massal, Presiden Franklin Delano Roosevelt (1882-1945) menggunakan dana pemerintah dari pajak untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru guna mengatasi tingginya tingkat pengangguran.
Berakhirnya Kebijakan Isolasi
Presiden Roosevelt meneruskan kebijakan isolasi luar negeri hingga meletusnya perang di Eropa pada 1939. Kebijakan ini berakhir tiba-tiba saat Jepang menyerang Pearl Harbor, pelabuhan Angkatan Laut Amerika Serikat di Hawaii, Samudera Pasifik, pada 7 Desember 1941. Presiden Roosevelt menggambarkan 7 Desember sebagai “tanggal yang akan dikenang dengan kengerian”. Hari berikutnya, Kongres mengumumkan perang atas Jepang. Amerika Serikat ikut dalam Perang Dunia II dan politik isolasi pun berakhir.

Akibat Perang Dunia I


Kedatangan pasukan Amerika Serikat di Eropa pada 1917 memungkinkan Sekutu melancarkan serangan baru di Front Barat. Pada 1918, Rusia menarik diri dari perang, sehingga pasukan Jerman tidak lagi dibutuhkan di Front Timur. Sejak 1918, lebih dari 3,5 juta tentara Jerman bertempur di Front Barat. Pada bulan Maret, mereka berhasil menerobos parit dan bergerak menuju Paris. Prancis melakukan serangan balasan di bulan Juli. Pada bulan Agustus, tank-tank Inggris dapat melintasi garis pertahanan Jerman di Amiens. Ketika pasukan Amerika Serikat memasuki Prancis, Jerman pun menyerah.
Pada bulan Oktober, terjadi pertempuran di dekat perbatasan Jerman. Blokade laut menyebabkan kelaparan di Jerman. Pada 11 Nopember dini hari, Jerman menandatangani pelucutan senjata. Kaiser Wilhelm II diturunkan dari takhta. Pada “pukul sebelas, tanggal sebelas, bulan sebelas”, Perang Dunia I berakhir. Hampir 10 juta nyawa melayang dan lebih dari 20 juta orang terluka. Sebagian besar korban adalah pria muda. Keadaan ini menimbulkan perubahan struktur sosial di beberapa negara. Dampaknya, banyak wanita memperoleh lebih banyak persamaan dan kebebasan disbanding sebelum perang. Di banyak tempat, kaum wanita juga memperoleh hak untuk ikut memilih.
Perjanjian Versailles
Perang Dunia I secara resmi berakhir pada Konferensi Damai Paris yang pembahasannya berlangsung antara 1919 dan 1923. Semua negara yang terlibat dalam perang—kecuali Jerman—bertemu untuk menyusun perjanjian damai, tetapi yang paling dominan adalah Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Italia. Ada lima perjanjian lain yang disusun terpisah.
Isi terpenting dari Perjanjian Versailles adalah Jerman dihukum atas keterlibatannya membayar kompensasi yang sangat besar kepada Sekutu. Wilayah kekuasaan Jerman dikurangi dan sejumlah tujuh juta penduduknya dipindahkan dari wilayah kekuasaan Jerman. Selain itu, Jerman harus menyerahkan seluruh koloninya di luar negeri dan mengurangi pasukannya menjadi hanya 100.000 prajurit. Ekonomi Jerman runtuh, mengakibatkan hiperinflasi. Negara-negara lain juga menderita ketika mereka berusaha membayar utang yang dipinjam selama masa perang. Ini memicu timbulnya pergolakan politik dan ekonomi.
Perselisihan lanjutan dipicu oleh perubahan batas wilayah internasional di Eropa menyusul runtuhnya Kekaisaran Jerman, Kekaisaran Austria-Hongaria, Kekaisaran Rusia, dan Kesultanan Ottoman Turki.
Liga Bangsa-Bangsa
Konferensi Damai Paris juga menghasilkan Liga Bangsa-Bangsa, yang bertujuan menjaga agar dunia tetap aman dengan cara menyelesaikan sengketa lewat diskusi dan perjanjian. Liga ini gagal karena hanya memiliki sedikit kekuasaan setelah Amerika Serikat menolak bergabung dan masih terdapat persaingan di antara 53 negara anggota. Situasi ini memperlemah liga dan mengurangi pengaruhnya, sehingga menjelang akhir 1930-an, hanya sedikit negara yang memperdulikannya.

Adolf Hitler Membangun Imperium Jerman Ketiga (Third Reich)

Menyusul kekalahan Jerman pada tahun 1918, Kaiser Wilhelm II turun takhta dan melarikan diri ke Belanda. Jerman pun menjadi sebuah negara republik. Pemerintahan baru dipimpin dari kota Weimar, bukan Berlin. Sejak 1919 sampai tahun 1933, Jerman dikenal sebagai Republik Weimar. Pada pemilihan yang diadakan pada Januari 1919, Friedrich Ebert, seorang sosialis, menjadi presiden pertama. Di bawah pemerintahannya, Republik Weimar harus menerima persyaratan berat dari Perjanjian Versailles. Pada tahun 1922 sampai 1923, republik bertahan dari beberapa penggulingan, pertama oleh kaum komunis, kemudian melalui tekanan finansial, dan terakhir adalah revolusi politik yang dipimpin oleh seorang fasis Austria bernama Adolf Hitler (1889-1945).
Ebert wafat pada 1925 dan digantikan oleh Field Marshal Paul von Hindenberg (1847-1934) yang saat itu seudah berusia 78 tahun. Jerman bergabung dengan Liga Bangsa-Bangsa pada 1926. Depresi dunia terjadi pada 1930-an membawa masalah sosial dan keuangan besar bagi Jerman.
Munculnya Hitler dan Lahirnya Nazi
Pemilihan presiden berikutnya diadakan pada 1932, ketika Jerman berada dalam krisis ekonomi, dengan tingkat inflasi dan pengangguran sangat tinggi. Hindenberg terpilih lagi sebagai presiden, dengan Adolf Hitler, pemimpin Partai Nazi—Nationalsozialitische Deutsche Arbeiterpartei, Partai Buruh Nasional Sosialis Jerman—menempati posisi kedua. Di tengah banyaknya intimidasi dan kekerasan yang dipicu oleh para pengikut Hitler, Partai Nazi memenangi sebagian besar kursi di Reichstag (Parlemen Jerman). Von Hindenberg dengan enggan menunjuk Hitler sebagai kanselir pada 1933.
Ketika gedung Reichstag dibakar pada Pebruari, Hitler memegang kekuasaan darurat dan memerintahkan pemilihan ulang. Sejak April 1933, Hitler meraih kekuasaan absolut di Jerman, dan membentuk pemerintahan satu partai. Akibatnya, Jerman memutuskan untuk menarik diri dari Liga Bangsa-Bangsa.
Dalam peristiwa “Night of the Long Knives” pada Juni 1934, Hitler membunuh banyak lawan politiknya. Ketika Hindenberg wafat di bulan Agustus, Hitler diangkat sebagai Führer (Pemimpin) Third Reich (Imperium Jerman). Ia lalu melakukan pembalasan atas penindasan atas penghinaan yang diterima Jerman dalam Perjanjian Versailles dan menjadikan Jerman sebagai imperium yang kuat.
Anti-Semitisme
Menyalahkan Yahudi dan serikat pekerja atas persoalan yang membebani Jerman, Hitler dan Nazi pun mulai mengeksekusi mereka. Undang-Undang Nuremberg 1935 mencabut kewarganegaraan Jerman bagi warga Yahudi dan melarang mereka menikah dengan warga non-Yahudi. Banyak orang Yahudi dipaksa tinggal di ghetto (pemukiman kumuh) dan mengenakan bintang kuning sebagai tanda bahwa mereka orang Yahudi.
Dalam peristiwa Kristallnacht (‘Night of Broken Glass’) pada Nopember 1938, gerombolan Nazi menyerang property dan sinagoge orang Yahudi di seluruh Jerman. Sekitar 30.000 orang Yahudi ditahan, yang menjadi awal pembantaian besar-besaran kaum Yahudi di Jerman. Selama 7 tahun berikutnya, 6 juta orang Yahudi di seluruh Eropa dibunuh sebagai bagian dari rencana Hitler untuk memusnahkan ras Yahudi.
Ekspansi Militer Jerman
Pada 1935, Jerman mengabaikan isi Perjanjian Versailles yang mengharuskan Jerman melakukan pembatasan peralatan perang. Pada 1936, pasukan Jerman memasuki Rhineland, wilayah Jerman yang telah didemiliterisasi setelah berakhirnya Perang Dunia I. Jerman kemudian membentuk sekutu dengan fasis Italia dan penguasa militer Jepang. Pasukan Jerman juga terlibat dalam Perang Sipil Spanyol, di mana mereka mendukung kubu fasis yang dipimpin oleh Jenderal Francisco Franco (1892-1975).
Penggabungan Jerman dan Austria
Salah satu ambisi Hitler adalah mempersatukan Jerman dan Austria. Penggabungan ini telah dilarang oleh Perjanjian Versailles pada tahun 1919 karena Prancis dan negara lain berpikir bahwa hal itu akan membuat Jerman sangat kuat. Meski demikian, pada awal 1930-an, banyak penduduk Jerman dan Austria menginginkan persatuan kedua negara. Pada tahun 1934, kudeta Nazi di Austria mengalami kegagalan. Pada 1938, Hitler bertemu dengan Kanselir Austria, Kurt von Schuschnigg, dan mengajukan penawaran baru. Di tengah kekacauan dan ancaman dari pasukan Jerman atas negaranya, Schuschnigg setuju mengundurkan diri dan digantikan oleh Artur von Seyss-Inquart (1892-1946), pemimpin Nazi Austria. Artur meminta pasukan Jerman menduduki Austria. Hasilnya, persatuan kedua negara, disebut Anschluss, secara resmi diumumkan pada 13 Maret 1938.
Jerman mengancam Eropa Tengah
Hitler juga mengklaim sejumlah wilayah di Eropa yang banyak dihuni keturunan Jerman, yang dulunya diserahkan ke negara lain berdasarkan Perjanjian Versailles. Salah satu wilayah itu adalah Sudetenland di Cekoslovakia. Sebagai upaya menjaga perdamaian di Eropa, Perjanjian Munich ditandatangani pada tahun September 1938. Setelah penandatanganan Perjanjian Munich, Perdana Menteri Inggris, Neville Chamberlain, mengatakan, “Saya percaya bahwa sekarang adalah masa damai”.
Perjanjian ini memberikan wilayah Sudetenland kepada Jerman. Ini adalah bagian dari kelonggaran yang diberikan kepada Hitler, disebut sebagai “penenteraman”. Namun, itu tidak cukup bagi Hitler. Pada Maret 1939, pasukan Jerman menguasai seluruh wilayah Cekoslovakia. Muncul banyak protes atas tindakan Jerman ini, tetapi tidak ada sanksi apapun. Hitler ingin mempersatukan semua penduduk Jerman ke dalam Jerman Raya. Ini adalah bagian terpenting dari visinya tentang Imperium Jerman Ketika (Third Reich).

Friday, February 28, 2014

Revolusi Rusia

Pada permulaan abad ke-20, Kekaisaran Rusia merupakan kekaisaran terbesar yang membina kontak sepenuhnya dengan dunia. Meskipun demikian, kekaisaran ini juga merupakan sebuah tempat primitif yang terbelakang, yang nyaris tidak disentuh oleh Revolusi Industri atau pembaharuan-pembaharuan sosial yang begitu mempengaruhi Eropa sepanjang abad sebelumnya. Diperintah oleh sebuah dinasti yang otokratis secara total, yaitu Dinasti Romanov, rakyat Rusia makin hari makin gelisah.
Timbul pemberontakan pada tahun 1905 setelah Rusia mengalami kekalahan yang memalukan dalam Perang Rusia-Jepang, namuan Tsar Nicholas II (1868-1918) berhasil menekannya. Tahun 1914, Nicholas sekali lagi maju ke medan perang, kali ini melawan Jerman. Setelah pasukannya menderita kekalahan di medan tempur, situasi domestik mulai kisruh. Dengan persediaan makanan yang makin menipis, terjadi peningkatan kemarahan terhadap kaum kaya yang selalu menikmati gaya hidup berfoya-foya dengan mengorbankan kepentingan orang lain.
Kerusuhan
Setelah berkali-kali terjadi penjarahan makanan, tahun 1915 dan 1916, sebuah revolusi berskala penuh meletus pada tahun 1917, dan pada tanggal 2 Maret, Nicholas dipaksa turun takhta. Beberapa upaya—sekalipun gagal, dijalankan untuk membentuk sebuah pemerintahan baru. Kendati demikian, seluruh struktur sosial dan ekonomi dalam Kekaisaran Rusia akhirnya tumbang akibat beratnya beban yang harus dipikul dan ketegangan sebagai dampak Perang Dunia I. Sementara anarki dan kelaparan melanda bagian pinggiran negeri itu, Rusia menjadi lahan yang subur bagi doktrin sosialisme, yang dikhotbahkan oleh seorang akademis Jerman, calon ahli filsafat yang bernama Karl Marx (1818-1883). Marx mempercayai bahwa rakyat jelata seharusnya dapat menjadi kaya hanya dengan merebut tanah milik kaum kaya. Kelompok sosialis yang paling kejam adalah Bolseviks, yang juga paling terorganisasi. Kelompok ini dengan suara lantang menentang tsar. Ketika sebuah pemerintahan dibentuk oleh anggota Partai Demokrat Konstitusional yang dipimpin oleh Alexander Kerensky (1881-1970), kaum Bolseviks menyerang tsar juga. Pada 7 Nopember 1917, Kerensky ditumbangkan dalam sebuah kudeta berdarah dan Bolseviks merebut kekuasaan, mendirikan sebuah dewan yang dinamai Dewan Kepala Departemen Pemerintahan untuk memerintah Rusia. Kepala dewan ini, perdana menteri pertama dari Rusia pasca-kekaisaran, adalah Vladimir Ilyich Ulianov (1870-1924), yang dikenal dengan nama Vladimir Lenin, yang sudah menetap di Swiss ketika revolusi itu meletus.
Lahirnya Negara Komunis Pertama di Dunia
Pemerintahan baru Lenin menghadapi banyak lawan, namun dalam bulan Maret 1918, ia menandatangani sebuah perjanjian damai dengan Jerman dan mampu membawa pulang pasukan-pasukan yang setia untuk menjalankan rencananya dan menutup mulut mereka yang tidak sependapat dengan dirinya. Tanggal 17 Juli 1918, Lenin mengeluarkan perintah bahwa tsar yang dipecat dijatuhi hukuman dan ia pun mulai mengkonsolidasi kekuatan. Ia menyatukan semuah jajahan tsar terakhir menjadi sebuah kekaisaran baru, dan diberi nama Union of Sovyet Socialist Republics (USSR) atau Uni Sovyet pada tanggal 30 Desember 1922. Sebuah negara dengan satu partai yang dilandasi gagasan-gagasan Karl Marx, di mana Partai Komunis yang dipimpin Lenin memiliki semua kekuatan dan menguasai segala kekayaan dan tanah. Selama beberapa dekade berikutnya, jutaan nyawa dan sumber-sumber daya besar dikorbankan dalam upaya yang sia-sia untuk membenarkan sebuah eksperimen yang kejam di kalangan masyarakat yang membutuhkan waktu 70 tahun untuk mengakhirinya.

Revolusi Cina

Menyusul kejatuhan Dinasti Manchu pada tahun 1911 dan pendirian Republik Cina, negara ini terlibat dalam perang sipil yang berkepanjangan.
Pihak oposisi melaksanakan Revolusi Cina pada 1911 dan meruntuhkan pemerintahan Dinasi Manchu. Pemimpin revolusioner, Sun Yat-sen (1866-1925), diangkat sebagai presiden provinsial. Republik Cina didirikan pada 12 Pebruari 1912, sekaligus penurunan takhta pemerintahan imperial. Kepresidenan Sun Yat-sen tidak berlangsung lama, yaitu hanya tiga hari akibat kurang mendapat dukungan. Cina kemudian diperintah oleh pemimpin militer, Yuang Shikai, sampai wafatnya pada 1916, ketika situasi politik di negara itu mulai terpecah.
Para pengikut Yuang Shikai membentuk pemerintahan di Beijing sementara Partai (nasionalis) Kuomintang Sun Yat-sen membentuk pemerintahan tandingan di Kanton (Guangzhou). Sepuluh tahun selanjutnya, Cina terlibat dalam perang sipil. Terjadi demonstrasi mahasiswa menentang isi Perjanjian Versailles pada 1919, ketika Jepang mengambil alih koloni Jerman di Cina, yang memicu pendirian Partai Komunis Cina pada tahun 1921. Dengan bantuan Uni Sovyet, Sun Yat-sen mengorganisasi ulang Partai Kuomintang. Dalam kebijakannya, ia menginzinkan anggota Partai Komunis untuk bergabung. Ketika Sun Yat-sen wafat pada tahun 1925, kepemimpinan Cina dan Partai Kuomintang dilanjutkan oleh Chiang Kai-shek.
Perang Sipil Cina
Pada 1926, Chiang Kai-shek melancarkan ekspedisi melawan para tuan tanah di utara yang ingin menggulingkan pemerintahan nasionalis. Ekspedisi ini dibantu oleh Partai Komunis Cina. Bersama-sama, mereka mengalahkan para tuan tanah. Namun pada 1927, aliansi Komunis dan Kuomintang berakhir. Kedua kubu mulai saling bertarung. Pertempuran ini dikenal sebagai Perang Sipil Cina. Chiang Kai-shek menetapkan ibukota negara di Nanjing (Nangking) pada tahun 1927. Pada tahun yang sama, Chiang Kai-shek menghalau Partai Komunis untuk keluar dari Shanghai dan memaksa mereka melarikan diri ke perbukitan Jiangxi. Kaum Nasionalis mengklaim telah menyatukan Cina, meskipun sebenarnya mereka belum sepenuhnya menguasai seluruh negara.
Mao Zedong
Pada 1931, memanfaatkan pergolakan yang timbul di Cina, Jepang menduduki Manchuria dan mendirikan negara boneka Manchukuo pada 1932. Sementara itu, kaum komunis membentuk pemerintahan tandingan (Jiangxi Sovyet) di Cina bagian selatan pada 1931. Pada tahun yang sama, Mao Zedong menjadi ketua Jiangxi Sovyet. Partai komunis membangun angkatan bersenjata di Jiangxi, dan berhasil bertahan dari empat kali percobaan pengusiran oleh kaum Kuomintang. Pada Oktober 1933, Chiang Kai-shek melancarkan serangan besar melawan kaum komunis dengan tujuan memusnahkan mereka. Kaum komunis bertahan selama satu tahun. Lalu pada Oktober 1934, sekitar 100.000 anggota kaum komunis meninggalkan Jiangxi dan melakukan long march.
Akhir Perjanjian
Mao Zedong memimpin long march yang menempuh hampir 10.000 kilometer hingga mencapai Yan’an, Provinsi Shaanxi di Cina bagian utara. Perjalanan itu berlangsung sampai Oktober 1935. Hanya sekitar 20.000 dari 100.000 peserta dapat bertahan hingga tujuan. Long march ini menjadikan Mao Zedong (1893-1976) sebagai pemimpin kaum komunis Cina.

Perang Dunia I

Pembunuhan atas Pangeran Franz Ferdinand, pewaris takhta Kekaisaran Austria-Hongaria, di Sarajevo pada Juni 1914 menjadi pemicu konflik paling berdarah dalam sejarah umat manusia.
Merasa iri dengan perdagangan dan koloni Inggris, Jerman yang telah memiliki angkatan bersenjata terbesar di dunia, juga mulai membangun armada laut. Ambisi Kaisar Wilhelm II (1859-1941) adalah memperoleh lebih banyak koloni di luar negeri. Ambisi dan kebijakan politik luar negerinya yang agresif mengkhawatirkan negara Eropa lain. Beberapa tahun menjelang 1914, Inggris dan Jerman bersaing membangun kapal-kapal angkatan laut yang lebih besar dan lebih baik. Saat itu juga terbentuk persaingan di antara negara-negara Eropa atas perdagangan, koloni, dan kekuatan militer. Kekuatan-kekuatan Eropa kemudian berkelompok membentuk aliansi pertahanan.
Membentuk Aliansi
Sekutu utama adalah Aliansi Bertiga yang terdiri atas Jerman, Italia, dan Austria-Hongaria. Dalam sekutu ini, serangan atas satu negara anggota akan mendorong anggota lainnya bertindak mempertahankan diri. Kebijakan ini bertujuan membatasi setiap gerakan agresif Rusia di kawasan Semenanjung Balkan. Sekutu lainnya adalah Triple Entente, terdiri atas Inggris, Prancis, dan Rusia. Ini bukan sekutu militer, tetapi anggotanya setuju untuk bekerja sama melawan setiap agresi militer Jerman.
Awal Mula Perang
Perang dimulai ketika seorang Serbia, Gavrilo Princip, menembak mati pewaris takhta Kekaisaran Austria-Hongaria, yaitu Pangeran Franz Ferdinand dan istrinya di Sarajevo pada 18 Juni 1914. Peristiwa ini mendorong Austria mendeklarasikan perang atas Serbia pada 18 Juli, tepat sebulan setelah penembakan. Tsar Rusia, Nicholas II, memobilisasi pasukan negaranya untuk mempertahankan Serbia dari Austria-Hongaria. Sebaliknya, Jerman mendeklarasikan perang atas Rusia pada 1 Agustus. Pasukan Rusia dikalahkan Jerman di Tannenberg dalan pertempuran di Danau Masurian. Di selatan, pasukan Austria-Hongaria dikalahkan Rusia pada bulan September.
Perang di Dua Front
Jerman selalu takut pada perang dua front, sehingga mereka menjalankan operasi Schlieffen Plan. Disusun oleh Jenderal Von Schlieffen, rencana ini bertujuan untuk mengalahkan Prancis hanya dalam enam minggu agar Jerman dapat berkonsentrasi melawan Rusia.
Pada tanggal 3 Agustus, Jerman mendeklarasikan perang kepada Prancis, sekutu Rusia. Ketika pasukan Jerman memasuki Belgia yang netral, mereka menghadapi perlawanan gigih dari orang Belgia. Ini memperlambat rencana Jerman. Akibatnya, Prancis memiliki waktu untuk mengatur ulang pasukannya di bawah komando Jenderal Joffre.
Awal Perang di Front Barat
Inggris mengambil peran dalam Treaty of London (1839), berusaha untuk melindungi kenetralan Belgia. Di Belgia, Inggris mendeklarasikan perang kepada Jerman pada 4 Agustus. Inggris mempertahankan Belgia dan mengirim 100.000 Pasukan Ekspedisionari Inggris ke Prancis untuk membantu Prancis memperlambat gerakan Jerman di Mons dan Charleroi.
Meski demikian, dalam menghadapi serangan Jerman yang hebat, Jenderal Joffre mundur sampai ke belakang Sungai Marne. Di sini, pasukan Prancis berhasil menahan pasukan Jerman pada 8 September. Kedua kubu lalu membuat posisi bertahan berupa parit-parit yang digali mulai dari Selat Inggris sampai ke daerah perbatasan Swiss.
Selama perang, Inggris, Prancis, dan Rusia dikenal sebagai Sekutu, atau Kekuatan Sekutu. Jerman, Austria-Hongaria, Turki Ottoman, dan para sekutunya dikenal sebagai Kekuatan Tengah. Kedua kubu berlomba membuat lebih banyak senjata, termasuk gas beracun. Mereka menilai, penggunaan senjata-senjata tersebut akan mempersingkat perang. Nyatanya, perang berlangsung selama 4 tahun dan menjadi konflik paling berdarah dalam sejarah umat manusia. Diperkirakan biaya langsung dari perang ini sekitar 40 milyar poundsterling. Korban manusia pun sangat banyak, keseluruhannya sekitar 30 juta orang, terbunuh atau terluka.
Perang di Darat
Selama Perang Dunia I, pertempuran terjadi di beberapa area. Front Barat antara Jerman dan Prancis utara, dan Front Timur antara Jerman dan Rusia. Juga terdapat pertempuran di laut di Timur Tengah, di mana Kekuatan Sekutu menyerang Kekaisaran Ottoman. Di Afrika, pasukan Inggris dan Prancis menyerang koloni Jerman.
Di Front Barat, pasukan Prancis dan Inggris bersama dengan ribuan pria dari Imperium Inggris, menduduki jaringan parit dalam sejak September 1914. Di hadapan mereka, di seberang lahan beberapa ratus meter yang dikenal sebagai ‘tanah tak bertuan’, terdapat parit-parit yang dikuasai oleh Jerman. Jutaan nyawa melayang dalam pertempuran di Front Barat, termasuk di Ypres, Verdun, dan Somme. Salah satu yang terburuk terjadi di Passchendaele pada 1917. Pertempuran ini berlangsung di tengah hujan yang sangat deras, dan pasukan harus menyeberangi lumpur setinggi pinggang. Dalam 102 hari, gerakan maju Sekutu hanya sekitar 8 kilometer, korban jiwa mencapai 400.000 jiwa.
Selama 4 tahun, pertempuran di Front Barat tidak bergerak lebih dari 32 kilometer ke segala arah. Pertahanan berupa kawat berduri, senapan mesin, dan artileri membuat setiap serangan menjadi sia-sia. Tank, yang pertama kali digunakan pada 1916, dapat menghancurkan kawat berduri tapi belum dapat diandalkan. Pesawat udara lebih bermanfaat, digunakan untuk memata-matai pasukan musuh dan menjatuhkan bom. Front Timur berlokasi di antara Laut Baltik dan Laut Hitam juga memiliki parit-parit perlindungan di mana Rusia menyerah pada September 1914.
Perang Laut
Hanya terdapat dua perang utama di laut selama Perang Dunia I. Pertama terjadi pada 1914 ketika armada Jerman dihancurkan oleh Royal Navy (Angkatan Laut Kerajaan Inggris) di lepas pantai Kepulauan Falkland, sebelah tenggara Amerika Selatan. Pada 1916, pecah Pertempuran Jutland. Baik Inggris maupun Jerman mengklaim sebagai pemenang dalam pertempuran ini meskipun armada Jerman mengalami kerusakan yang lebih parah. Setelah pertempuran itu, 31 Mei 1916, Angkatan Laut Tinggi Jerman meloloskan diri dalam kegelapan dan kembali ke pelabuhannya di Kiel sampai perang berakhir, yaitu ketika Jerman menyerah kepada Sekutu.
Kapal-kapal selam Jerman yang disebut sebagai U-boat, menyerang lokasi perkapalan Inggris di Prancis. U-boat menenggelamkan ratusan kapal laut Sekutu, yang hampir membuat Inggris menyerah. Ketika kapal USS Housatonic tenggelam pada 1917, Amerika Serikat mengumumkan perang terhadap Jerman. Italia, yang awalnya adalah sekutu Jerman, membelot dan beralih membela Sekutu.
Amerika Serikat Memasuki Perang
Kedatangan pasukan Amerika Serikat di Eropa pada 1917 memungkinkan Sekutu melancurkan serangan baru di Front Barat. Pada 1918, Rusia menarik diri dari perang, sehingga pasukan Jerman tidak dibutuhkan lagi di Front Timur. Pada bulan Maret, mereka berhasil menerobos parit dan bergerak menuju Paris. Prancis melakukan serangan balasan pada bulan Juli. Pada bulan Agustus, tank-tank Inggris dapat melintasi garis pertahanan Jerman di Amiens. Ketika Amerika Serikat memasuki Prancis, Jerman menyerah.
Akhir Perang
Pada bulan Oktober, terjadi pertempuran di dekat perbatasan Jerman. Blokade laut Inggris menyebabkan kelaparan di Jerman. Pada 11 Nopember dini hari, Jerman menandatangani pelucutan senjata. Kaisar Wilhelm II turun takhta dan melarikan diri. Pada “pukul sebelas tanggal sebelas bulan sebelas”, Perang Dunia I dinyatakan berakhir. Hampir 10 juta nyawa melayang dan lebih dari 20 juta orang terluka. Keadaan ini menimbulkan perubahan struktur sosial di beberapa negara. Dampaknya, banyak wanita memperoleh lebih banyak persamaan dan kebebasan dibanding sebelum perang. Di banyak tempat, kaum wanita juga memperoleh hak untuk memilih.
Perjanjian Versailles
Perang Dunia I secara resmi berakhir pada Konferensi Damai Paris yang pembahasannya berlangsung antara 1919 hingga 1923. Semua negara yang terlibat dalam perang (kecuali Jerman) bertemu untuk menyusun perjanjian damai, tetapi yang paling dominan adalah Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Italia. Ada lima perjanjian lain yang disusun terpisah.
Isi perjanjian dari Perjanjian Versailles adalah Jerman dihukum atas keterlibatannya dalam Perang Dunia I. Jerman harus membayar kompensasi yang sangat besar kepada Sekutu. Wilayah kekuasaan Jerman dikurangi dan sebanyak 7 juta penduduk dipindahkan dari wilayah kekuasaan Jerman. Setelah itu, Jerman harus menyerahkan seluruh koloninya di luar negeri dan mengurangi pasukannya menjadi hanya 100.000 prajurit. Ekonomi Jerman yang runtuh, mengakibatkan hiperinflasi. Negara-negara lain juga menderita ketika mereka berusaha membayar utang yang dipinjam selama masa perang. Ini memicu timbulnya pergolakan politik dan ekonomi.
Perselisihan lanjutan dipicu oleh perubahan batas wilayah internasional di Eropa menyusul runtuhnya Kekaisaran Jerman, Austria-Hongaria, Rusia, dan Turki Ottoman.
Liga Bangsa-Bangsa
Konferensi Damai Paris juga menghasilkan Liga Bangsa-Bangsa, yang bertujuan menjaga agar dunia tetap aman dengan cara menyelesaikan sengketa lewat diskusi dan perjanjian. Liga ini gagal karena hanya memiliki sedikit kekuasaan setelah Amerika Serikat menolak bergabung dan masih terdapat persaingan di antara 53 negara anggota. Situasi ini memperlemah liga dan mengurangi pengaruhnya, sehingga menjelang akhir 1930-an, hanya sedikit negara yang memedulikannya.

Sejarah Penemuan Mobil

Kemajuan-kemajuan di bidang tenaga selalu dikaitkan dengan belokan-belokan dalam perjalanan sejarah budaya umat manusia karena semua kemajuan itu memperluas lingkup kemampuan kita untuk mempengaruhi hubungan kita dengan lingkungan. Adalah mesin uap James Watt—yang ditemukan pada abad ke-18—yang memberi kekuatan kepada Revolusi Industri abad ke-19. Adalah diciptakannya tenaga pembakaran internal yang praktis yang memungkinkan Revolusi Industri abad ke-20 memiliki pesawat terbang, mobil, pemotong rumput, dan mesin-mesin berbahan bakar yang lain.
Banyak upaya dilakukan untuk menghasilkan tenaga pembakaran internal pada awal abad ke-19, namun sebuah contoh keberhasilan yang pertama dibuat pada tahun 1860 oleh seseorang berkebangsaan Prancis kelahiran Belgia Etienne Lenoir. Sementara itu, pada tahun 1867, dua warga Jerman Nikolaus August Otto (1832-1891) dan Eugen Langen menciptakan sebuah mesin “yang menghembuskan udara” yang sangat memperbaiki efisiensi bahan bakar dalam menghasilkan tenaga pembakaran internal. Meskipun demikian, terobosan terhebat, dilihat dari sudut pandang efisiensi dan tenaga, adalah mesin 4-tak, yang menghasilkan empat putaran untuk satu kali pembakaran. Proses 4-tak sudah dirancang pada tahun 1862 oleh seorang Prancis Alphonse Beau de Rochas, namun ia tidak pernah membuat sebuah model tenaga pembakaran yang dapat dihasilkan dengan mudah. Adalah Nikolaus Otto yang berhasil dalam membuat dan memperoleh hak paten untuk tenaga pembakaran internal 4-tak yang pertama, tahun 1876.
Ditimbang dari kehidupan rata-rata manusia, ada sedikit keraguan bahwa mobil merupakan hasil ciptaan yang paling banyak mengalami perubahan secara mendasar dalam sejarah transportasi setelah roda atau ban. Prinsip yang medasari pembuatan mobil pertama adalah sesederhana ini: dari banyak jenis transportasi, pilihlah satu yang beroda, yang secara khas ditarik oleh kuda atau keledai. Lengkapi dengan sebuah mesin, kemudian diciptakan sebuah kendaraan transportasi pribadi yang digerakkan oleh baling-baling. Kendaraan berargometer tersebut dibuat di Jerman, tahun 1889, oleh Gottlieb Daimler (1834-1899) dan Wilhelm Maybach (1847-1929). Selain diberi gaya gerak sebesar 1,5 tenaga kuda, mesin 2-silinder, kendaraan tersebut memiliki empat persneling dan berkecepatan 16 kilometer per jam. Seorang Jerman yang lain, Karl Benz (1844-1929), juga membuat sebuah mobil berbahan bakar bensin pada tahun yang sama.
Mobil berbahan bakar bensin tetap membangkitkan rasa ingin tahun sepanjang sisa abad ke-19 dan hanya beberapa buah saja yang diproduksi di Eropa dan Amerika Serikat. Mobil yang pertama kali diproduksi dalam jumlah besar bermerk Oldsmobile, tahun 1901, di Amerika Serikat oleh Ransom E. Olds (1864-1950), sebuah pabrik mobil berbahan bakar bensin sejak 1873. Produksi massal mobil modern dan diciptakannya perakitan mobil sebagai industri modern adalah berkat jasa Henry Ford (1863-1947) dari Detroit, Michigan, yang membuat mobil berbahan bakar bensin yang pertama, tahun 1896. Ford mulai memproduksi Model T-nya pada tahun 1908, dan tahun 1927, ketika produksinya terhenti, lebih dari 18 juta mobil sudah dihasilkan oleh perakitan mobil itu.

Sejarah Teori Evolusi

Sepanjang sejarah, banyak upaya dibuat untuk menentukan dengan tepat kapan sesungguhnya dunia dimulai. Sebelum abad ke-20, teknik-teknik modern untuk menentukan tanggal tidak tersedia, sehingga para cendekiawan Barat bergantung pada Alkitab, yang tentu saja, memulainya dengan ulasan Kitab Kejadian mengenai pencintaan bumi. Dengan menghitung mundur dari kelahiran Isa Al-Masih (yang kemudian dikalkulasi sebagai tahun 0), cendekiawan-cendekiawan itu menghitung semua acuan yang menunjukkan rentang waktu dan menentukan bahwa dunia sudah diciptakan pada tahun 4004 SM. Dewasa ini, sebagian besar orang menerima gagasan bahwa dunia memiliki asal-usul yang terjadi 4,5 milyar tahun yang lalu dan merupakan bagian dari sebuah proses evolusi. Mereka yang menganut teori ini dikenal sebagai penganut teori evolusi. Orang yang memercayai Alkitab sebagai kebenaran yang harfiah dikenal sebagai penganut teori penciptaan.
Konsep ‘penciptaan’ dan ‘evolusi’ bertentangan satu sama lain, bukan mengenai masalah apa atau kapan dunia diciptakan, melainkan mengenai kapan dan bagaimana segala sesuatu yang lain diciptakan. Para penganut teori pencipataan dengan bentuk yang persis sama sebagaimana yang kita kenal hari ini dan bahwa mereka selamanya memiliki bentuk yang sama. Para penganut teori evolusi percaya bahwa sebuah spesies mampu berubah dari generasi ke generasi dan bahwa dua spesies yang serupa namun tak sama—singa dan harimau, misalnya—mungkin bisa memiliki nenek moyang yang sama jutaan tahun yang lalu. Gagasan yang terakhir, yang kelihatannya merupakan suatu gagasan yang biasa-biasa dewasa ini, boleh jadi sudah dinyatakan di Yunani sejak dulu kala, misalnya pada abad ke-5 SM. Tetapi, pada abad ke-19 sebuah teori evolusi yang dikembangkan secara penuh masih belum terdengar dan pasti tidak seorang pun mampu membuat rincian-rincian dari teori serupa ini.
Orang pertama yang memformulasikan teori evolusi secara rinci adalah seorang ahli biologi amatir berkebangsaan Inggris bernama Charles Robert Darwin (1809-1882). Sekalipun merupakan pelajar biasa-biasa saja di sekolah, Darwin baru saja lulus dari Cambridge ketika ia menerima kesempatan kerja tanpa dibayar untuk terlibat dalam sebuah ekspedisi penyelidikan mengenai alam selama 5 tahun yang sedang dikerjakan oleh sebuah kapal HMS Beagle. Kapal Beagle ini meninggalkan pelabuhan di Inggris pada bulan Desember 1831 dan kembali pada bulan Oktober 1836. Semasa pelayaran penjang itu, anak buah kapal menyelidiki Amerika Latin, Australia, Selandia Baru, dan pulau-pulau sepanjang rute itu yang tak terhitung banyaknya.
Dalam perjalanan inilah Darwin mulai menyelaraskan dan menyatukan teori evolusinya. Ia mendapati bahwa di pulau-pulau yang sangat jauh dari benua, seperti Kepulauan Galapagos (sebelah barat Amerika Selatan), misalnya, spesies-spesiesnya sangat berbeda satu sama lain dibandingkan jenis yang sama yang ditemukan di tanah daratan. Fakta ini mendorong Darwin untuk mengakui bahwa meskipun mereka betul-betul memiliki nenek moyang yang sama, dengan bergulirnya waktu, lingkungan-lingkungan yang asing telah mengakibatkan spesies-spesies itu berevolusi karena alam ‘menyeleksi’ tanaman-tanaman serta binatang-binatang yang paling selaras dengan lingkungan-lingkungan tertentu. Diperlukan waktu lebih dari 20 tahun bagi Darwin untuk memformulasikan teorinya hingga berbentuk lengkap, namun ketika bukunya yang diberi judul The Origin of Species akhirnya diterbitkan pada tahun 1859, karya tersebut secara mendasar mempengaruhi buku-buku pelajaran termasuk teori-teori biologi karena mengubah sudut pandang manusia mengenai sejarah dunia dan lingkungan di mana mereka menetap.

Unifikasi Jerman yang Pertama

Kini sudah jelas bahwa Jerman merupakan jantung Eropa dari segi geografis maupun industri, namun dari segi sejarah, eksistensi Jerman sebagai sebuah negara tunggal yang bersatu merupakan sebuah kejadian yang relative baru. Pada waktu pemerintahan Kekaisaran Romawi, suku-suku yang tergolong bangsa Jerman tetap berdiri sendiri-sendiri dengan teguh sekalipun bahasa mereka sama. Bahkan, setelah negara-negaranya bersatu di atas kertas sebagai bagian dari Kekaisaran Romawi Suci—yang selalu diperintah oleh seorang pemimpin boneka—mereka bertahan sebagai negara-negara bagian yang mandiri. Gelar yang amat seremonial ini disandang sampai tahun 1806, yaitu ketika Napoleon Bonaparte (1769-1821) membentuk sebuah konfederasi negara-negara Jerman sebagai bagian dari Kekaisaran Prancis yang diimpikannya. Ironisnya, konfederasi ini akhirnya menjadi alasan mendasar untuk menentang Napoleon. Pada waktu Napoleon dikalahkan di Waterloo (Belgia) pada tahun 1815, lebih dari 300 negara-negara bagian Jerman yang eksis di Abad Pertengahan sudah bergabung dan menjadi 39 negara bagian saja. Di antara negara-negara ini ada bangsa-bangsa yang kuat, seperti Austria dan Prusia, dan negara-negara lain yang lebih kecil, misalnya Bavaria (Bayern) dan Saxony.
Upaya Penyatuan
Meskipun demikian, upaya-upaya untuk menggabungkan Jerman setelah era Napoleon selalu menghasilkan persaingan antara Prusia dan Austria. Yang lebih unggul akan menjadi pemerintahan yang dominan di sebuah Jerman yang bersatu. Akhirnya, Prusia muncul sebagai yang paling kuat di antara negara-negara bagian Jerman, dan Austria tetap terpisah dari Jerman yang disatukan sejak itu, kecuali selama periode tahun 1938 sampai 1945, ketika Adolf Hitler (1889-1945) menyatukan keduanya.
Unifikasi
Orang yang paling bertanggung jawab untuk memetakan perjalanan unifikasi Jerman adalah Otto von Bismarck (1815-1898), yang ditunjuk sebagai duta Prusia untuk Bundestag (parlemen negara-negara bagian Jerman) oleh Kaiser Friedrich Wilhelm IV (1795-1861). Von Bismarck kemudian bertugas sebagai duta besar Prusia untuk Prancis. Pengalaman ini memberi ia wawasan-wawasan yang berharga yang berguna dalam menjalankan tugasnya dengan baik. Tahun 1862, adik dan sekaligus pewaris takhta, yaitu Wilhelm I (1797-1888) menunjuk von Bismarck sebagai Kanselir Prusia. Dikenal sekadar sebagai “Kanselir Besi”, von Bismarck terus menjalankan tugasnya sebagai kanselir pertama dari Kerjaan Jerman, yaitu dari tahun 1871-1890. Tahun 1866, von Bismarck memotori unifikasi untuk sebagian besar dari negara-negara bagian Jerman yang berada di bawah kekausaan Prusia.
Sementara itu, Louis Napoleon (1808-1873) (Kaisar Napoleon III setelah tahun 1852) ingin memperluas garis batas sebelah timur Prancis sampai Sungai Rhein dan memasukkan banyak negara bagian Jerman ke dalam Kekaisaran Prancis. Tanggal 19 Juli 1870, Napoleon III mendeklarasikan perang terhadap negara-negara bagian Jerman. Berkat perencanaan cermat von Bismarck, Prusia sangat siap untuk menghadapi serangan. Pasukan Jerman membuat serangan balik, dan tiba di Paris menjelang hari Natal. Perang Prancis-Prusia berakhir dengan sebuah kemenangan yang menentukan, dan Prusia kemudian memiliki kekuatan politis untuk menyatukan negara-negara bagian Jerman. Tanggal 18 Januari 1871, Kekaisaran Jerman diproklamirkan, dengan Otto von Bismarck sebagai kanselirnya.
Von Bismacrk akan tetap menjadi penguasa yang tangguh di balik takhta monarki paling kuat di Eropa daratan selama hampir 20 tahun. Jerman sendiri akan tetap bersatu sampai tahun 1945.

Serbuan Tambang Emas California

Adalah sebuah batu koral berwarna kuning yang ditemukan secara tak sengaja oleh seorang yang bernama James Marshall (1810-1885) yang mengawali migrasi massal terbesar dalam sejarah modern. Kecuali Perang Sipil Amerika, peristiwa penemuan itu merupakan sebuah peristiwa yang berlangsung paling lama dan menentukan kedudukan Amerika Serikat pada abad ke-19.
Selama beberapa dekade pertama sejak eksistensinya, Amerika Serikat sebetulnya hanya terdiri dari 13 koloni yang asli ditambah tanah-tanah di sekelilingnya yang merupakan ‘padang belantara’ Appalachia dan ‘bagian barat-laut’ dari negara dengan Great Lakes. Sekalipun ukuran negara tersebut hampir dua kali lipat pada tahun 1803 dengan dibelinya Louisiana dari Prancis, kebanyakan dari teritori itu merupakan sebuah wilayah besar yang belum terpetakan dan dikenal sebagai Padang Besar Amerika. Jauh di sebelah barat, Spanyol, dan (setelah 1821) Meksiko, menguasai negara-negara bagian di tenggara. Meskipun demikian, penguasaan Meksiko atas California menjadi makin dan makin lemah sementara pemukim-pemukim Amerika yang mengalir sedikit demi sedikit secara tetap terus memasuki Oregon maupun California. Tahun 1846, penduduk Amerika mendeklarasikan sebuah “Republik California” dan pada tahun itu pula Ameirka Serikat membeli Oregon dari pemerintah Inggris dan mendeklarasikan perang terhadap Meksiko. Dua tahun kemudian, tahun 1848, Meksiko menyerahkan California, bersamaan dengan wilayah-wilayah yang hari ini bernama Nevada, Utah, Colorado, Arizona, dan New Mexico, kepada Amerika Serkat. Pada saat itu, penduduk Amerika di wilayah tersebut sudah bertumbuh jauh lebih besar dibandingkan penduduk Meksiko.
Meskipun demikian, California masih jauh dari ‘peradaban.’ Akan tetapi, semua ini segera berubah. Pada 24 Januari 1848, James Marshall, seorang tukang kayu di penggergajian milik John Sutter di dekat Sacramento di kaki bukit Sierra Nevada, menemukan sebuah bongkahan emas yang sangat besar. Sebuah pencarian lebih jauh memunculkan lebih banyak bongkahan emas, dan tidak lama kemudian, frasa “ada emas di kaki bukit itu” bergaung di seantero bagian tengah California.
Pada tahun 1849, berita mengenai penemuan emas sudah mencapai Pantai Timur Amerika, dan Serbuan Tambang Emas California pun dimulai. Lebih dari 50.000 “orang pencari tambang emas” mengalir ke California, tiba di sana melalui jalan darat dan jalan laut setelah melintasi ujung Amerika Latin. Banyak bongkahan emas yang beratnya mendekati 45 kilogram ditemukan. Jumlah nilai emas yang digali dari pegunungan Sierra dalam waktu lima tahun pertama serbuan emas itu saja melebihi nilai dari jumlah emas yang dihasilkan bagian-bagian lain di dunia.
San Francisco, sebagai gerbang masuk ke tambang-tambang emas itu, terus bertumbuh sebagai kota yang penting dan pelabuhannya menjadi dikenal sebagai “Gerbang Emas”. Penduduk kota itu pun bertumbuh dari 800 sampai 25.000 jiwa dalam kurun waktu beberapa bulan. Dan ketika pada tahun 1850 California diakui sebagai anggota Union (Amerika Serikat), perserikatan negara bagian federal, penduduknya sudah dua kali lipat dibandingkan pada waktu emas pertama kali ditemukan di penggergajian milik Sutter. Gejolak-gejolak di bidang keuangan sebagai akibat dari serbuan tambang emas itu sangat mempengaruhi pasar uang di seluruh dunia. Perpindahan penduduk secara massal yang dipercepat oleh serbuan tambang emas mengubah jalannya sejarah Amerika untuk selama-lamanya dengan menciptakan, hampir dalam waktu semalam, sebuah peradaban Amerika di pantai barat benua itu.