This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tuesday, November 13, 2012

Sejarah Amerika Utara (500-1492)


Kota-kota pertama Amerika Utara muncul di lembah Mississippi pada abad ke-8. Di Colorado, orang Anasazi membangun desa yang disebut pueblo.
Tahun-tahun Penting
300
Pertumbuhan Kebudayaan Anasazi, Mogollon, dan Hokokam.
700
Pembangunan pueblo dimulai di wilayah barat-daya
800
Pertumbuhan pertanian di banyak kebudayaan
800
Pendirian kota-kota pertama di Mississippi
1000-1200
Kebudayaan barat-daya dan Mississippi mencapai puncak kebudayaan
1300
Kemunduran Kebudayaan Anasazi, Mogollon, dan Hokokam
1450
Kota-kota Mississippi ditinggalkan
1500
Orang Eropa mulai tiba di pantai timur
Kota-kota asli pertama Amerika Utara muncul di sepanjang Sungai Mississippi dan Ohio di negeri yang sekarang menjadi Amerika Serikat. Dikenal sebagai kebudayaan Kuil Gundukan, setiap kota memiliki satu alun-alun pusat dengan gundukan tanah berbentuk 20 bujur sangkar di sekelilingnya. Di atas gundukan tanah ini terdapat kuil-kuil bagi orang-orang mati. Sebuah alun-alun dikelilingi oleh pagar kayu. Di luarnya, sekitar 10.000 orang tinggal di rumah-rumah panjang dengan tembok yang terbuat dari lumpur kering dan beratapkan jerami. Penduduk berdagang di sepanjang sungai, kemungkinan membawa tembaga dari Wisconsin ke Meksiko. Mereka berburu untuk mendapatkan daging. Mereka juga menjadi petani yang menanam jagung, bunga matahari, buncis, dan labu. Mereka berperang dengan suku-suku seperti Algonquin. Mereka pertama menggunakan busur dan panah pada tahun 800. Kebudayaan Kuil Gundukan mencapai puncak pada abad ke-12, tetapi kemudian lenyap secara misterius pada tahun 1450. Di tempat lain, berbagai kebudayaan yang memiliki desa yang menetap berkembang.
Orang rimba Amerika di sebelah timur merupakan petani, pemburu, dan pedagang. Penduduk lembah Amerika, yang biasanya merupakan para pemburu banteng yang hidup berpindah-pindah, mulai membangun desa-desa pertanian di tepi sungai sekitar tahun 900. Di pantai Pasifik, ada banyak suku yang hidup sebagai peramu, pemburu, dan nelayan. Beberapa di antaranya telah hidup di desa yang menetap dan memiliki masyarakat yang cukup maju. Jauh di utara, suku pemburu Inuit bahkan telah berdagang dengan bangsa Viking sekitar tahun 1000. Suku-suku Cree, Chippewa, dan Algonquin di Kanada, tinggal dekat dengan alam dan jarang melakukan kontak dengan orang asing maupun pedagang.
Kebudayaan Pueblo
Di kawasan barat-daya, beberapa kebudayaan berkembang antara tahun 700 hingga 1300, di antaranya adalah Anasazi, Hokokam, dan Mogollon, pengdahulu orang Hopis modern. Mereka merupakan suku pedagang-petani yang hidup di kota-kota kecil. Setelah tahun 700, orang-orang ini pindah dari ‘rumah-rumah parit’ (lubang-lubang besar yang digali dan diberi atap) ke gedung-gedung besar bertingkat yang dihuni oleh banyak anggota masyarakat, beberapa di antaranya dihuni hingga 250 orang. Mereka membangun saluran pengairan serta bergantung pada ‘penjaga langit’, yaitu para dukun yang meramalkan hujan. Pada tahun 1300, kebudayaan unik ini lenyap.

Sejarah Agama Islam


Nabi Muhammad, penyebar agama Islam, lahir sekitar tahun 570 M di dekat Mekkah, wilayah yang sekarang adalah Saudi Arabia. Kedua orang tuanya meninggal ketika Nabi Muhammad masih kecil dan kemudian dibesarkan oleh kakeknya, Abdul Muthalib. Namun, kakeknya juga meninggal dunia. Nabi Muhammad kemudian diasuh oleh pamannya, Abu Thalib. Ketika masih kecil, Nabi Muhammad bepergian ke seantero Timur Tengah bersama pamanya, yang mencari nafkah dengan berdagang. Nabi Muhammad yang mulai berhubungan dengan banyak orang dan mulai mengenal gagasan serta adat-kebiasaan mereka, tertarik pada gagasan monoteisme yang dianut oleh orang-orang saat ini. Tahun 610 M, ketika tengah menyendiri di Gua Hira, di dekat Mekkah, Nabi Muhammad mulai mendapat serangkaian wahyu di mana Allah memerintahkan dia untuk menyebarkan agama-Nya kepada bangsa-bangsa yang menganut politeisme di semenanjung Arab. Nabi Muhammad juga mulai mempelajari Al-Qur’an, ayat-ayat yang berisi firman Allah.
Tatkala mulai mendapat pengikut, para pemimpin yang berkuasa di Mekkah mulai melihat Nabi Muhammad sebagai ancaman terhadap kekuasaannya. Akhirnya, mereka mengepung Nabi Muhammad dan banyak dari pengikutnya di satu sudut kota. Mereka mengancam akan dibiarkan kelaparan sampai mati kecuali Nabi Muhammad menarik kembali apa yang sudah dan sedang diajarkan dan pengikut-pengikutnya bersedia meninggalkan Nabi Muhammad dan ajarannya. Sementara itu, kedua golongan yang saling bersaing di kota tetangga, Madinah, tertarik pada Nabi Muhammad dan ajarannya. Nabi Muhammad memutuskan untuk hijrah ke Madinah pada 16 Juli 622. Tanggal dimana Nabi Muhammad melakukan perjalanan ini, menandai lahirnya Islam.
Dilindungi oleh para penguasa di Madinah, Nabi Muhammad membina sebuah pasukan yang bertugas menyebarkan agama Islam di kalangan bangsa-bangsa yang saling bersaing. Nabi Muhammad kembali menguasai Mekkah pada tahun 630 M, dan pada saat wafatnya, 632 M, pasukan-pasukannya telah “mempertobatkan” sebagian besar dari penduduk semenanjung Arab. Dalam waktu 10 tahun setelah beliau meninggal, proses ini sudah menyebar secara luas ke Persia, Mesir, dan seantero Timur Tengah. Menjelang pertengahan abad ke-8, wilayah kekuasaan yang diperintah oleh kaum Muslim dari segi politik maupun segi agama membentang dari Spanyol melewati Afrika utara melalui Timur Tengah dan masuk ke Asia tengah.


Renaisans Eropa


Kehidupan Eropa pada abad ke-14 sangat sulit karena terjadi perang, pemberontakan petani, dan wabah pes yang merajalela. Tatanan lama Abad Pertengahan ditinggalkan. Orang mulai mencari hal baru. Pada Abad Pertengahan, Gereja menguasai kesenian, pendidikan, dan ilmu pengetahuan. Orang menerima apa yang dikatakan kaum agamawan tanpa banyak bertanya. Kemudian, pada abad ke-14, para sarjana Italia mulai tertarik pada karya tulis bangsa Yunani dan Romawi kuno, yaitu berbagai pemikiran yang masuk ke Eropa dari Byzantium dan dunia Arab. Ketertarikan ini meningkat ketika, pada tahun 1397, Manuel Chrysoloras, seorang sarjana dari Konstantinopel, menjadi pengajar Yunani pertama di Universitas Florence, Italia. Para sarjananya menemukan bahwa berbagai filosofi kuno menjawab sejumlah pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh Gereja. Dari pendidikan mereka, berkembanglah sistem keyakinan yang disebut Humanisme, di mana manusia, bukan Tuhan, yang dianggap bertanggung jawab atas pilihan atau arah hidup manusia. Setelah jatuhnya Kekaisaran Byzantium dan Kekhalifahan Muslim Spanyol pada abad ke-15, banyak sarjana pindah ke Italia dan Eropa barat-laut. Mereka membawa serta banyak naskah dan pemikiran kuno.
Masa Puncak Renaisans
Renaisans memengaruhi kesenian dan ilmu pengetahuan, arsitektur, dan seni patung. Berbagai pemikiran menjadi lebih realistis, lebih manusiawi. Dominasi agama surut. Lukisan dan patung semakin mendekati aslinya, musik menjelajahi perasaan baru, sementara buku-buku mempertanyakan beragam masalah yang benar-benar nyata. Keluarga seperti Medici dan Borgia di Italia dan para burgher di Belanda menjadi para pelindung kesenian dan ilmu pengetahuan. Buku-buku yang dicetak membantu menyebarkan pemikiran baru. Renaisans mencapai puncaknya pada abad ke-16, terutama di kota-kota seperti Venesia, Florence, Antwerp, dan Haarlem. Orang semakin melihat dunia nyata. Mereka melakukan berbagai pengamatan ilmiah, mengumpulkan benda eksotis, dan mencari beragam pemikiran baru.
Semangat Penelitian Baru
Beberapa mempelajari tanaman dan hewan. Lainnya meneliti astronomi dan geologi. Terkadang, penemuan mereka menimbulkan konflik dengan Gereja. Ketika Nicolas Copernicus (1473-1543) menyadari bahwa bumi bergerak mengelilingi matahari, ia tidak berani mempublikasikan pendangannya sampai ia berada di ranjang kematian. Ia mengkhawatirkan reaksi Gereja yang tetap bersikeras bahwa bumi merupakan pusat alam semesta.
Semangat penelitian dan ketertarikan atas masalah kemanusiaan baru ini akhirnya mendorong beberapa orang mempertanyakan kewenangan Gereja. Para pemikir seperti Jan Hus di Bohemia dan John Wycliffe di Inggris dengan berani mulai mempertanyakan dominasi Gereja secara terbuka. Opini perorangan menjadi semakin penting. Para penguasa dan Gereja tidak dapat lagi berbuat sesukanya.
Kelahiran Dunia Modern
Tuntutan bagi perubahan menyebabkan kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan seni, bahkan mendorong beberapa orang berlayar untuk menjelajahi tempat yang belum dikenal. Universitas mendorong munculnya pemikiran baru. Uang dan perdagangan semakin penting. Makanan dan berbagai produk seperti kopi, tembakau, gula, kentang, porselen, dan katun dibawa ke Eropa dari Afrika, Amerika, India, dan Cina.
Tidak lagi terikat pada tanah dan feodalisme, orang mulai semakin banyak bepergian. Banyak orang pindah ke kota untuk mengubah nasib. Eropa barat-laut semakin penting. Kekuasaan perlahan beralih dari para bangsawan pejabat agama ke tangan para bankir dan politisi. Perubahan ini menandai dimulainya dunia modern yang berkembang dengan cepat selama 400 tahun berikutnya.


Reformasi


Kekuasaan yang tidak dikendalikan acap kali melahirkan korupsi, dan demikian juga yang terjadi dengan Gereja. Meskipun ada orang-orang gerejani yang saleh di intelektual, pelecehan agama meluas, sampai pada penjualan surat pengampunan dosa–ketika orang beragama diiming-imingi janji bahwa apabila mereka memberikan sejumlah uang kepada Gereja, mereka akan lolos dari murka dan penghukuman Tuhan. Semasa Pengadilan oleh Gereja Katolik Romawi di Spanyol, para penganut agama yang keyakinannya dinilai menyimpang dari kebijakan Gereja, akan disiksa dan dibakar.’
Menjelang abad ke-14, orang-orang saleh yang layak dihormati, seperti John Wycliffe (1320-1384) di Inggris dan John (Jan) Huss (1374-1415) di Praha, mulai berani membuka mulut untuk menentang praktek-praktek Gereja, dan sebuah arus ketidakpuasan yang terpendam muncul di kalangan Gereja sendiri. Situasi ini akhirnya mencapai puncaknya ketika pada 31 Oktober 1517, ketika seorang anggota ordo Augustine yang bernama Martin Luther (1483-1546) menempelkan sebuah dokumen di pintu masuk gereja istana di Wittenberg, Jerman. Surat ini, yang diberi judul The 95 Theses Against the Abuse of Indulgences [‘Sembilan Puluh Lima Dalil yang Menentang Surat Pengampunan Dosa’] menuduh Uskup Agung Albrecht dari Mainz telah melakukan kecurangan dengan menjual surat pengampunan dosa (diduga keras, uang hasil penjualan itu ia kantongi sendiri). Luther juga mengutuk praktek-praktek penjualan surat pengampunan dosa pada umumnya. Ia berharap dalil itu akan memacu debat yang sehat. Namun, ia justru dituduh sebagai bidaah (menentang ajaran Gereja). Luther dikucilkan dari Gereja Katolik pada tahun 1521.
Kaum Protestan Awal
Luther mendapatkan dukungan di Jerman dan Swiss. Ia kemudian mendirikan gereja sendiri, yaitu Lutheran. Kelompok lainnya, seperti Quaker, Anabaptis, Mennonit, dan Hussit Moravia, bertindak serupa. Setelah tahun 1529, semua aliran itu disebut sebagai Gereja Protestan. Ulrich Zwingli memimpin Reformasi di Swiss. Pandangannya yang lebih ekstrem menyebabkan pecahnya perang saudara yang menewaskan Zwingli sendiri. Zwingli diikuti oleh John Calvin yang memperoleh pengikut di Perancis, Jerman, dan Belanda. Calvin melembagakan Reformasi di Swiss dan memengaruhi John Knox untuk melakukan Reformasi di Skotlandia. Beberapa kelompok mengumpulkan semua harta bendanya untuk membentuk komunitas, yang kemudian mengambil alih kota.
Tahun-tahun Penting
1517
95 Tesis Luther ditempelkan di Wittenberg, Jerman
1522
Alkitab terjemahan Luther diterbitkan di Jerman
1523
Program Reformasi Zwingli dilakukan di Swiss
1530-an
Gerakan dan pemberontakan sosial kaum Protestan di Jerman
1534
Inggris memisahkan diri dari Gereja Roma
1540-an
Kalvin mendirikan Gereja Protestan di Jenewa, Swiss
1545
Konsili Trente pertama. Kontrareformasi dimulai
1562-1598
Perang Huguenot di Perancis
1566
Gereja Kalvinis didirikan di Belanda
1580-an
Meningkatnya ketegangan antara para penguasa Eropa
1618
Perang Tiga Puluh Tahun dimulai
Kontrareformasi
Pada tahun 1522, Paus Adrianus VI mengakui bahwa ada banyak masalah dalam Gereja Katolik Roma. Namun setelah kematiannya, tidak ada yang dilakukan hingga tahun 1534, ketika Paulus III menjadi Paus. Ini adalah tahun ketika Raja Henry VIII dari Inggris memisahkan diri dari Roma. Paulus kemudian mulai melakukan pembaharuan dalam Gereja yang dikenal senagai gerakan Kontrareformasi. Ia mulai dengan mendorong pengajaran dan penyebaran agama melalui sebuah ordo biarawan Italia yang disebut Kapusin. Enam tahun kemudian, ia menyetujui pendirian Serikat Yesuit yang didirikan oleh Ignatius Layola, guna menyebarkan agama Katolik. Ia juga menyelenggarakan Konsili Trente pada tahun 1545 untuk menetapkan pembaharuan Gereja lebih lanjut. Konsili Trente memutuskan untuk memperkuat kaul kemiskinan dan mendirikan berbagai lembaga pendidikan Gereja, seperti seminari, guna mendidik para biarawan, biarawati, dan imam. Semua ini mengarah pada kebangkitan kembali keyakinan Katolik dan perlawanan aktif terhadap kaum Protestan.
Namun, perselisihan agama di Eropa berkembang menjadi masalah politik ketika Raja Philip II dari Spanyol berusaha memulihkan agama Katolik di Inggris, Perancis, dan Belanda dengan cara kekerasan. Para penguasa lainnya kemudian harus memutuskan berada di pihak mana. Perang saudara pecah di Perancis, sementara kaum Protestan Belanda memberontak melawan kekuasaan Spanyol yang Katolik. Akhirnya, pecah Perang Tiga Puluh Tahun pada tahun 1618.